35 : : Komitmen

1.7K 180 13
                                        

Seandainya saja memaafkan dan mengikhlaskan merupakan hal yang gampang, Veny yakin dunia akan sedikit terasa aman, meskipun ada juga beberapa orang yang malah menyalahgunakan kebaikan seseorang hanya untuk kesenangan dirinya semata.

Dan sayangnya, seorang Venysha Pramaditya tidak cukup paham bagaimana belajar untuk mengikhlaskan, mungkin memaafkan ia bisa, memaafkan sungguh gampang. 

Namun perlu digarisbawahi, dirinya tidak bisa memaafkan diri sendiri, apalagi mengikhlaskan setiap ucapan dan pandangan orang-orang tentang dirinya di saat ini. Memang banyak orang berkata, lebih baik abaikan ucapan yang menjatuhkan, tapi jika ucapan-ucapan yang membuat kita merasa terjatuh itu berasal dari mulut orang yang kita sayangi, orang yang kita percaya, bagaimana cara kita untuk mengabaikannya? 

Jika mengabaikan pun Veny berani bertaruh pasti hanya dari sisi luar yang tampak begitu tidak peduli, tapi dari sisi dalam malah sebaliknya, menjadi sangat-sangat peduli. 

Menyebalkan. 

Veny memejamkan mata sejenak, seraya menyusuri koridor rumah sakit. Tenang saja, ia nyaris terbiasa mendengar ucapan-ucapan yang menyakitkan itu bahkan menerima perlakuan tidak enak dari Papa pun rasanya sudah seperti makanan sehari-hari bagi Veny, dirinya sudah cukup kenyang makan hati. Lemparan kertas kerja-padahal Veny yakin hitungannya 100% benar-yang mendarat di hadapannya bahkan ke wajahnya seperti sudah ia telan bulat-bulat. 

Perhatian Mama yang sudah hilang kepadanya lebih baik ia abaikan saja, Veny cukup tahu diri dan mengerti Mama sekarang sibuk, bolak-balik dari rumah, ke perusahaan, dan merawat Papa sudah membuat wanita paruh baya itu kelelahan. Tapi ada yang ingin ia tanyakan sekarang, sebagai seorang anak tentunya, apakah untuk tersenyum, memberi sedikit pelukan, dan pandangan hangat, menyita waktu yang cukup banyak? 

Jika seandainya ia tahu kalau akhirnya akan seperti ini, mungkin ia akan lebih memilih untuk tidak menerima kasih sayang itu dari awal.

Ya, mungkin.   

Veny membuka pintu ruang istirahat Papa, dari ruangan itu tampak Papa tengah tertidur pulas, tubuh itu semakin tampak kurus di makan oleh efek samping pengobatan yang dilakukannya, belum lagi pria itu tidak dapat makan seperti biasanya, hanya beberapa suap saja sudah terasa kenyang, dan beruntung bila dicerna serta diterima baik-baik oleh perutnya. 

Merasa suasana hatinya sedikit sakit memerhatikan kondisi Papa, Veny mengalihkan pandangan memerhatikan Mama yang juga berada di dalam ruangan, perempuan itu menyusun berbagai map di atas meja kecil lalu menggenggam sebelah tangan suaminya. 

"Veny pulang," ucap Veny. Jika dulu ia selalu mengatakan kalimat ini ketika sampai di rumah maka sekarang di ruangan berwarna putih ini. Veny melangkah masuk, meletakkan tasnya ke atas sofa lalu menghampiri Papa, memerhatikan wajah pria itu lama-lama. Jika melihat Papa tertidur sepeti ini, seakan-akan ia menemukan Papa yang dulu, yang selalu membuatnya senang, dan tertawa setiap harinya. 

Veny memejamkan mata, mencium dahi pria itu dengan hangat. 

"Ven," Veny mengangkat wajah, memerhatikan Mama. Perempuan paruh baya itu mengeluarkan sekotak bekal berwarna biru ke arah Veny. "Antar ke tempat kerja Nathan."

Veny mengangguk, mengambil kotak bekal itu lalu meletakkannya ke tas kecil. Tanpa membukanya Veny tahu apa yang ada di dalam bekal itu, nasi, masakan Mama, lalu beberapa butir vitamin untuk Alvin. Bagaimana pun juga, daya tahan tubuh yang dimiliki Alvin tidak kuat seperti yang diduga, bisa saja cowok  itu drop akibat kelelahan, dan tentu saja tak ada yang menginginkan itu. 

"Veny pergi dulu." 

Pintu ruangan tertutup. Tanpa Veny sadari, dari dalam ruangan itu tampak seorang pria paruh baya membuka mata dengan pelan, kedua alis tebal pria itu terangkat, mengembus napas panjang dengan pandangan sendu. 

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang