Temukan tujuan hidupmu sebanyak-banyaknya. Karena nanti, jika satu tujuanmu hilang, kamu masih memiliki tujuan lainnya.
~ A Thousand Hearts for Veny
...
"Do you ever fall in love?"
Benar-benar hening. Setelah mengatakan kalimat itu mendadak saja Alvin terdiam, cowok bermata bundar itu tampak menerawang memerhatikan pemandangan di hadapannya. Bukan lagi kafe atau jalanan kota Oxford. Ini tempat favoritnya, jika ada yang memintanya untuk meluapkan seluruh masalah dan pikiran maka sudah dipastikan Alvin akan merekomendasikan danau di depannya ini.
Tidak begitu ramai, orang-orang yang datang beberapa jam lalu mulai bersiap-siap menuju kendaraan mereka untuk bergegas pulang atau mengunjungi tempat-tempat lain. Tengok saja perahu-perahu yang sudah berjalan perlahan di sekitar danau, sekarang kembali ke tepi dengan tali yang menempel di setiap tiang kayu.
Perlahan, Alvin tersenyum samar. Kalau saja Veny sedang bersamanya sekarang, maka ia akan membawa gadis itu ke tempat ini, memutari danau dengan perahu bersama seraya mencoba menyingkirkan semua masalah yang ada dalam benaknya.
Namun nyatanya?
Alvin menoleh, tersenyum samar, memerhatikan Hanna di sebelahnya. Mungkin Hanna benar, tidak seharusnya ia memendam, tapi bagi Alvin tidak seharusnya pula ia cerita.
Jadi?
Yah... ia mengajak cewek itu hanya ingin berbagi pendapat, melihat sudut pandang yang berbeda. Barangkali, ia menemukan apa yang mengganjal di hati Veny. Bagaimana pun juga mereka sama-sama perempuan bukan?
Hanna, tertawa pelan. Cewek itu tengah seru menikmati pemandangan, membiarkan ujung-ujung rambut pirangnya diterbangkan oleh angin. "Setiap orang pasti merasakan cinta kan? Bisa cinta dari keluarga, teman, atau mungkin bisa dengan lawan jenisnya."
Alvin mengangguk pelan, lalu menoleh. "Menurut lo cinta itu apa?"
Cewek itu tersenyum puas. "Cinta itu menuntun bukan menuntut, cinta itu saling memberi bukan hanya ingin diberi, dan satu hal yang saya suka, cinta itu seiring. Berjalan bersama, menghadapi kejamnya dunia bersama."
Alvin menggumam. "Tapi jika salah satu pihak merasa dituntut bagaimana? Sedang seseorang tidak mempunyai niat untuk menuntut."
"Yang kamu bicarakan di sini seorang gadis ya?" tanya Hanna, belum sempat Alvin menjawab, gadis itu menggeleng, mengembus napas panjang sejenak lalu memerhatikan wajah Alvin, dari wajah bundar laki-laki itu sudah tertera semua jawabannya.
"Kamu harus bicara, disitu letak kesabaran dan kesetiaan kamu diuji. Kamu harus kejar dia, kamu harus berjuang buat ngalahin egonya."
"Wanita itu jika sedang marah percayalah ia tidak sepenuhnya marah, apalagi pada orang tersayangnya. Di dalam hati kecilnya pasti ada rasa bersalah, ingin kembali, dan ingin menarik ucapannya. Memang ia tidak sadar, tapi secara tidak langsung ia pasti merasakannya."
Alvin terdiam sejenak, menimbang-nimbang pemikirannya. Mengejar Veny? Sungguh rasanya mustahil bagi Alvin. Bagaimana bisa ia mengejar Veny sementara gadis itu saja sekarang sudah memiliki Rengga.
Tidak mungkin baginya untuk merusak hubungan kedua orang itu. Sungguh, sebodoh-bodoh dirinya ia tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu.
Sebelah tangan Alvin tergepal, seraya menggigit bawah bibirnya dengan erat. Dalam hati, tak henti-hentinya ia mengutuki diri. Mengutuki dirinya yang terlalu cepat melepaskan Veny.
Mungkin dulu ia bisa mengatakan dengan melepaskan berarti ia mengikhlaskan keputusan gadis itu, tapi jika ia melepaskan tanpa perjuangan untuk mendapatkannya kembali, bukankah itu sama dengan menyerah?
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Fiction Générale[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)