7 : : Friend(?)

3.2K 287 7
                                        

Ketika jatuh cinta, terkadang kau lupa bahwa ada orang yang mengejarmu di belakang sana, memerhatikanmu dengan tulus dan menyelimuti rasa sesaknya dengan sebuah senyuman.

~A Thousand Hearts for Veny

...

"Veny, tolong ambilkan Papa air."

Veny, cewek yang baru saja menginjakkan kakinya ke dalam rumah itu, sontak menghentikan langkah, kepalanya ia tolehkan ke belakang, memerhatikan papa yang tengah menghamburkan diri di atas sofa.

Pria paruh baya itu melemparkan kunci mobil ke atas meja lalu melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

Veny mengangguk pelan, entah firasatnya atau bukan, Papa sedikit berubah sekarang. Tidak tidak! Bukan dari sikap. Sikap Papa tidaklah berubah, Papa tetaplah orang yang paling Veny sayang, pria itu selalu tampak tegas namun masih memiliki sosok yang lembut, tampak serius namun bisa membahagiakan keluarga dengan caranya tersendiri. 

Namun, dari fisiknya. Wajah dan badan Papa sedikit berubah, tampak menyusut mungkin?

"Papa baik-baik aja?" 

Pria paruh baya itu memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke sisi sofa lalu mengangguk. "Cepat, Papa haus."

"Iya, Pa."

Secepat mungkin Veny melangkahkan kakinya menuju ruang dapur. Dari dalam sana, tampak Mama tengah menata piring-piring di rak. Heran, biasanya Mama selalu membantu Papa dalam pekerjaan perusahaan, entah itu menghitung perencanaan dana perusahaan Papa, menata surat kerja sama, dan banyak lagi pekerjaan lainnnya. 

"Ma, Veny pulang."

Perempuan paruh baya itu menoleh ke belakang, kedua sudut bibirnya mengembang, memeluk anak gadisnya, lalu mencium kedua pipi Veny. "Papa tadi yang jemput Veny?" 

Veny mengangguk, meraih gelas dari rak lalu berdiri di depan dispenser. "Iya, tadi sekalian antar Nathan ke penginapan. Nathan sakit." 

"Sakit?" ulang Mama Veny sekali lagi. Membuat Veny harus menjawab iya untuk yang kedua kali. "Kenapa Veny enggak suruh nginap di sini dulu?" 

"Nathannya enggak mau Ma," jawab Veny menaikkan kembali keran dispenser begitu air sudah terisi penuh. 

"Mirip seseorang," Veny mengernyit, kepalanya ia miringkan memperhatikan Mama dengan heran. Ya, perempuan itu sedikit menggerutu seraya menatap suaminya dari ambang pintu dapur dengan tajam. "Keras kepala."

"Hah?"

Tersadar akan gerutuannya, perempuan itu mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu menggeleng, mengambil gelas dari tangan Veny, lalu memegang kedua pundak anaknya.

"Sekarang Veny ganti baju, terus istirahat di kamar ya? Airnya nanti biar Mama yang antarkan untuk Papa."

Veny mengangguk pelan, meskipun rasa curiga masih terbesit dalam pikirannya. "Veny ke atas dulu Ma." 

Perempuan paruh baya itu tersenyum lembut. 

💗💗💗

Dan di sinilah dirinya sekarang...

Ruangan bernuansa krim, bisa dikategorikan cukup besar untuk dirinya seorang diri. Tampak begitu lembut, belum lagi hiasan-hiasan yang menempel di dinding kamarnya. Veny melangkah masuk, dahinya mengernyit sejenak begitu melihat kedipan lampu di laptopnya. 

Secepat mungkin, ia mendekati meja belajar, membuka laptop berwarna silver itu, mengecek siapa seseorang yang tengah mencoba melakukan komunikasi jarak jauh dengannya. 

Foto seorang cowok, berwajah tirus, dengan kemeja biru. 

Alvan?

Baru saja Veny ingin menghubungkan komunikasi itu, namun sayang orang dari sana sudah terlebih dahulu memutuskan hubungan. Veny berusaha menghubungi kembali, dan nihil, panggilannya tidak disetujui oleh Alvan. 

"Kita temanan kan?" tanya Rengga, mulai membuka jalan untuk tidak menghalangi langkah Ven, langsung saja Veny berjalan cepat seolah-olah menjauhi Rengga, keluar dari ruangan kelas.

Rengga berlari kecil, berjalan di belakang Veny. "Kalau lo diam berarti lebih dari sekedar teman, kalau lo jawab, berarti tandanya iya."

"Rengga," gumam Veny pelan, seraya mendaratkan tubuhnya di atas kursi belajar. Entahlah mendadak saja pikirannya tertuju kepada cowok itu.

"Rengga... Rengga...."

Berusaha mungkin Veny mengulang nama itu berulang kali, mulutnya berkomat-kamit seraya memancing otaknya untuk kembali memutar masa lalu, mana tau saja ada satu kenangan yang ia lupakan saat bersama cowok berambut gondrong itu. 

Tapi, nihil. 

Veny mengernyit, menopang dagu seraya menerawang memerhatikan tumpukkan buku yang tertera di meja belajarnya.

Percayalah, ia tak pernah mengenal Rengga sebelumnya, Rengga orang yang baru saja ia temui beberapa hari yang lalu. Tapi, kenapa tubuhnya seolah mengatakan bahwa cowok itu tidak asing lagi?

Teman SMA? Veny menggeleng pelan, kalau Rengga teman SMA-nya, harusnya Alvin juga sudah mengenal Rengga. Bagaimanapun juga dirinya pernah satu sekolah dengan Alvin kan?

Teman SMP? Dahi Veny mengernyit, kedua alis tebalnya naik turun mengingat-ingat sosok cowok itu di antara teman-teman di masa Putih Birunya. Rengga... Varengga Vernanda...

Sontak, Veny terlonjak, bangkit dari tempat duduknya, tubuhnya ia bungkukkan sejenak, mencari kardus kecil di bawah tempat tidurnya. Dan ketemu! Secepat mungkin Veny menarik kotak kardus itu lalu duduk di atas lantai. 

Piagam, piala, buku-buku pelajarannya... 

Veny tersenyum, mengusap barang-barang itu sejenak. Semua barang SMP-nya masih tersimpan rapi di kotak ini, meskipun kerap kali ia pindah ke Oxford-Indonesia, tapi Veny tak pernah lupa membawanya. Kotak-kotak yang berisi kenangan ini seolah-olah barang yang wajib ia bawa. Mana tahu suatu saat nanti ia membutuhkannya. 

Dan memang benar, sekarang ia tengah membutuhkannya.

Veny meraih buku angkatan SMP-nya, tampak begitu manis dengan cover bergambar seragam kotak-kotak berwarna biru. Dibolak-baliknya lembaran buku itu dengan pelan, lalu memerhatikan foto-foto dan nama yang terukir di dalam sana. 

Dengan cekatan, ia terus memperhatikan lembaran awal hingga akhir, tak lupa pula jari-jari lentiknya ikut mendikte nama-nama itu agar tidak ada yang terlewat sedikit pun. 

Dan hasilnya... 

Veny mengembus napas panjang, bersandang ke sisi ranjang lalu menutup buku angkatan itu dengan kuat. Dari kelas awal hingga akhir, tak ada satu pun nama Varengga Vernanda yang terukir di dalam sana. 

💗💗💗

Allo.... ^^/

Oh ya, untuk part selanjutnya siap-siap ya, aku bakal bahas tentang Rengga.

Kalian bakal enggak nyangka kenapa Rengga bisa kenal Veny, dan aku harap perasaan Rengga bisa tercapai  :'

Rengga : 😏😏😏

Kenapa Ga?

Rengga : enggak ada thor, kali aja ntar ada readers yang nge fans ama gue, lumayan bisa nambah followers instagram biar gue lebih hits dari pada nenek gue 😙

Anak siapa ini? 👆🙈

Thanks for reading guys!
Ajak teman-teman kamu baca juga ya...

12.01.18

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang