The Eyeless Pandora
Irgi
Gengs
besok habis makan siang
kalian ada kuliah lagi jam berapa?
Garin
jam 1 langsung ada kelas sih Gi
kenapa?
Kandi
Gue cuma ada kelas sampe jam 12
tapi ada mentoring maba abis itu
Irgi
Cakra sama Wigra?
Wigra
sama, Gi, jam 1 juga gue kelas
Cakra
idem
Irgi
Garin, Cakra, sama Wigra
sebelum masuk kelas
boleh ketemuan dulu nggak di Gedung D?
15 menit deh biar pada nggak telat
Cakra
Boleh, sekalian gue emang kelasnya di situ jam 1
Kenapa sih?
Garin
Bisa, bisa
eh tapi ada apa, btw?
Irgi
nggak asik gue ceritain di sini
Nanti aja ya
Wigra
fak
Kandi
Wigra kasar ya sekarang
Wigra
EH ANJIR
MAKSUDNYA GAK
GAK MASALAH
Irgi
hahahahahaha
ya udah, sampe besok ya geng
Cakra
kok gue curiga ya hmm
(read by 4)
***
Keesokan harinya...
Irgi dan Kandi lagi duduk sambil ngobrol di lantai dasar Gedung D ketika Cakra datang tergopoh-gopoh.
"Eh, sori, sori, tadi ngantri lama bayar makanan. Yang lain mana?" tanyanya seraya duduk di sebelah Kandi.
"Wigra di toilet, Garin bentar lagi katanya... tuh dia," Irgi melambai ke Garin yang baru muncul. "Nggak telat kan gue? Tadi abis dari tukang fotokopi," ujarnya.
"Santai, belom telat kok. Nggak lama juga lagian," jawab Irgi seraya merogoh isi backpack-nya, sementara Wigra yang baru kembali dari toilet segera bergabung.
"Nah, karena udah ngumpul semua, ada hal penting yang harus gue sampaikan," lanjutnya.
"Gue kemarin ke ruang rapat BEM, ada pertemuan sama BPH* semua himpunan jurusan kan. Lalu, divisi kesenian BEM ngasih gue undangan ini," Irgi menyodorkan sebuah amplop berlogo makara universitas mereka.
Kandi menerimanya dan membuka isinya. "Coba dibaca," kata Irgi.
"Kepada The Eyeless Pandora, perkenalkan, kami dari Divisi Kesenian Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas... ini gue skip aja ya?" tanya Kandi.
"Lanjut,"
"...akan mengadakan panggung akustik sebagai bagian acara Dies Natalis Fakultas. Untuk itu kami ingin me-mengundang The Eyeless Pandora?! Ini serius?" Kandi gagal menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Seriously? Beneran?" Garin mengambil kertas itu dari tangan Kandi dan mulai membaca, sementara Cakra dan Wigra mendekat untuk ikut membaca. "Ini kita disuruh tampil ceritanya, Gi?"
Irgi mengangguk. "Iya. Rupanya anak-anak BEM udah mantengin channel Youtube kita dari awal. Gue aja nggak tau, tiba-tiba disodorin ginian," kata Irgi.
Seingat Irgi, dia memang belum pernah cerita banyak deh, ke teman-temannya di organisasi kemahasiswaan soal The Eyeless Pandora, kecuali cerita sekilas saat band mereka baru terbentuk.
"Lo udah liat kan tanggalnya kapan? Masih lumayan lama, masih ada banyak waktu untuk persiapan. Gimana?" tanya Irgi akhirnya.
Garin menatap Irgi serius. "Gi. Lo kenapa nggak langsung iyain aja? Ini gila banget lho," katanya.
Irgi tertawa. "Ya kalo semuanya terserah gue sih, udah gue iyain dari kemarin. Tapi kan gue harus nanya ke kalian dulu," sahutnya.
"Iyain lah. Bungkus, Gi, bungkus," kata Cakra. "Tapi kita mesti bawain lagu beda dong ya dari yang udah ada di Youtube?"
"Jelas," jawab Kandi. "Itu masih lama, masih ada waktu buat liburan dan belom ada kuis-kuisan. Jelas gue bisa," kata Wigra.
"Ya udah kalo gitu. Nanti gue kabarin mereka," jawab Irgi. "Gi, bentar," Cakra menatap Irgi.
"Kenapa nggak dibahas di grup aja?" tanyanya. Irgi mengangkat bahu. "Biar gue bisa liat ekspresi norak kalian pas baca undangan ini. Komuk lo semua pada minta dicela ya kalo norak," jawab Irgi tanpa dosa.
"Setan."
BPH = Badan Pengurus Harian
small notes from the amateur ink slinger:
jadi, sesuai judulnya, yaitu Intermission alias jeda, cerita ini gue bikin murni buat penyegaran alias tarik napas. Kenapa? Karena, jujur aja, nulis dua part soal Wigra dan konfliknya sungguh nggak mudah dan cukup menguras emosi (alias gue lumayan baper pas bikin), jadi Intermission ini semacam refreshing untuk gue yang nulis dan semoga buat kalian yang baca. Hope you like it!
(a)
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
Short StoryLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
