Tabula Rasa (part 2)

2.1K 347 64
                                        

Gue menyikut Sekar pelan dan dia akhirnya mengangkat wajahnya. Melirik ke cowok itu di sebelah Garin, sebelum tersenyum. Tapi itu bukan senyum semringah yang biasa gue lihat.

Entah beneran atau mata gue yang salah liat, gue nggak bisa memastikan.

"Hai, Dinal," sapanya. Cowok itu juga hanya tersenyum sambil mengangguk kaku, sebelum mengalihkan perhatian ke Garin.

Sementara itu Irgi, Kandi, Wigra, dan Lyanna masih seru mengobrol dan menikmati performer Petang Syahdu.

Mendadak Sekar berdiri membereskan tasnya. "Cak, kayaknya gue duluan ya? Gue baru inget ada revisi tugas," katanya.

Spontan gue ikut berdiri. "Lho, kok dadakan?" tanya gue, sambil sesekali melirik cowok yang masih ngobrol dan tertawa bersama Garin.

"I-iya, soalnya tuh..." dia berhenti, mengambil napas. "Gue baru inget pas baca grup angkatan tadi. Bisa diamuk dosen gue besok kalo sampe lupa," dia melanjutkan.

"Lo naik apa?" entahlah apakah Sekar jujur soal tugas kuliahnya, tapi gue tahu kalo dia nggak mau berlama-lama di sini.

Dan gue nggak perlu susah-susah menebak alasannya.

"Biasa lah, panggil ojek," jawabnya. "Nanti lo nunggunya sendirian?" tanya gue. Dia mengangguk. "Nggak apa-apa kok, Cak. Kan kampus masih rame,"

"Hati-hati ya?"

Sekar tidak langsung menjawab; dia menatap gue beberapa saat sebelum akhirnya buka mulut. "Iya. Sukses perform-nya ya," ujarnya sebelum berpamitan kepada semua orang yang di sekitar kami.

Sebuah tepukan mendarat di pundak gue. "Kita udah dipanggil panitia, Cak. Yuk," kata Irgi.

Detik itu juga gue tahu gue harus mengalihkan fokus gue sejenak dari Sekar. Biar gimana, gue harus tetap memprioritaskan The Eyeless Pandora.

Gue mengikuti Irgi maju mendekati Tari. "Wah, kalo yang ini sih, kayaknya udah banyak yang kenal ya? Halo, The Eyeless Pandora!"

Irgi dan Kandi tengah bercakap-cakap dengan Tari saat mata gue tertuju ke halaman kantin. Sekar tidak lagi berjalan sendirian.

Ada Dinal di sebelahnya.

***

Gue langsung balik ke kosan setelah The Eyeless Pandora tampil. Awalnya gue pikir gue bisa seenggaknya main game di ponsel atau dengerin lagu sebelum tidur, sebelum mendadak Garin muncul di depan gerbang kosan gue.

"Gue kirain lo udah balik," kata gue saat menyilakannya masuk. "Minum?" gue menawarkan.

"Nah, I'm good. Gue lagi nunggu price surge taksi online kelar. Lagian lebih gampang kalo jemput dari sini, sekalian lah gue nengokin lo," kata Garin.

Gue mengernyit. "Gue nggak lagi sakit, Rin."

Dia menatap gue sejenak sebelum menggelengkan kepala. "Yakin? Because you were being weird, I can tell,"

"Perasaan lo doang,"

"Anak-anak juga bilang gitu," kata Garin akhirnya. "No, nggak ada satupun yang nyuruh gue ke sini buat kepoin elo. Irgi nggak bilang apa-apa, Kandi dan Wigra juga nggak. I came in peace," dia cepat-cepat menjelaskan sambil mengangkat kedua tangan.

Gue hanya mengedikkan bahu. "Suit yourself deh, Rin," gumam gue. Gue bisa merasakan tatapan Garin dan akhirnya menghela napas. "Oke, Rin. Spill it,"

"What?"

"Pasti ada yang mau lo omongin kan? Ngaku deh," kata gue. Cengiran Garin membuat gue yakin kalo dugaan gue bener. Ketahuan kan lo, Rin. "Ya udah, tapi jangan tersinggung ya?" tanyanya.

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang