Senja Tanpa Jarak

1.9K 298 43
                                        

Tanpa sadar gue mengusap wajah. Setelah seharian ngampus, ketemu mentee gue, lalu latihan bareng The Eyeless Pandora baru berasa capeknya.

"Kenapa lo? Minum dulu nih," Garin menyodorkan botol air mineral yang baru diminum seperempatnya. "Makasih," gue meneguk isi botol tersebut.

Berhubung jadwal manggung di Bloody Mary, kami emang makin sering latian. Rencananya, hari ini dan lusa jadi sesi latian terakhir.

"Aduh, lapar. Cak, tukang pecel di deket kosan lo masih ada kan?" tanya Irgi sambil stretching.

"Masih kok, jam segini biasanya udah buka. Lo mau ke sana? Nebeng dong," jawab Cakra tanpa menghentikan aktivitasnya beres-beres bas dan segala perintilannya.

"Beres," kata Irgi. ""Ikut dong, gue juga lap.... eh, Ndi, HP lo bunyi nih," Wigra menyodorkan ponsel gue. Langit. "Bentar ya, gengs," gue segera keluar dari studio.

"Ya, Nggit," gue langsung menyapanya segera setelah menekan tombol Answer.

"Hai, Ndi. Aku udah di Jakarta," jawab Langit. Tanpa sadar gue tersenyum. Langit akhirnya pulang. "Welcome home, Langit. Kamu sekarang masih di bandara apa di rumah?"

Biarpun beberapa bulan lalu kami udah ketemu, gue selalu menghargai momen ketika kami bisa ada di kota yang sama. Kayak sekarang ini.

"Lagi jalan pulang sama Mama. Kamu di kampus apa di studio?"

"Di studio, Nggit. Baru kelar, abis ini paling makan dulu sama anak-anak,"

"Oh gitu. Eh, kamu besok kuliah sampe jam berapa?" tanya Langit. "Besok sampe jam 1 kayaknya. Kamu mau aku samperin?"

"Boleh aja sih... eh, bentar," gue bisa mendengar samar-samar Langit dan mamanya ngobrolin sesuatu. Sayangnya suara mereka terlalu jauh, jadi gue nggak bisa denger persis isi obrolannya.

"Ndi, Ndi," kata Langit ketika kembali ngobrol sama gue. "Besok datengnya maleman aja kali ya. Biar kamunya nggak capek juga. Aku soalnya mau pergi juga paginya sama Mama,"

Gue lagi-lagi tersenyum. Langit belum berubah. Selalu terencana dan teratur, bahkan sampai detail-detail kecil kayak gini. "Oke, nggak masalah. Yang penting ketemu kamu," jawab gue.

"Ih, bisa aja. Ya udah. Salam buat anak-anak The Eyeless Pandora ya, Ndi. Aku lanjut jalan ke rumah. Sampai besok,"

"Sampai besok, Nggit."

Muka gue pas balik ke studio pastilah udah nggak jelas, karena Cakra langsung geleng-geleng kepala. "Kenapa lo cengar-cengir? Menang lotere?"

"Nggak, nggak kok. Eh, pada mau makan, kan? Ikut dong," jawab gue sekenanya. "Berangkat lah. Kalo muka lo begini, tandanya ditraktir kan?" celetuk Garin.

"Ngarep aja terus,"

"Ah, Kandi galak ya sekarang. Wuwuwuwuwuw..."

"Garin."

"Garin."

"Garin."

"Garin."

***

Gue langsung menegakkan badan saat ngeliat Om Chandra, papanya Langit, membuka pintu rumah. "Sore, Om," gue menyapa sambil tersenyum seramah mungkin.

"Sore, Arkandi. Apa kabar?" sapanya. "Baik, Om. Om sama Tante gimana?"

"Alhamdulillah. Mau ketemu Langit ya?"

"I..." ucapan gue terputus saat melihat Langit keluar. "Hai, Ndi. Aku baru baca WA kamu. Belom lama kan?" sapanya. "Belom kok, Nggit," gue menggeleng.

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang