4 : : Tell Me, How Do You Feel?

4K 368 53
                                        

Jelaskan padaku, mengapa seseorang bisa cemburu?

~A Thousand Hearts for Veny

...

"Sekian perkuliahan hari ini, terimakasih."

Dari dalam kelas, Alvin mengembus napas panjang, tubuhnya masih saja ia daratkan di bangku berwarna cokelat panjang, tak lupa pula ia menopang dahi dengan telapak tangannya, memejamkan mata, tampak begitu kelelahan.

Kuliah baru saja usai, mahasiswa yang sudah tampak jenuh secepat mungkin berjalan meninggalkan ruangan.

Entahlah, Alvin tak pernah tahu, apakah ia harus menyesal untuk datang ke kampus hari ini ataukah tidak.

Jujur saja, jika ia menuruti kondisi badannya saat ini, mungkin ia akan lebih memilih untuk beristirahat di penginapan sekarang. Apa pun yang ia lihat sekarang seolah-olah berputar, perutnya terasa seperti diacak-acak, dan rasanya sedikit aneh dengan lingkungan yang tidak begitu panas dan tidak begitu dingin ini malah membuat tubuhnya berkeringat.

Keringat dingin.

Alvin semakin memejamkan mata dengan erat, seraya berusaha mencoba mengingatkan pikirannya bahwa tubuhnya baik-baik saja meskipun kenyataannya tidak, tapi bukankah sugesti juga bisa mempengaruhi kondisi tubuh?

Jika bukan karena Veny yang menelponnya, mengajaknya bertemu sehabis kuliah dengan suara yang girang, mungkin dirinya tidak akan sampai di sini. Untuk keluar dari penginapan saja rasanya sulit sekali.

Merasa keadaannya mulai sedikit membaik, secepat mungkin Alvin membalikkan badan, meraih jaket yang menyelimuti ranselnya, lalu mengemas buku-bukunya dengan cepat.

Mengingat jadwal perkuliahan Veny yang sudah usai terlebih dahulu darinya, membuat Alvin menyimpulkan bahwa cewek itu pasti sudah menunggunya di depan kelas.

Dan benar...

Alvin menghentikan langkah, memerhatikan Veny yang tengah duduk di bangku samping kelas, rambut panjang cewek itu terselip di kedua telinga sembari tersenyum, menyapa kepada orang-orang yang baru saja keluar dari kelas ini.

Alvin tersenyum jail, lalu duduk di samping Veny. "Cogan enggak ditegur nih?"

"Hmm?" Kedua alis Veny terangkat, lalu mengernyit, heran. "Cogan siapa ya Nat?"

Alvin mesam-masem, menyandarkan punggung ke arah dinding, seraya melipatkan kedua tangannya di atas dada, memperhatikan beberapa pot tanaman yang tertanam di depan kelas. "Tetangga sebelah Ven," jawab Alvin.

"Tetangga aku enggak ada yang namanya cogan Nat. Setahu aku anaknya uncle Bob namanya Jeremy. Kamu juga udah pernah main sama dia kan?"

Anak yang selalu menimpuk dirinya dengan bola. Alvin mengangguk datar, mengingat anak berusia 10 tahun itu senantiasa bermain bola kaki di sore hari.

"Cogan itu cowok ganteng Ven," tekan Alvin, geram. "Gue ganteng kan! Ya kan!" tanya Alvin lagi, kedua alisnya naik, kedua bola mata itu tampak memelas belum lagi ditambah dengan bibir bawahnya yang terangkat ke atas.

Diam-diam Veny tertawa pelan, wajah yang ia rindukan bila bertemu dengan cowok ini. Selalu tampak sok imut.

Veny menggeleng. "Enggak, Nathan bau. Veny enggak suka."

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang