Kadang gue heran, kampus gue ini kok kayak nggak kenal libur ya? Okelah kalo hari Sabtu, gue paham karena perkuliahan program vokasi masih jalan di hari itu.
Tapi bahkan hari Minggu pun masih rame aja nih kampus sejak pagi. Mulai dari penduduk sekitar yang pengen lari pagi atau sepedaan di kompleks kampus gue yang emang gede banget, UKM yang latihan, sampe acara-acara kemahasiswaan kayak lomba, festival, you name it.
Gue sih biasanya males main ke kampus pas hari Minggu. Selain udah bosen di situ terus dari Senin sampe Jumat, gue lebih suka gegoleran di kos sampe siang, baru mulai jalan cari makan, ketemu temen, atau ngerjain tugas.
Tapi nggak dengan Minggu sore ini, ketika gue malah ada di Pusat Kegiatan Mahasiswa, yang sekarang lagi penuh sama dedek-dedek SMA yang mayoritas cewek.
"Sori, permisi," nah, tuh, salah satu rombongan cewek SMA baru aja ngelewatin gue. Alih-alih pake seragam SMA, mayoritas dari mereka pake kostum warna-warni senada dan modelnya juga sama satu sama lain.
Ya khas anak-anak mau ikut lomba dance gitulah.
Sebelum kalian nyangka gue mau ngeprospek cewek-cewek SMA, nggak kok. Gue dateng ke sini karena mau nonton klub tari modern kampus yang ngadain lomba ini.
Selain ngundang dan jadi penyelenggara, tentu saja mereka jadi performer.
Termasuk Hera. Tuh, dia lagi siap-siap di samping panggung, baru mau naik, with all her glory. Gue dateng juga karena memenuhi undangannya.
Tempo hari dia ngirim jadwal acara ini ke WhatsApp gue, pas gue lagi jalan sama Garin menuju technical meeting acara yang ngundang The Eyeless Pandora sebagai salah satu performer.
Tau kan, selayaknya para mahasiswa kalo bikin acara, jadwal dan detailnya disebar ke semua orang yang ada di daftar kontak ponsel. Tentu saja ada embel-embel "dateng ya Cak."
Di tengah kekepoan Garin, gue menjawab pesan tambahannya dengan: "wah seru. Dateng ah."
So here I am. Nggak ada motivasi apa-apa, cuma pengen main aja sekalian memenuhi undangan dia. Daripada gue mati gaya di kosan ya kan.
Gue nggak ngerti soal nari, apalagi modern dance, but I can see how good she was. Entahlah, energi dan antusiasmenya Hera tuh keliatan banget di tiap gerakannya.
Oh, dan gue udah pernah bilang kan Hera cantik? Entah karena riasannya atau karena ekspresi wajahnya, dia keliatan berkali lipat cantiknya hari ini. There's something about her I really like, but can't seem to put my finger on.
Tepuk tangan dan sorakan menggema di sekitar gue ketika Hera dan teman-temannya menyelesaikan routine mereka.
Gue tidak mau ketinggalan bertepuk dan bersorak. Hera melirik sejenak ke arah tempat gue berdiri, dan gue tersenyum.
"Good job," gumam gue.
***
"Lo nggak apa-apa nih melipir begini?" tanya gue satu jam kemudian.
Hera menggeleng. "Santai, gue udah minta ijin kok tadi," jawabnya. Gue sama Hera lagi ada di tempat makan nggak jauh dari PKM. Setelah Hera ganti pakaian, dia nyamperin gue.
Setelah ngobrol-ngobrol sejenak, dia ngajak gue makan. Kebetulan gue belom pernah nyobain tempat makan yang konon lebih enak dan hampir sama murahnya dengan kantin kampus gue.
"Enak, Cak?" tanya Hera sambil menatap piring berisi mie goreng gue.
"He-eh nih. Nih kalo kampus gue deket, gue pasti bakal bolak-balik ke sini sih," kata gue. "Lo sering ya makan di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Eyeless Pandora
Historia CortaLima laki-laki dan lima jalan hidup berbeda, dipertemukan dan saling menemukan dalam kelindan mimpi yang sama. Dengar mereka bercerita soal hidup, musik, cita-cita, cinta, luka, menerima, memaafkan, serta serangkaian perjalanan yang menempa untuk j...
