21 : : Miracle

2.1K 232 27
                                        

Ketika ku mulai meragukanmu maka tersenyumlah, ketika ku mulai cemburu maka tersenyumlah. Karena pada nyatanya, senyummu bisa mematahkan pikiran buruk ku.

~A Thousand Hearts for Veny

...

Percaya dengan keajaiban?

Tidak. Seorang Alvinando Manathan tetap tidak akan percaya dengan keajaiban. Tapi entahlah di saat-saat seperti ini rasanya keajaiban dan takdir seakan bercampur menjadi satu.

"Nathan..."

Alvin mendongak, memperhatikan Mama Veny yang baru saja memanggilnya dari lantai atas. Kedua sudut bibir Alvin terangkat cerah seraya mendorong koper di tangannya.

Coba tebak dirinya dimana sekarang.

Rumah bertingkat dua, dinding putih dengan teras rumah yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman yang menghiasi setiap sudut rumah.

Dan yang terpenting...

Alvin tersenyum simpul memerhatikan gadis di depannya, rambut hitam yang tergerai itu tampak bergerak ke kiri dan kanan menaiki tangga.

Menyadari Alvin tak berjalan di belakangnya, Veny menoleh ke belakang, mengernyit. "Nat? Sini aku tunjukkin kamar kamu."

"Ha?" Alvin tergagap, tampak salah tingkah dan uh... secepat mungkin cowok itu menggenggam pegangan koper di tangannya lalu mengangkatnya menaiki tangga. "Iya Ven."

Ia pindah ke rumah Veny?

Ya, tepat sekali.

Setelah insiden dirinya hampir sekarat di penginapan seorang diri. Keluarga Pramaditya ini seolah-olah mencemaskannya, di rumah sakit saja tak henti-hentinya orang itu menemaninya, sungguh dirinya seperti Malika, kacang kedelai hitam yang sudah dianggap seperti anak sendiri.

Selain itu, Alvin juga tahu kenapa alasan dirinya bisa sampai di runah bertingkat dua ini.

Memang Papa Veny berulang kali mengajaknya untuk tinggal di sini, namun dengan alasan tidak ingin merepotkan keluarga itulah membuat Alvin menolaknya berulang kali pula.

Namun setelah ia berbicara serius dengan pria itu, ada satu hal yang tak bisa membuat ia menolak ajakannya. Pembicaraan yang terlalu serius bahkan dirinya nyaris tidak percaya mendengarnya.

Dirinya terlibat penuh dalam keluarga ini, bahkan masa depan perusahaan yang dikelola dan...

Anaknya?

Langkah Veny terhenti diambang pintu begitu juga Alvin. Mulut Alvin sedikit terbuka memperhatikan ruangan yang disebut kamar itu dengan tidak percaya.

"Ini kamar Nathan tante?"

Perempuan itu mengangguk, begitu juga Veny, cewek itu tersenyum manis, berdiri di belakang Alvin lalu mendorong punggung Alvin dengan pelan. "Ayo masuk Nat..."

Alvin mengangguk pelan, memasuki ruangan itu masih setengah tidak percaya, begitu luas dengan nuansa navy blue dan ada les putih di setiap dindingnya.

Untuk dirinya sendiri dengan kamar sebesar ini... sungguh rasanya agak aneh bagi Alvin.

"Veny!" Suara panggilan terdengar dari lantai bawah. Veny yang tadinya tengah membuka jendela kamar dan memperhatikan Alvin duduk di atas tempat tidur langsung mengalihkan pandangan.

"Veny ke bawah gih, papa panggil," suruh Mama, duduk di samping Alvin.

Veny mengangguk, kedua sudut bibir itu mengembang, begitu juga pandangan matanya yang begitu cerah, sangat cerah sehingga Alvin tak mampu membayangkan bagaimana sorot itu berubah menjadi sendu.

"Veny ke bawah dulu ya?"

Alvin mengangguk, begitu juga Mama.

Veny turun ke bawah. Hening seketika, perempuan paruh baya yang tadinya tersenyum lembut kini mulai tampak serius, kedua alis perempuan itu terangkat, seakan meminta sesuatu.

Alvin menyapu wajah dengan kedua telapak tangannya sejenak. Tampak bingung.

"Nathan, kamu bisa tolong tante sama om kan? Kamu yang bisa kami andalkan, kami percaya sama kamu."

Alvin mengangguk, kepalanya ia tundukkan sejenak lalu memerhatikan wajah perempuan paruh baya itu. "Nathan takut kecewakan Veny te."

"Enggak Nat," Perempuan itu tersenyum tulus, menggeleng pelan. Sama dengan senyuman yang selalu ditujukan Veny. "Kamu pegang terus komitmen kamu, kamu terus berusaha, kami minta tolong ya jaga Veny untuk om sama tante ya?"

"Tante..." Kedua alis Alvin terangkat, sungguh ia benar-benar tidak tega bila melihat kedua mata sendu Veny. Melihat cewek itu menangis tempo hari di rumah sakit saja rasanya ia harus menahan napas. Bagaimana dengan ini?

"Tapi tante sama om juga harus berusaha, tante sama om enggak boleh putus asa."

"Iya Nathan," ucap peremouan itu lembut. "Kita semua sama-sama berusaha ya?"

Kedua sudut bibir Alvin terangkat, mengangguk. Perempuan itu menarik napas panjang, bangkit dari duduknya lalu memerhatikan pemandangan luar dari jendela, langit jingga membentangi kota Oxford. Dari bawah langit tersebut tampak beberapa orang lalu lalang berjalan kaki dan ada pula yang mengenakan sepeda.

"Veny beruntung bisa miliki orang seperti kamu."

"Tidak," sanggah Alvin cepat, bangkit membuka koper mencoba menyusun barang-barang di kamar ini.

"Sayalah yang beruntung bisa memiliki anak tante."

Perempuan itu tertawa pelan, membalikkan badan, berjalan keluar dari kamar. Langkah itu terhenti sejenak di ambang pintu. "Nathan, nanti kalau sudah selesai beres-beresnya kamu turun ke bawah, kita mau siap-siap makan malam."

Alvin mengangguk. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat tulus begitu meletakkan foto dirinya dengan Veny di atas meja kecil.

Diusapnya foto itu perlahan, terutama gambar Veny. Ya, dirinya lah yang beruntung bisa memiliki Veny. Tanpa cewek itu... entahlah, ia yakin dirinya tidak mungkin bisa menginjakkan kaki ke kota ini.

Baiklah, apapun keadaannya. Seorang Alvinando Manathan berjanji untuk menjaga gadisnya dengan baik.

___

Up : 06.04.18
Next : 11.04.18

Agak cepetan biar enggak kelupaan jalan ceritanya 😂😂

Thanks for reading, i hope you enjoy it ^^

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang