Pada dasarnya, hidup itu perjuangan, mengenai cinta dan sejuta harapan.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Mungkin inilah dirasakan seseorang ketika tengah beranjak dewasa.
Kedua mata bundar Alvin mengerjap, memerhatikan bangunan berwarna cokelat tua serta berasitektur klasik dihadapannya.
Ketika dewasa, seseorang akan dipenuhi dengam berbagai tanggungjawab, penuh dengan berbagai pikiran dan tak ada lagi waktu untuk bersantai.
Satu detik yang dilewati benar-benar berharga untuk disia-siakan. Seandainya makan, minum, dan tidur bukan merupakan kebutuhan. Maka Alvin yakin, banyak orang melewati tiga hal kegiatan itu demi menyelesaikan pekerjaan dan memenuhi tanggungjawab.
Sesuai dengan kesepakatan, hari ini Rengga menunjukkan salah satu kafe wilayah Oxford ini. Yah... meskipun pada akhirnya cowok itu meninggalkannya sendiri untuk mengikuti mata perkuliahan.
Kedua sudut bibir Alvin mengembang, perlahan ia melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa cokelat tersebut. Percayalah, ada sedikit rasa gugup yang menyelimuti dirinya saat ini.
Dulu, saat pertama kali ia melamar menjadi pianis di kafe milik keluarga Pramaditya itu juga rasanya seperti ini, dan lebih terkejutnya lagi setelah ia mengetahui arti dari nama kafe 28NY itu.
28NY. Tak lain, menunjukkan nama anak gadis pemilik beberapa cabang perusahaan se-Indonesia itu. Tidak, mungkin bukan hanya di Indinesia, dan ada beberapa perusahaan yang berhasil berdiri di beberapa negara.
Angka 2 bila disimbolkan dengan jari maka akan membentuk huruf V, dan angka 8 apabila ditutup setengah maka akan membentuk huruf E, lalu bila digabungkan akan membentuk nama Veny.
"Excuse me," ucap Alvin menghampiri meja kasir sejenak. Pria sekitar berumur 25 tahunan, mengangkat kedua alisnya. "Maaf, sebelumnya saya udah ada janji pertemuan dengan aunty Jane..."
Belum sempat Alvin menyelesaikan ucpannya, secepat mungkin pria itu memanggil slaah satu karyawan di meja sudut dinding. Cewek dengan seragam kafe cokelat elegannya tengah membersihkan meja dari remah-remah makanan.
Alvin tersenyum tipis. Ya, maklumin saja, pria ini tampaknya juga tengah sibuk dengan kerjaannya.
"Hanna!"
Cewek berambut pirang itu menoleh ke belakang, wajah ovalnya tampak bingung sejenak, mengambil lapnya lalu mendekat ke ara meja kasir.
"Tolong tunjukkan ruangan aunty Jane," suruh pria itu.
Sekali lagi perempuan bernama Hanna itu menoleh, berjalan mendekat. Sontak saja kedua mata bulatnya semakin membulat, takjub memperhatikan Alvin di sanpingnya. Begitu juga Alvin tampak sedikit terlonjak.
"Alvin? Kamu Alvin yang waktu itu kan?"
Alvin mengangguk.
"Masih kenal sama aku?" tanya cewek itu kembali, kali ini mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan.
"Yohanna Mathlison, you can call me Hanna."
"Hanna..." gumam Alvin pelan, seraya mengingat-ingat. Ya benar, perempuan ini tak asing baginya. Mungkin hanya sekali bertemu, dan Alvin benar-benar ingat.
Perempuan ini yang menyodorkan air ketika itu.
💗💗💗
Memang benar faktanya, tak ada manusia yang baik-baik saja bila dihadapkan dengan sebuah kebohongan. Entah itu pura-pura terlihat baik, pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa meskipun dalam hati ingin berteriak, dan menangis sekencang-kencangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
General Fiction[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)