Pada nyatanya, apapun yang kamu pikirkan tentang diriku, aku tidak peduli. Yang aku tahu, hati ini, jiwa ini tetap memilihmu.
~A Thousand Hearts for Veny
...
"Nathan bodoh, bodoh, Nathan bodoh."
Aroma obat-obatan menyeruak ke penjuru ruangan. Dari dalam kamar nuansa putih itu tampak Veny tak henti merutuki Alvin di depannya dengan puas. Kedua tangannya tergepal dengan bekas bulir air yang menuruni matanya.
Alvin baru dua jam bangkit dari alam bawah sadarnya. Membuka sedikit mata, tersenyum mengejek.
Veny yang ditatap seperti itu, sontak memukul lengan Alvin dengan kuat, berhasil membuat Alvin yang masih terbaring lemas itu meringis.
Perempuan paruh baya yang duduk di samping Veny itu, menahan tangan anaknya, sebelahnya lagi memegang pundak Veny dengan erat. "Veny, jangan dipukul, Nathannya masih sakit."
"Enggak apa Ma, biar Nathannya enggak bodoh lagi. Kalau sakit biar berobat, bukannya diam-diam sampai parah kayak gini," ucap Veny, menyipitkan kedua mata memperhatikan cowok keras kepala itu dengan tajam.
Untunglah tadi tak butuh waktu yang lama untuk menunggu ambulans datang, dan untungnya pula sebelum Papa dan Mama datang ke rumah sakit ini, Rengga sempat menemaninya sebentar.
Bukannya Rengga tidak peduli dengan keadaan Alvin, tapi percayalah, memerhatikan wajah Rengga yang tak kalah pucatnya seperti Alvin benar-benar membuat Veny tidak tega menyuruh cowok itu untuk lama-lama di rumah sakit ini, apalagi melihat transfusi darah yang dilakukan Alvin tampaknya cowok itu yang malah menahan sakit ketika melihatnya.
Masih terbayang dengan pengobatan seorang Venita Lusiana mungkin?
Kini, Alvin yang masih saja terbaring lemas di ranjang putihnya itu tak henti memperhatikan Veny. Alvin tersenyum samar. "Maaf ya Ven."
"Nathan bodoh," ucap Veny masih saja mengutuki Alvin.
Alvin tertawa pelan, bukan hanya Alvin, Mama Veny yang tadinya menenangkan anak gadisnya tertawa pelan mendengar gerutuan Veny layaknya anak kecil yang tengah menyalahkan temannya ketika bermain.
"Iya iya," jawab Alvin lembut, mengangkat tangan kirinya yang terhubung oleh jarum infus lalu menggapai puncak kepala Veny, mengacak rambut gadisnya itu.
"Nathan bodoh, Nathan enggak kasih kabar ke Veny, Nathan udah buat Veny cemas. Nanti Nathan belajar lagi biar pintar," jelas Alvin pelan, lalu mengelap bekas bulir air yang menggantung di kedua pelupuk mata cewek itu.
"Jangan nangis lagi ya? Soalnya Nathan enggak punya permen buat tenangin Veny. Kemarin sih Nathan punyanya hati, tapi sekarang udah diambil sama orang. Jadi Nathan enggak punya apa-apa lagi."
Veny meraih tangan Alvin, meletakkan kembali ke atas tempat tidur, menyuruh agar beristirahat.
Mama Veny mengernyit, lalu tersenyum jail. Memperhatikan medua anak muda itu. "Siapa yang ambil?"
Alvin tersenyum kecil, mengerlingkan pandangannya ke arah Veny. "Malaikat tanpa sayap yang tante lahirkan untuk masa depan saya."
Sontak, Veny membulatkan mata, menahan kedua tulang pipinya uang memerah malu. "Enggak lucu Nat."
"Emang enggak lucu," jawab Alvin masih saja tak henti-henti mengganggu Veny di sebelahnya, kapan lagi ia bisa berbicara seperti ini, jarang-jarang ia mempunyai waktu yang tepat bersama Veny. "Tapi Veny suka."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
General Fiction[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)