Tepukan halus di pipi membuat gue tersentak. "Gi... pulang yuk," gue langsung terbangun mendengar suara Lyanna.
"Ndi, boleh tolong ambilin minum deket tas gue?" Lyanna tidak melepaskan tatapan matanya saat menerima botol minum dari Kandi.
Gue mengerjap-ngerjap. Pusing. "Minum dulu," gue membuka botol yang diserahkan Lyanna dan meneguk isinya banyak-banyak. "Kamu kok ada di sini, L? Belom pulang?"
"Gue yang manggil, Gi. Sori. Abis kita serem pas tau badan lo panas. Makanya kita nggak berani bangunin," Cakra menyela seraya mendekat.
Lyanna memegang kening dan leher gue, lalu berjengit. "Dari tadi emang udah hangat gini badannya?" dia menoleh ke Garin, Cakra, Kandi, dan Wigra.
"Ya gitu, Ya. Tadi katanya mau merem bentar, tapi pas gue pegang tangan sama kakinya... wew," Garin menimpali. "Lo mau vitamin C, Gi? Gue ada nih," dia menyodorkan sebotol vitamin C ke gue.
Tatapan mata Lyanna seperti menyuruh gue untuk minum. Ya kalo gitu gue nggak bisa ngebantah deh. "Makasih ya, Rin," kata gue sambil menelan sebutir vitamin C dan meneguk air putih.
"Sori ya, gengs. Badan gue nggak enak banget," gue pelan-pelan mencoba bangkit.
"Eh, lo mau ngapain?" Cakra bengong. "Lanjut latian lah. Yuk," ajak gue. Para personel The Eyeless Pandora dan Lyanna menatap gue seolah-olah gue mengatakan kalo bumi itu datar. "Lo kenapa nggak pulang aja sih, Gi?" tanya Wigra.
"Tapi..."
"Udah, nggak apa-apa," Kandi menyela. "Latian kita udah lumayan kok. Mending lo istirahat daripada malah makin sakit."
Gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi, ditambah badan gue makin meriang. Lyanna mendekat. "Kunci mobil kamu mana? Biar aku yang nyetir."
***
Beberapa saat kemudian, mobil gue sudah melaju menuju kos-kosan gue setelah sempat mampir ke apotek buat beli beberapa obat.
"Kamu nggak mau ke dokter aja? Atau balik ke rumah?" tanya Lyanna.
"Nggak, L. Ini kayaknya aku masuk angin gara-gara kemarin telat makan," jawab gue. Kemarin gue cuma makan siang sedikit sebelum lanjut kuliah, ketemu mentee gue, lanjut rapat sampe jam delapan.
Balik rapat gue cuma sempet makan mie instan, karena cuma itu makanan lumayan berat yang masih ada di kantin.
Gue bisa mendengar Lyanna menghela napas.
Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya, dia mengusap pundak gue. "Mau dibeliin makanan apa? Sekalian mampir."
"Nggak usah. Nanti pesen aja," gue menyergah. "L..."
"Ya, Gi?"
"Nanti kamu pulang naik apa?" seinget gue dia harusnya pulang setelah ngasih sesi mentoring buat juniornya. "Naik bus, kayak biasa," jawabnya.
"Naik taksi online aja ya, L. Udah mau Maghrib lho. Aku kepikiran kalo kamu naik bus, banyak orang nggak jelas," ucap gue, lalu menjangkau tangannya.
"Ya udah, gampang, Gi. Sekarang anter kamu pulang aja dulu."
Kami sampai ke kos gue beberapa menit kemudian. Lyanna nggak mungkin masuk kamar gue, jadi kami hanya sampai di ruang tamu. Untung kosan gue sepi.
"Pesen makan dulu, gih, Gi. Habis itu obatnya diminum," katanya. Alih-alih menjawab, gue merengkuh tangannya supaya dia mendekat.
"Irgi..." gumam Lyanna. Gue tidak menjawab dan langsung memeluknya. Dia menepuk-nepuk pelan punggung gue. "Jangan gitu lagi ya, Irgi. Aku senewen jadinya," katanya saat melepas pelukan gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
NouvellesLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
