Cinta. Bila ia dijaga, diberi kepercayaan, dan diberi perhatian serta pengertian maka akan selalu berakhir dengan indah.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Tak ada yang pernah merasa beruntung seperti ini. Memang pernikahan bukan akhir dari segala, bukan akhir dari cerita cinta yang berakhir dengan indah. Sesungguhnya, ketika itulah dua orang dihadapkan oleh ujian yang sesungguhnya, hidup bertahun hingga berapa lamanya, hingga menua dan tak dapat lagi berdiri tegak.
Kedua sudut bibir Alvin terangkat, cowok bermata bundar itu sesekali melirik ke arah Veny dengan dress putih panjangnya, raut wajah senang terukir dari wajah oval gadis itu.
Kedua tangan cowok berjas hitam itu terulur, bersalaman dengan para undangan yang bersedia meluang waktu untuk ke pestanya sejenak.
"Lirik cewek lo nanti aja, sekarang tamu yang harus lo utamain."
Alvin tersentak, begitu juga Veny. Kedua orang itu menoleh ke arah kanan. Veny, sudah Alvin duga, sudut bibir gadis itu selalu terangkat, sedangkan Alvin? Alvin mendengus begitu memerhatikan pemilik suara bass yang tak asing lagi di telinganya.
Bukan Papanya, bukan pula Papa Veny. Tapi ini...
Varengga Vernanda.
"Nathan..." tegur Veny, begitu melihat ekspresi tidak enak dari wajah Alvin. "Rengga sahabat kamu, Rengga tamu kita."
Sebeelah sudut bibir Rengga terangkat, lalu sedikit berteriak pasrah. "Ah... kapan ya, gue dipanggil lembut kayak gitu?"
Alvin tertawa pelan, memukul sebelah bahu Rengga dengan pelan.
Sama seperti dirinya dan Veny, setelah mengusaikan kuliahnya, cowok berambut gondrong itu kembali ke tempat kelahirannya dan memilih untuk mengembangkan usaha resto daging yang dibuat oleh Ibun dibandingkan mencari tempat kerja.
Karena yang Alvin tahu, Rengga mempunyai prinsip. Lebih baik membuka lapangan kerja dibandingkan mencari pekerjaan, apalagi bila mengingat begitu banyak saingan yang berondong-bondong untuk masuk mencari pekerjaan rasanya malah membuat cowok itu semakin malas.
"Makanya, cari cewek sana," suruh Alvin.
Rengga tersenyum puas, meronggoh hp di saku jasnya sejenak lalu menyodorkan foto seorang perempuan di sana, bukan foto Ibun. Tapi seorang cewek dan Alvin mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Alvin mengernyit. "Hanna?"
"Yep," jawab Rengga antusias. "Dia cewek gue sekarang. Lumayan dapat bule Inggris euy."
Sontak sebelah gepalan tangan Alvin mendarat ke puncak kepala Rengga. "Pikiran! Pergi aja sana lo kalau pacarin dia cuma pengen dapatin bule Inggris!"
"Ya enggaklah," balas Rengga. Tersenyum simpul, menahan kedua tulang pipinya yang tampak menahan malu.
"Entahlah saat gue bersama dia rasanya kayak gue bisa ikhlasin masa lalu gue, dia nerima gue apa adanya, dan bagusnya sekarang gue udah bebas dari antidepresan yang ngikat tubuh gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
General Fiction[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)