Saksi Mata (part 3)

1.5K 293 73
                                        

Gue terpana sejenak sebelum menyadari apa yang terjadi. "Cit, tunggu!" gue berseru sambil berlari mengejarnya menuju pintu keluar.

"Astrid, tungguin!" betapa leganya gue dia berhenti tepat di depan pintu masuk. Gue menatap punggungnya sambil mengatur napas. "Cit..." gue baru memanggil namanya ketika dia memandang gue.

"Lo balik aja Gra. Gue biar balik naik bus," katanya. "Gue belom sanggup ketemu nyokap," Astrid melanjutkan.

"Kenapa? Bukannya tadi lo bilang lo mau ketemu?" tanya gue. Astrid menggeleng. "Maaf ya, Gra, udah ngerepotin lo. Tapi pas di lift tadi gue mendadak ngerasa nggak bisa ketemu dia," jawabnya sambil menunduk.

Rambutnya yang sebahu menutupi wajahnya, tapi gue nggak bisa mengabaikan bahunya yang perlahan berguncang.

Gue menelan ludah. Beberapa kali gue melihat cewek di depan gue nangis, tapi gue nggak pernah perlu berbuat apa-apa.

Ketika ada temen cewek gue nangis, akan ada beberapa temen cewek gue yang lain yang akan mendekatinya, entah ngasih pelukan atau nanya ada apa. Sementara gue hanya jadi penonton pasif.

Kali ini nggak ada siapa-siapa di antara gue dan Astrid. Nggak ada temen cewek gue yang lain yang akan menenangkan dia.

"Cit, jangan nangis," gumam gue sambil pelan-pelan menyentuh bahunya. Lalu, tanpa gue duga, dia mendekati gue dan melingkarkan tangannya ke tangan kanan gue.

Belum sempat gue berkata apa-apa, Astrid sudah membenamkan wajahnya di bahu gue. Seiring dengan bahu kaos gue yang mulai basah, dia meneruskan tangisnya di sana.

Sampe kapan lo mau kayak gini, Cit?

Alih-alih ngomong itu, gue hanya menepuk-nepuk bahunya. "Yuk, pergi dari sini. Gue anterin lo mau ke mana,"

"Tungguin gue nyari taksi aja, Gra," jawabnya pelan.

"Ya udah."

***

Gue merapatkan jaket sambil berusaha keras berkonsentrasi ke paper di layar laptop. Hujan sore-sore begini ditambah AC perpustakaan sebenarnya godaan buat tidur atau nongkrong di kantin makan mie instan goreng.

Tapi kalo nggak nyelesaiin paper ini sebelum deadline jam 8 malem nanti, tamat riwayat gue. Untung tinggal dikit lagi selesai. Huft.

Gue sedang berpikir mau ngarang bebas apa lagi buat nutup paper ini ketika notifikasi ponsel gue berbunyi untuk kesekian kali.

Dari tadi ponsel gue udah bunyi-bunyi terus, tapi sengaja gue cuekin biar konsen.

Ya kali ini boleh deh gue tengok. Dan, eh buset, ini grup The Eyeless Pandora kenapa udah banyak gini notifnya?

The Eyeless Pandora

Garin
Guys
Guys
Woy buset gue dikacangin
Dikata gue bubur ayam kali ya

Kandi
Sori, sori tadi di kereta
Napa lo?

Garin
Kapan latian lagi?
Kangen nih

Kandi
Cie kangen
Jadi nggak enak

Garin
Kangen latihan, Pak

Cakra
Mohon maap
Seminggu ini kuis sama presentasi melulu

Irgi
Mohon maap seminggu ini kuis melulu (2)
Nanti kalo udah legaan gue kabarin ya
Ni gue juga masih di kosan temen ngerjain tugas
Buset kepala udah mau meleduk

The Eyeless PandoraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang