Venysha Manathan,
Terimakasih telah tumbuh besar dengan baik, terimakasih atas semua waktu yang kamu berikan untuk Papa. Hal kedua yang paling menyenangkan buat Papa setelah menikah dengan Mama adalah kelahiranmu.
Jujur, sekama hidup ada banyak hal yang tak bisa Papa sampaikan kepada kamu. Mungkin Papa tidak ahli berbicara seperti Mama, Papa tak bisa mengucapkan kata sayang ketika kamu terbangun dari tidur, Papa jarang mencium mu ketika kamu sedang beraktivitas, dan lidah Papa seolah kelu mengucapkan kata maaf ketika membuatmu menangis.
Sekarang kamu sudah dewasa, dan Papa harap kamu mengerti sekarang, setiap hal menyakitkan yang Papa berikan, sebenarnya hanya untuk mendewasakanmu, Papa sama sekali tidak berniat untuk membuatmu bersedih apalagi menangis.
Percayalah, Papa seakan-akan merasa berdosa ketika melihat air itu turun dari kedua pelupuk matamu.
Papa masih ingat ketika kamu mengucapkan kata 'Papa' untuk pertama kalinya, menyenangkan? Ya, sangat, sampai-sampai Mama kamu cemburu melihatnya.
Lalu ketika Papa mengajarimu bersepeda untuk pertama kalinya, ketika kamu terjatuh, untuk kesekian kalinya Papa tidak mengizinkanmu menangis. Karena apa? Karena Papa ada di sampingmu, you're not alone, you have me.
Ketika masuk sekolah, ketika kamu pernah mengalami masa-masa yang berat, sungguh Papa hanya ingin kanu berada di sisi Papa. Papa hanya menginginkan kamu untuk homescholling agar kanu terlindungi dari anak-anak yang merendahkanmu, anak-anak yang senantiasa menjailimu.
Tapi kamu menolaknya, dengan alasan untuk tidak menyerah dan menggapai mimpi mu untuk bersekolah SMA di sana. Gadis kecil Papa yang kuat, seperti itulah yang Papa lihat.
Lalu masa SMA dan masa kuliah yang menurutmu paling membahagiakan adalah masa terberat bagi Papa.
Awalnya Papa selalu mengira, melihat mu menangis adalah hal yang paling menyakitkan untuk Papa. Tapi ternyata Papa salah, hal yang paling menyakitkan adalah ketika kamu berpura-pura untuk tersenyum, dengan batin yang mengatakan bahwa kamu ingin menangis sekuat-kuatnya.
Sekali lagi, di saat itu, Papalah orang yang ingin memelukmu dengan begitu erat, mengusap air matamu, dan mengatakan bahwa kamu pasti baik-baik saja. Ya, itu proses pendewasaan dan Papa lakukan agar kamu terus menjadi kuat.
Maaf. Di rumah sakit kala itu, Papa sering berpura-pura tertidur hanya untuk menghabiskan waktu bersamamu. Makasih telah mencintai Papa meskipun Papa secara tidak sengaja melukai hatimu. Kamu benar-benar seperti Mama mu, tulus, mencintai Papa tanpa batas, dan memberikan kasih sayang yang begitu luas.
Sekarang kamu hidup bersama Nathan...
Mungkin kamu cemburu ketika Papa mulai lebih dekat kepada Nathan dibandingkan dirimu. Kamu seolah-seolah merasa terbiarkan ya? Maaf, tapi kamu harus tetap belajar menjadi dewasa.
Papa sengaja lebih dekat dengan Nathan karena Papa ingin mengetahui seperti apa diri pasangan kamu yang sesungguhnya, Papa ingin mengenalnya jauh lebih dalam, karena ialah yang akan menjagamu ke depannya, melindungimu, dan mengusap air matamu.
Ketika kamu menikah-di hati yang paling dalam-pada akhirnya, Papalah yang harus menahan rasa cemburu itu. Karena semakin kamu dewasa, maka kamu akan pergi meninggalkan Papa, kamu akan memulai hidupmu dengan pasanganmu.
Tapi disaat itu juga ada rasa puas yang tak tersampaikan. Sudah usai waktu Papa untuk menjaga putri kecil Papa.
Bagaimana hari-hari mu bersama Papa? Menyenangkan? atau sebaliknya?
Apakah Papa terlalu sering menyakiti hatimu? Bagaimana perilaku Papa yang selama ini kamu dapatkan? Maaf jika Papa tanpa sadar menyakitimu.
Dan satu pertanyaan lagi, kepada siapa cinta yang akan kamu berikan sebesar-besarnya? Kepada Papa atau Nathan?
Jangan jawab Papa, karena Papa hanya menjagamu untuk sementara. Dan yang menjagamu hingga akhir nanti adalah Nathan, berikan cinta kamu untuk dia.
Ven, Papa boleh minta satu hal?
Ingat ucapan ini, menangislah jika rasa sedih bercampur menjadi haru, dan tersenyumlah jika kamu mulai menghadapi masa-masa terberat di hidupmu.
Sekali lagi, terimakasih telah hadir di hidup Papa. Memberi rasa kebahagiaan yang tak pernah terkirakan untuk Papa.
Anggana Pramaditya
💗💗💗
Kedua bola cokelat Veny menerawang, berdiri di samping jendela seraya memerhatikan halaman rumah. Tampak begitu hening, dengan rerumputan hijau di setiap halamannya, begitu juga langit biru cerah yang menyelimuti di luar sana.
Perlahan, gadis itu menunduk, mengelap kedua sudut mata dengan punggung tangan, berusaha mungkin tersenyum.
Tau wujud cinta sejati?
Veny memejamkan mata, mendongak, berusaha mengusir rasa sedih yang mengumpul di dalam hatinya. Bagi Veny, Papa dan Mama adalah wujud cinta sejati yang sesungguhnya.
Setelah Papa pergi untuk selamanya, beberapa bulan kondisi fisik Mama seolah-olah menurun, Mama juga sering keluar masuk rumah sakit seperti Papa, dan akhir dari perjuangan...
Mama menyusul Papa.
Perlahan Veny menggigit bibir bawah dengan erat. Papa dibalik sifat tangguhnya, termyata ada banyak hal yang ditakuti pria itu, banyak hal yang ingin dilakukan pria itu untuknya, dan semua itu semata-mata untuk melindunginya.
Sedangkan Mama? Sesulit apapun kondisinya, Mama tetap mengajarkannya kapan di saat seseorang harus tersenyum, kapan di saat harus memberi perhatian, dan kasih sayang kepada orang di sekitar.
Tirai pintu kamar disibakkan, Alvin yang baru saja usai membersihkan diri itu sontak berjalan mendekat. Sedikit terkejut mendapati gadisnya dalam keadaan seperti ini.
Kedua alis Alvin terangkat, memerhatikan wajah oval veny di hadapannya, cewek itu tengah memejamkan mata, seperti mencoba menenangkan pikiran.
"Ven?" Kedua mata Veny perlahaan terbuka. Alvin menatap gadis itu dengan lembut. "Kenapa?"
Berusaha mungkin Veny tersenyum, sekali lagi mengelap kedua sudut mata dengan punggung tangannya. "Tadi aku bersih-bersih kamar Nat, ketemu ini."
Alvin menunduk, memerhatikan kertas polos putih yang disodorkan Veny. Dibacanya tulisan itu dengan seksama, tanpa ada satu pun kalimat yang tertinggal.
Tulisan Papa Veny, sungguh Alvin benar-benar hafal bentuk rangkaian tinta di kertas ini.
Alvin mengerjapkan mata, secepat mungkin ia menelan ludah begitu tenggorokkannya seakan terasa tercekat.
"Ven..." panggil Alvin lagi, tanpa menunggu balasan dari Veny, secepat mungkin Alvin merebahkan tangan, membawa tubuh gadis itu dalam dekapannya. Terasa begitu hangat dan tulus.
"You're have me," bisik Alvin, mencium puncak kepala Veny. "And i always still you."
___
Thank's for reading! Thank's for otw 53k view. Terimakasih sudah menunggu cerita ini dengan sabar, terimakasih atas apresiasi dan kritikannya. 😙
Comment dong. Kesan kamu membaca cerita ini.
😙😙😙
Salam kangen dari Alpin Peny
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficción General[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)