Tangis tak selamanya menjadi tanda kesedihan, dan tawa tak selamanya menjadi tanda kebahagiaan.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Sesuai dengan rencana, usai perkuliahan Rengga mencari kerja untuk Alvin. Entah berapa toko maupun kafe yang mereka kunjungi, namun tetap saja nihil. Sedang tidak ingin menambah karyawan.
"Nat..."
Langkah Alvin terhenti seketika, cowok yang baru saja hendak menaikkan penyangga sepedanya itu menoleh ke belakang, memerhatikan Veny yang menarik lengan bajunya.
Cewek itu menunduk.
Kedua alis Alvin nyaris menyatu, lalu membalikkan badan, menghadap Veny. "Ya Ven?"
"Kamu serius mau kerja lagi?" tanya Veny pelan.
Alvin tertegun sejenak, entahlah ia tak bisa menebak sepenuhnya seperti apa perasaan Veny sekarang. Tapi seandainya benar, sepertinya ia merasakan cewek itu tengah ragu atau mungkin takut?
Mungkin takut dirinya tidak punya waktu untuk bersama cewek itu, dan berharap saja semoga tidak.
Karena jujur, dirinya juga ragu, apakah ia bisa menghabiskan waktunya bersama-sama dengan cewek itu seperti dulu?
Kedua sudut bibir Alvin terangkat lalu mengangguk. "Serius. Hitung-hitung bisa belajar tanggungjawab, nambah penghasilan."
"Maaf, tapi kamu punya waktu untuk aku Nat?"
"Ven..." tegur Alvin.
Veny menggeleng. "Aku benar-bensr merasa enggak nyaman sekarang. Apalagi di rumah. Aku mulai merasa aneh Nat, aku takut di sana. Aku mau lari tapi enggak bisa juga. Maaf kalau aku egois, maaf kalau aku maksa minta kamu bagi waktu, maaf."
Alvin terdiam seketika. Baiklah, bukan hanya Alvin, Rengga yang tak jauh mengeluarkan sepeda dari parkiran langsung menghentikan kegiatannya, memerhatikan Veny. Tanpa suara.
Alvin tersenyum lembur, mencengkram sebelah pundak Veny. "Enggak usah minta maaf. Selagi ada Nathan, Veny aman. Ya?"
Kedua bola mata bundar itu terangkat ke atas, memerhatikan tubuh Alvin yang jauh lebih tinggi melebihi tubuhnya. "Aku boleh berharap?"
Alvin menunggangi sepedanya lalu mengangguk. "Boleh. Ayo Ven, naik."
Veny mendaratkan tubuhnya di belakang Alvin, tangannya terulur ke pinggang cowok itu agar tidak terjatuh, dan atas perintah Alvin tentunya.
Alvin mengayuh sepedanya, berhenti di samping Rengga yang juga telah menungangi sepedanya. "Selanjutnya?" tanya Alvin.
"Ke rumah gue," jawab Rengga.
💗💗💗
Tak ada yang menyangka hidup seorang Varengga Vernanda di kota Oxford ini terbilang cukup mewah. Bukan di apartemen layaknya Alvin sebelum memilih tinggal bersama Veny, melainkan cowok itu tinggal di salah satu rumah orangtua angkatnya dan jangan lupa pula...
Cowok itu membangun usaha seperti satu resto kecil yang menjual berbagai macam masakan yang berasal dari daging.
Alvin tercengang, menurunkan pedal sepedanya, kedua mata bundarnya tak henti memerhatikan sesekeliling halaman rumah Rengga.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Fiksi Umum[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)