Sekar
Mengenal Cakra itu satu hal; jadi orang yang dekat dengan dia, itu perkara lain. Setidaknya itu yang aku rasakan sejak kami punya status yang resmi sejak hampir tiga bulan lalu.
Waktu kami belum pacaran, aku cuma tahu Cakra sebagai temannya Kak Garin dan personel The Eyeless Pandora, suaranya bagus, dia jago main bas.
Lalu, lama-lama aku tahu kalau dia suka bikin lagu sendiri, punya kebiasaan lupa lirik kalau terlalu antusias di atas panggung, dan dia sangat suka makan.
Baru ketika kami pacaran, aku baru tahu beberapa hal lain soal dia; Cakra yang hobi power nap sepulang kuliah sebelum mengerjakan tugas kuliahnya sampai jauh malam. Cakra yang pernah berjualan pulsa di SMA untuk nambah uang jajan.
Cakra yang hampir tiap minggu kasih kabar ke orangtuanya di Surabaya. Cakra yang tatapannya seperti memindai lawan bicaranya saat diajak ngobrol. Cakra yang tidak lupa menggandeng tanganku kalau kami menyeberang jalan.
Dan... Cakra yang lebih banyak diam saat ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Seperti sekarang ini, saat kami bertemu di kantin, di tengah hujan rintik-rintik yang sepertinya jadi closing hujan deras di kampus sejak pagi.
Aku pernah liat muka Cakra yang begini saat dia mau presentasi di salah satu mata kuliahnya, serta dua minggu lalu saat jurusannya baru saja kalah dramatis di semifinal basket Olimpus, dengan dia sebagai salah satu pemainnya.
Lalu sekarang ini. Bedanya, kali ini aku nggak tahu apa yang jadi penyebab Cakra bisa pasang muka kusut seperti sekarang.
Ketika kami mengobrol atau ketika dia tersenyum dan tertawa menanggapi cerita-ceritaku, aku tahu pikiran Cakra sedang ada di tempat lain.
"Udah mau ngomong apa yang lagi kamu pikirin?" akhirnya aku bertanya begitu setelah dia menghabiskan bubur kacang hijau dan ketan hitamnya.
"Eh, nggak apa-apa, Kar. Lagi nginget-nginget aja barang apa yang mau dibawa balik," katanya.
Berhubung UAS jurusannya Cakra sudah selesai tadi siang, Cakra akan pulang untuk merayakan Natal di Surabaya, sekalian libur. Dia berangkat lusa naik kereta.
"Oh," cuma itu yang bisa aku katakan sebelum menyesap teh jahe pesananku.
"Tenggorokan kamu masih nggak enak?" dia melirik minumanku yang tersisa setengah.
"Udah enakan kok. Untung udah libur siaran ini. Aku sudah bebas sampe masuk semester baru,"
"Baguslah. UAS juga tinggal satu lagi kan? Abis itu bisa istirahat santai-santai di rumah,"
"Boro-boro. Aku belum pasang pohon Natal lho ini," kataku, teringat pembahasan dengan Mama dan Papa tadi pagi di rumah.
Tanganku bergerak mengguncang pelan tangan Cakra.
"Cakra,"
"Sekar," jawabnya sambil nyengir.
Hih. Bikin gemes amat sih orang ini. "Cak, pertanyaanku belom kamu jawab lho,"
"Yang mana?" dia mengernyit. "Coba, yang mana kira-kira," kataku, malas meladeni sikapnya yang pura-pura nggak tau.
Cakra tertawa pelan, lalu balas mengelus tanganku.
Tapi, melihat perubahan wajahnya saat hendak bercerita, aku tahu apa yang akan dia katakan akan jauh dari kata lucu.
"Gini, Kar..." katanya.
Tanpa sadar aku mencengkeram tangan Cakra setelah dia selesai bercerita.
Ya ampun.
Sebenarnya aku bisa aja menggugat kenapa dia nggak cerita dari awal. Tapi kayaknya dia nggak butuh denger itu sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
ContoLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
