48 : : Back My Heart

1.4K 154 74
                                        

Buka hatimu, terimalah aku, kuakan melindungi, menjagamu, hingga waktu hidupku berakhir

~A Thousand Hearts for Veny

...

Jet lag!

Mendadak kedua mata bundar Alvin tepejam erat. Mendaratkan kaki di atas aspal, baru saja turun dari ojek yang dipesannya. Sengaja ia tidak memilih taxi atau angkutan umum beroda empat lainnya, selain hemat biaya, dirinya sudah terlalu pusing, dan ingin cepat sampai  di rumah, memuntahkan seluruh isi perutnya sekarang.

Alvin menelan ludah, wajah yang tadi siang memang sudah tidak segar di Oxford, kini semakin parah begitu tiba di Indonesia, pucat, bulir keringat dingin mengalir di dahinya, belum lagi napasnya yang terengah.

Tak ingin menperlambat waktu, secepat mungkin Alvin membenarkan sandangan tas ranselnya, lalu masuk ke dalam halaman rumah yang dihiasi berbagai tanaman.

Perlahan kedua sudut bibir Alvin terangkat, memerhatikan sekeliling rumah. Tampak begitu indah, seingat Alvin bentuk rumah ini masih sama saat yang ia pertama kalinya, paling-paling hanya sedikit yang berubah.

Dan jika dugaannya benar, maka Veny akan datang ke sini.

"Alvin pul..."

Langkah Alvin terhenti seketika, sontak saja kedua matanya membulat, memerhatikan dalam rumah tidak percaya.

Tampak berantakkan. Beberapa barang tampak pecah berantakkan di atas lantai. Suara bentakkan dan teriakan dari Mama terdengar dari dalam.  Alvin mengernyit secepat mungkin ia  masuk ke dalam rumah. Hanya ada Alvan, Mama, dan Veny. 

Veny tengah berdiri di samping Mama, seraya mencengkram lengan perempuan itu. Sementara Alvan? Alvin berjalan mendekat, mencoba memerhatikan permasalahan, kembarannya itu benar-benar tampak kacau sekarang, coowk itu seperti tengah marah melihat apa yang terjadi di rumahnya.

"Alvin?" panggil Mama menoleh begitu juga Veny, dapat Alvin lihat gadis itu semakin menggenggam lengan Mama dengan erat. Berusaha mungkin Mama Alvin tersenyum. "Kamu pulang sayang."

Belum sempat Alvin menjawab, suara bass sinis terdengar di telinga Alvin, begitu tajam dan tampak tidak senang. "Masih ingat rumah lo? Ngapain pulang ke sini?"

Alvin mengernyit, memerhatikan Alvan, seraya membalas tatapan tidak senang itu. Dirinya yang baru saja sampai, sudah disambut dengan kalimat seperti ini dari kembarannya sendiri. "Gue kangen rumah, sama ada hal yang harus gue selesaikan di sini," jawab Alvin, kepala ia tolehkan ke arah Veny seraya menekankan kalimat terakhir.

Alvan tersenyum sinis, lalu menatap Alvin dan Veny dengan tajam. "Jangan sampai dengan ada kehadiran lo berdua makin memperusak kehidupan gue."

"Alvan!!" teriak Mama, membentak anak laki-lakinya itu. "Alvin sama Veny baru datang, tidak seharusnya kamu seperti ini!"

"Tidak seharusnya?" Alvan terenyum sinis. "Mereka yang seharusnya tidak perlu datang ke sini! Mama sudah sibuk! Papa sibuk! Dengan adanya mereka berdua Mama jadi jauh lebih sibuk kan! Dari kemarin mereka juga udah pergi! Ngapain pulang lagi! Mau nyusahin?"

"Van," panggil Alvin menggeram, mengepal sebelah tangannya erat. "Jaga ucapan lo, mereka berdua cewek, enggak seharusnya lo bicara kayak gitu."

Alvan tersenyum sinis, mengangkat sebelah alis, meremehkan. "Kalau gue mau apa salahnya? Mau mukul gue? Mau bangga-banggain prestasi lo di depan gue? Lo kaya, sementara gue pecundang sekarang? Lo bisa hidup dengan apa yang lo impikan sementara gue sebaliknya?"

Alvin mengumpat. Sayang, padahal seumur hidup sudah ia urungkan niat itu dalam-dalam. Untuk menahan sabar, dan tidak mengumpat, waktu bertahun-tahun lamanya. Tapi sekarang? Sungguh ia lelah, tubuhnya lelah, masalah Veny pergi secara mendadak sudah membuat dirinya hampir gila, lalu Alvan?

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang