EXPART 1# : Little Family

2.5K 204 22
                                        

Karena hal terindah bagi setiap orang adalah berkumpul dengan keluarga.

~A Thousand Hearts for Veny.

...

Tebak, sudah berapa tahun dirinya hidup bersama Veny sekarang?

Tiga? Ya! Dan sebentar lagi akan menuju angka empat.

"Hoahhmm!" Suara bass  Alvin terdengar, cowok bertubuh tegap itu turun dari tangga masih mengenakan celana pendek dan kaos oblong putihnya.

Kedua mata bundar itu tampak sipit karena mengantuk, begitu juga dengan wajah yang sudah bisa dikatakan wajah bantal. Ya, setelah sering lembur mengurus perusahaan, baru malam tadilah Alvin dapat kesempatan bisa beristirahat sepuas-puasnya.

Alvin memejamkan mata, berjalan dengan langkah yang berat. Entahlah perutnya tengah kelaparan, dan mencium bau masakan dari dapur benar-benar membuat Alvin yang masih setengah mengantuk itu turun.

Veny.

Alvin tersenyum, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tanpa basa-basi lagi cowok itu melingkarkan tangannya ke pinggang Veny, seraya menopang kepalanya ke bahu gadis itu. "Masak apa Ven?" tanya Alvin berat, suara ciri khas bangun tidur.

Veny yang sibuk dengan masakan di hadapannya, kini memerhatikan kepala Alvin yang tertopang di bahunya. "Masak makanan kesukaan kamu. Kamu udah lapar?"

Alvin mengangguk, cowok itu memejamkan mata, semakin nyaman menopang kepalanya di bahu Veny. Veny menggeleng pelan seraya tersenyum, Alvin manja? Ya sudah tidak terelakkan lagi, bahkan cowok itu jauh lebih manja bila dibandingkan anaknya sendiri.

"Lapar tapi ngantuk, Nathan bingung mau makan apa tidur, makan sambil tidur boleh enggak Ven?"

"Cuci muka kamu Nat, malu sama Viny. Nanti dia bising lihat kamu belum mandi."

Alvin menoleh, memerhatikan anak perempuan berusia tiga tahun yang bermain di bawah meja makan, anak itu tampak seru bermain dengan lego-legonya, mulutnya menyerocos membiarkan imajinasinya berkeliaran bersama boneka-boneka kecil di sekelilingnya.

Alviny Auditya Manathan.

Kedua sudut bibir Alvin terangkat memerhatikan gadis kecil itu dengan jail. Panggilannya Viny, dan nama panjangnya pasti sudah tahu diambil dsri gabungan namanya dan Veny, naam tengah gabung dengan nama keluarga Veny dulu, dan terakhir sudah dipastikan nama keluarga yang dimiliki oleh Alvin.

"Viny!!" panggil Alvin, bukan suara bentakkan melainkan suara bass itu sepert anak kecil yang tengah mengajak temannya bermain. Alvin tersenyum jail, semakin mempererat pelukannya dengan Veny. Ingin sekali membuat Veny mengetuk kepala suaminya itu dengan sendok masaknya. "Lihat! Papa bisa meluk Mama! Papa bisa dekat-dekat sama Mama!"

Viny, anak kecil itu menoleh. Mata bundarnya yang mewarisi mata Alvin itu mengerjap. Wajah oval yang berasal dari Veny itu tampak tidak terima, bibirnya mengerucut.

"Papa!! Jangan dekat-dekat Mama!" ucap Viny, pipi gembul itu sekarang makin terlihat imut. Tak peduli, Alvin masih memeluk Veny, menjaili anak satu-satunya itu. "Papa bau! Piny enggak mau nanti Mama jadi bau!"

Dari dekapan Alvin, Veny tertawa. "Rasain kamu Nat."

"Papa wangi," jawab Alvin. Anak kecil itu menggeleng kuat, berjalan merangkak menjauhi meja makan, lalu berjalan mendekati Papa.

"Bau iler!" Viny mengembungkan pipi, berusaha menarik-narik kaki Papa supaya menjauh dari sang Mama. "Mama wangi, Piny suka bau Mama."

Alvin melepaskan oelukannya dari Veny, lalu melihat anak kecil itu dengan sebelah alis terangkat. "Bagian mana yang bau iler?" tanya Alvin.

Sebelum anak kecil itu berlari menjauhinya, secepat mungkin Alvin menggendong tubuh Viny. "Coba Viny cium Papa, pasti wangi kayak Mama."

"Papa bau iler," ucap Viny, namun tak dipungkiri pula anak itu menurut dengan apa yang dikatakan Papanya. Viny tersenyum puas. "Papa enggak kayak Piny, wangi."

"Masa'?" tanya Alvin.

"Kan Piny udah mandi enggak kayak Papa," ucap Viny, Alvin menggeleng pelan,  mencium pipi gembul itu. Entah sikap ke-PD-an dari siapa yang menurun kepada anaknya itu.

"Viny bau tepung kuenya Mama," jawab Alvin.

"Bukan tepung kue!" ucap Viny tidak terima. "Piny dibeliin Mama bedak yang ada gambar kartunnya loh Pa, terus di bawahnya ada gambar buah stroberi, kecil. Tadi Piny pakai itu."

Cerewet, manja, percaya diri, sudah jelas diturunkan oleh Alvin. Tapi untuk soal penampilan, kerapian, kelembutan, benar-benar diturunkan oleh Veny. Alvin tertawa pelan.

Masakan telah selesai, bau makanan benar terasa enak bagi Alvin. Alvin mèmerhatikan gadis kecil di gendongannya. "Viny udah makan?"

Viny mengangguk.

Veny menyiapkan piring, menyendokkan nasi untuk Alvin, Alvin yang masih saja berdiri di samping itu mencondongkan tubuh, memerhatikan anaknya seolah memberi isyarat yang hanya dapat diketahui oleh ayah dan anak itu.

Viny mengangguk begitu juga Alvin. Dengan cepat kedua orang itu mencium kedua pipi Veny dengan hangat.

Dalam cinta, memang tak ada hati yang tak terluka, tak ada  hati yang sempurna karena yang memiliki cinta adalah manusia. Namun jika pemilik cinta itu dapat melihat sisi positif dari rasa sakit yang dideritanya, ada kemungkinan bahwa ia bisa memiliki untuk selamanya. Jika tidak, mungkin lebih baik cinta itu menumbuhkan dirinya menjadi pribadi yang dewasa. 

___



A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang