Jika kau hanya ingin merendahkanku maka pergilah, aku sedang lelah. Namun, jika kau datang dan ingin memberi solusi padaku maka tetaplah di sini. Tinggallah. Karena pada nyatanya aku membutuhkanmu.
Sangat membutuhkanmu.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Gelap, kosong, menyakitkan.
Veny, cewek dengan rambut sepinggang itu mengulum bibir bawahnya. Perlahan kedua kakinya melangkah, menuju rooftop rumah sakit. Angin malam berhembus kencang membuat ujung rambut berterbangan, menembus kulitnya, membuatnya sedikit merasa kedinginan.
Jika ditanya apa tujuannya ke tempat ini maka Veny tak segan akan menjawab untuk menenangkan diri. Ya, di sini begitu luas, paling-paling hanya ada beberapa orang asing yang bisa dihitung dengan jari. Ada yang sekadar untuk duduk bersantai, menenangkan pikiran, dan atau mungkin melarikan diri dari masalah?
Ya, mungkin hanya melarikan masalah sejenak, bukan untuk selama-lamanya. Penjagaan di rumah sakit ini begitu ketat, bahkan untuk rooftop saja diberi palang seperti pagar tinggi untuk penghalang, mana tahu saja ada orang yang nekat ingin melakukan hal yang tidak-tidak.
"Bisa hancur kamu kalau begini terus! Bisa apa kamu! Nangis?! Cuma itu yang kamu lakukan selama hidup? Minum air mata kamu sana!"
Berusaha sebisa mungkin Veny tertawa datar, mengelap pipinya yang sudah tampak basah. Ia mendongak sejenak, menarik oksigen sebanyak-banyaknya memerhatikan langit kelam di atas sana. Tampak begitu luas, dan Veny begitu merasa kecil sekarang.
Sesak, sungguh dadanya masih saja terasa sesak. Apalagi ketika Papa menyebutnya lemah. Dirinya seolah bisa saja hancur termakan oleh kejamnya dunia, terlebih lagi mental dan sikapnya yang begitu lembut. Sangat-sangat lembut.
Ini dirinya, dan percayalah! Sikap itu memang sudah ada pada dirinya sejak lahir. Memang apa salahnya dari bersikap lembut? Apa salahnya, ia lebih memilih diam dibandingkan marah? Apa salahnya jika ia menginginkan dunia ini tenang sejenak?
Dunia memang tidak bisa tenang, tapi ia cukup tahu diri, setidaknya ia yang bisa menciptakan ketenangan itu. Dan untuk menciptakan ketenangannya, maka Veny lebih memilih untuk diam dibandingkan ikut-ikutan seperti marah, membentak, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya yang dapat membuat orang kecewa dan tersinggung.
Tapi jika dirinya sudah seperti ini...
Veny menunduk, memejamkan mata sejenak. Dirinya benar-benar merasa risih sekarang, rasanya tidak enak, dan jujur saja ia bingung, teramat bingung.
Papa mengatakan dirinya lemah tanpa memberinya jalan keluar dan setidaknya memberi petunjuk bagaimana cara menjadi kuat.
Apa mungkin orang yang kuat adalah orang yang tanpa ampun berbuat seenaknya kepada orang lain? Mengutamakan keegoisan diri tanpa memandang kesakitan orang lain?
Atau mungkin orang yang kuat adalah orang yang selalu keluar bersama teman-teman setiap harinya hingga lupa bahwa di dalam rumah ada orang yang lebih tulus mencinta dibandingkan teman yang datang pergi seenaknya?
Percayalah. Keluarga, Papa dan Mama adalah segalanya bagi Veny. Jika ada libur panjang dan disuruh untuk memilih ingin berkumpul bersama teman atau keluarga, maka dengan lantang Veny akan menjawab keluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Fiction Générale[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)