Si Drummer dan Rahasianya (part 2)

2.7K 444 50
                                        

Apa kebandelan masa kecil yang paling lo inget? Kalo gue dulu sih, standar lah ya, main bola setelah pulang sekolah tanpa minta izin lebih dulu, narik kucir rambut temen sekelas sampe nangis dan gue diomelin guru, hingga contek-contekan sama temen sebangku.

Yang paling parah sih, gue pernah berantem di kelas dan harus dipanggil ke ruang guru BP, lalu dihukum Ayah sama Ibu nggak boleh main selama seminggu.

Tapi bahkan vonis itu rasanya nggak sebanding dengan ketika Ayah pulang, lalu bersama Ibu mengetuk kamar gue untuk membicarakan kegiatan yang gue lakukan di belakang mereka.

Bertahun-tahun jadi anak Ayah dan Ibu, baru kali ini gue nggak bisa menatap wajah mereka berdua.

Pun gue nggak menemukan kata-kata yang bisa gue ucapkan untuk menjelaskan semua.

"Ayah sama Ibu nggak akan sekecewa ini, kalau kamu nggak bohong," kata-kata Ayah semalam terulang sampe pagi ini.

Persis kayak lagu yang diputer on loop sama abang tukang sate di kantin kampus.

Dan setiap gue inget omongan Ayah itu, gue kayak ditampar keras-keras.

"Gra? Kok nggak diabisin makanannya?" suara Astrid membuyarkan lamunan gue. "Hmm? Eh iya, kenyang nih," gue menjawab pertanyaan temen seangkatan gue itu.

"Eh, ngomong-ngomong itu makalahnya bener nggak ada tambahan lagi?" gue dan Astrid baru saja menyelesaikan paper tugas kami di perpustakaan, yang selain njelimet, ternyata juga bikin kelaperan.

Iya, banyak mikir itu emang sama bikin lapernya dengan main drum.

Astrid menggeleng. "Nggak ada sih, paling gue cek-cek lagi kalo ada typo atau apa. Nanti biar gue print sama jilid abis ini. Lo langsung balik juga nggak apa-apa kok,"

"Beneran? Gue santai kok, nggak apa-apa kalo mau bareng juga," setelah pertemuan dengan Ayah dan Ibu, gue masih diizinkan pulang telat setelah menunjukkan obrolan WhatsApp dengan Astrid yang isinya janjian untuk menyelesaikan paper ini selesai kuliah.

Astrid menggeleng sambil menatap gue dan tersenyum kecil. "Nggak usah. Lo mending pulang deh. Muka lo seharian ini capek banget," katanya, lalu membereskan tasnya.

"Gra?" kami menengok. Cakra menghampiri meja kami, tetapi urung mendekat saat melihat gue dan Astrid masih berbincang.

"Duduk aja. Gue udah mau cabut kok," kata Astrid ke Cakra. "Nanti kabar-kabarin aja ya, Gra. Duluan," pamitnya.

Cakra langsung duduk di kursi yang ditempati Astrid tadi. "Cewek lo?"

"Temen sekelompok," gue menjawab cepat. "Lo tumben belom balik," kata gue. "Abis mentoring, trus beresin tugas," jawabnya, lalu melirik gue sejenak.

"Lo lagi nggak sakit kan, Gra?" tanyanya. Gue menggeleng. "Kenapa sih semua nanya gitu? Tadi Astrid juga bilang hal yang sama,"

"Karena gue, Garin, Irgi, sama Kandi liat, Gra. Kita semua pernah kok ngerasain jadi anak baru yang kaget ngadepin tugas sama kuis banyak banget. Gue aja suka heran lo masih kuat latihan dua jam padahal masih ada mentoring dan segala macem," kata Cakra.

"Ya, tapi kalo lo berempat bisa, gue juga mestinya bisa dong, Cak. Kan kita udah sepakat dari awal kalo..." kata-kata gue terputus saat melihat tatapan mata Cakra.

Tatapannya nggak kayak Irgi yang--kalo kata Kandi--mirip beruang kalo The Eyeless Pandora lagi serius diskusi. Tapi gue melihat Cakra saat ini pun nggak main-main.

"Gra, gue sebenernya nggak enak mau nanyain ini ke lo. Tapi setiap habis selesai latihan, gue selalu lihat lo kasak-kusuk blingsatan sendiri ngecek handphone lo. Nerima telepon juga harus jauh-jauh. Lo..."

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang