Kesalahpahaman bisa menghancurkan hidupmu bahkan seseorang yang mewarnai hari-harimu.
~ A Thousand hearts for Veny
...
Selama di Oxford, baru kali inilah Alvin merasa nyaman.
Alvin tersenyum puas, kepalanya ia dongakkan seraya menatap kerlap kerlip bintang di langit malam. Kedua tanggannya ia letakkan ke belakang, bersamaan dengan kakinya yang diluruskan, duduk di teras rumah.
Ya, belum sampai sehari ia sudah merasakan nyaman berada di keluarga ini. Setidaknya dengan adanya keluarga ini hari-harinya tidak dapat dikatakan membosankan lagi.
Di apartemen sendiri, makan sendiri, belajar sendiri, dan mengenaskannya lagi ketika ia berbicara sendiri.
Meskipun tanggung jawabnya cukup besar di rumah ini dan tak bisa main-main kembali.
Diam-diam Alvin mengembus napas panjang, mempertimbangkan diri. Menjaga Veny? Jujur ia bisa, tapi entah kenapa kadang ada sedikit ragu, ada sedikit rasa takut mengecewakan cewek itu, dan parahnya bila ia tanpa sadar menyakiti Veny.
Kedua mata bundar itu terpejam sejenak, mengusir pikiran negatifnya.
Jangan sampai ia menyakiti Veny. Baik itu disengaja maupun tidak.
Tapi dirinya juga manusia kan? Pasti setidaknya tanpa sadar ia pernah...
"Nat..."
Alvin membuka mata, menoleh ke belakang memerhatikan si pemanggil nama tersebut. Sontak kedua sudut bibir Alvin mengembang, menepuk lantai berkeramik hitam di sampingnya.
"Duduk sini Ven."
Cewek dengan rambut tergerai dan balutan jaket soft pink menyelimuti baju tidurnya itu mengangguk senang. Duduk di samping Alvin.
Veny mendongak sejenak, tersenyum memerhatikan kerlap kerlip di atas sana seraya memeluk kedua lututnya.
"Nat, kita janji mau bahas masalah kemarin setelah kamu sembuh kan?"
Alvin mengernyit. Tersenyum tidak enak. "Yang mana? Gue lupa."
"Nathan tua, pelupa," gerutu Veny, lalu cewek itu menolehkan kepalanya tertawa pelan, mendorong tubuh Alvin dengan telunjuknya. "Bercanda Nat."
Alvin tertawa renyah. Mengangguk.
"Aku enggak mau kamu cemburu lagi. Maaf, tapi persepsi aku tentang cemburu udah berubah Nat, cemburu muncul memang karena ragu, bukan karena kita mencintai orang itu amat sangat."
"Ya," jawab Alvin pelan, menerawang, memandang rumput halaman rumah yang tampak segar, mulai tampak dibasahi titik embun malam. "Gue memang ragu waktu itu."
"Gue ragu karena Rengga lebih kenal lo dibandingkan gue, dia pasti bisa lebih jaga lo, dan lo kemarin waktu gue telpon kedengaran suara Rengga, dekat."
Veny menarik napas dalam-dalam, lalu menggeleng, mencengkram sebelah pundak Alvin lalu menatap cowok itu dengan lembut.
"Nat, salah satu sahabat Rengga suruh aku dekat sama dia. Tapi yang aku maksudkan dekat di sini bukan kayak aku sama kamu. Aku sama Rengga sahabatan, kayak kamu sama Olive dulu, ya?"
"Meskipun lo sahabatan, tapi bukan enggak mungkin dia enggak nyimpan rasa," jelas Alvin.
"Kan aku tetap milih kamu," ucap Veny tersenyum senang, menaik-naikkan kedua alisnya. Berusaha mungkin meyakinkan Alvin yang berada di sampingnya.
"Kalau mereka suka sama aku, tapi aku tetap milihnya kamu, mereka bisa apa? Cinta enggak cuma mandang satu sisi, cinta mandang dari banyak sisi. Kamu harus tahu itu Nat."
Hening seketika, Alvin kalut dalam pikirannya, sejenak cowok itu menoleh ke arah gadisnya sejenak, lalu kembali menatapi pemandangan halaman rumah.
Benar, selama berada di sini ia hanya memandang cinta dari satu sisi, hanya dari dirinya sendiri. Ia seolah-olah berubah menjadi egois, dan tidak peduli dengan pandangan gadisnya itu.
Menyeramkan. Entah kemana dirinya dulu.
"Ven," panggil Alvin.
Veny menoleh.
"Apa gue kekanak-kanakan kalau gue minta lo cuma mandang gue?" Veny terdiam sejenak, cewek itu menimbang-nimbangkan diri sejenak.
Secepat mungkin Alvin menjelaskan. "Selain kedua orangtua lo maksudnya. Gue pengen..."
Alvin menghembus napas panjang, sungguh ia tak bisa melanjutkan kalimatnya sekarang. Ada rasa malu, sekaligus rasa ingin diperhatikan yang ia rasakan sekarang.
"Iya Nat, aku selalu merhatiin kamu," Kedua sudut bibir Veny terangkat, tampak begitu lembut, begitu juga dengan mata cokelat pekatnya begitu tampak tulus. Seperti biasa, membuat seorang Alvin tenang melihatnya.
Alvin tersenyum puas, melirik Veny dengan jail lalu mengancungkan kelingking kanannya. "Mana janjinya?"
"Nathan..." tegur Veny, cewek itu tampak salah tingkah sejenak lalu mengaitkan kelingkingnya ke jari cowok itu.
Seandainya saja kala itu ada yang mengingat, bahwa janji terkadang hanya sebuah janji, makna yang terikat namun tak selamanya dapat ditepati.
____
Gantung? Wkwkwkkwkwkwkww 😜 #otwditimpuk 🙈
Update : 11.04.18
Next Chapter : 17.04.18
Berjemur di kampus. Masih sepi wkwkwk.
Salam hangat,
Pacarnya Alvan
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficción General[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)