33 : : Leave You

1.9K 192 3
                                        

Melepaskanmu merupakan satu hal yang menyakitkan dan berakhir dengan ketenangan.

I hope that.

~ A Thousand Hearts for Veny

...

Jika ditanya apakah keputusannya saat ini tepat ataukah tidak. Jujur Rengga sendiri akan menjawab tidak tahu.

Padahal dirinyalah yang membuat keputusan itu, keputusan untuk menjaga Veny, dan memerhatikan cewek itu, baik dari jauh atau sedari dekat.

Memang, Rengga cukup tahu diri Veny sudah memiliki Alvin. Tak mungkin baginya untuk mendekati cewek itu lebih dalam lagi. Tapi entah kenapa pikirannya terkadang seperti tidak tahu diri, ia ingin Veny. Entah Veny yang ini atau Venita Lusiana, sungguh membuat dirinya gila.

Kedua alis Rengga terangkat, memerhatikan Venita Lusiana yang akhir-akhir ini tampak terlihat ogah berbicara dengannya.

"Ven, gue ada salah? Kenapa lo jauhin gue?"

Veni memalingkan wajah, malas melihat Rengga. "Karena menjauh memang cara yang lebih baik, semakin aku dekat kamu, kamu semakin terluka."

Veny yang tadinya berjalan menyusuri koridor rumah sakit, kini menoleh velakng memerhatikan Rengga. "Sekarang aku sudah sampai, puas kamu ikutin aku?"

Kepala Rengga terangkat, dirinya memang sepulang kampus tadi mengikuti Veny. Berusaha mungkin cewek itu menghindarinya, mengatakan bisa melakukannya sendiri dan tak perlu ditemani orang lain.

Tapi bagaimana pun juga ia bimbang membiarkan cewek itu seorang diri, apalagi mengingat kondisi batin Veny tengah seperti ini.

Rengga mengangguk, mantap. "Puas."

Dan satu hal yang Rengga mengerti sekarang, perempuan memang sering membuat para pria bingung, tapi jika sudah mengerti kode yang diberikan maka gampanglah semuanya.

Kebiasaan cewek ketila marah, selalu membalikkan kata-kata.

Berkata tidak butuh namun sebenarnya butuh, mengusir para pria pergi meskipun mereka sebenarnya untuk menguji seberapa sabar menghadapi dirinya.

"Oke," Veny membalikkan badan. Belum sempat cewek itu melangkahkan kaki, tangan jenjangnya terlebih dahulu di genggam seseorang. Veny menoleh belakang.

Kedua alis Rengga terangkat, memerhatikan Veny dengan lembut, seraya mencengkram lengan jenjang itu dengan erat. "Gue cuma mau bilang..."

"Aku harus kuat?" sambung Veny, tersenyum sinis. Sudah biasa ia mendengar kalimat itu, dan jujur saja hal itu membuat dirinya semakin bingung, bingung harus bersikap apa yang disebut dengan kuat dan dewasa.

"Aku bakal kuat kok Ga, aku lagi belajar apa yang dimaksud dengan kuat," tekan Veny kalimat terakhir.

Rengga menggeleng, memerhatikan kedua mata cokelat pekat itu dengan erat. "Gue bukan orang yang suka nuntut, gue enggak mau nuntut lo untuk bukan jadi diri lo yang sebenarnya."

"Jadi?" tanya Veny dingin, seraya menerawang.

"Tak ada hal baik yang lo dapatkan dari memendam rasa sakit," tekan Rengga. Pandangan yang tadinya memerhatikan Veny dengan tegas itu kini mulai melembut.

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang