41 : : She Love Him (?)

1.3K 150 83
                                        

Berawal dari kata nyaman, sebuah cinta dapat tumbuh begitu besar

~A Thousand Hearts for Veny

...

Sungguh, Veny baru tahu jika kota Oxford memiliki satu objek yang mencengangkan. Bukan berbentuk bangunan, melainkan satu keajaiban alam yang dapat menenangkan, terlihat jernih dan hening.

Veny tercengang. Tak lama, cewek bermata cokelat itu mengerjap lalu memerhatikan pemandangan di sekelilingnya dengan takjub.

Sebuah danau, tampak begitu indah, dengan beberapa perahu berada di pinggirnya lalu belum lagi ditambah suasana sore yang menyelimuti pemandangan ini.

Matahari terbenam sudah tanpak begitu jelas, membuat langit merona kejinggaan.

"Suka?" tanya Rengga, turun dari sepeda lalu mengembus napas puas, seraya meletakkan kedua tangannya ke atas pinggang.

Veny mengangguk kuat. "Suka. Kamu tau tempat ini darimana?"

"Darimana ya?" tanya Rengga jail, sesekali memerhatikan Veny, cewek itu masih saja berdecak kagum sedari tadi.

Darimana ia mengenal tempat ini? Ingin saja Rengga menjawab ia mengenal tempat ini dari Alvin, ketika  anak itu membawanya ke tempat ini untuk menenangkan diri sejenak.

Namun jika ia menjawab ia mengetahui tempat ini dari Alvin, pasti Veny akan merasakan risih kan?

Dan jujur saja, Rengga belum sanggup melihat senyuman gadis itu pudar kembali.

"Seseorang," jawab Rengga. Lalu mencengkram kedua bahu Veny, menutun cewek itu berteduh di bawah pohon, seperti kedua ank kecil yang tengah bermain layaknya kereta api. "Duduk sana yuk!"

Veny mengangguk. Kedua orang itu mendaratkan tubuh di atas rerumputan hijau. Rengga menghela napas, seraya meluruskan kedua kakinya.

"Gue ngerasa tenang hari ini," ucap Rengga.

"Aku juga Ga," jawab Veny, sesekali memejamkan mata, menikmati angin sore yang berhembus ke arahnya. "Thank's buat hari ini."

Rengga mengangguk. Tak lama cowok itu mendongak, mengangkat kedua sudut bibirnya, memerhatikan langit senja. Veny yang melihat Rengga di sampingnya tak hentinya mengerjap, memutar kembali kenangan yang melintas di pikirannya.

Nathan...

Lagi-lagi wajah bundar laki-laki itu melintas di kepalanya.

Veny menoleh, memerhatikan Alvin di sampingnya, cowok berwajah bundar itu mendongak, memerhatikan langit senja.

Benar-benar tidak terasa ini hari terakhir sebelum Veny pergi menuju Oxford. Hari terakhir anak perempuan itu menyandang status pelajarnya.

Alvin tersenyum tulus. "Untuk apa kita pacaran kalau pada akhirnya kita putus? Untuk apa kita pacaran kalau pada akhirnya gue malah ngebuat lo nangis? Untuk apa kita pacaran kalau nanti pada akhirnya kita malah pura-pura enggak kenal? Jadi orang asing? Itu lebih nyakitin 'kan?"

Veny terdiam, menerawang mwmerhatikan kilauan air di hadapannya. Dirinya memang tidak pacaran bersama Alvin, dan Veny begitu ingat tiga alasan kenapa Alvin menolaknya, kenapa Alvin langsung memilih untuk berkomitmen dengannya.

Ya, cowok itu tidak ingin hubungannya setelah itu menjadi asing.  Alvin masih ingin bagaimanapun akhir hubungannya, mereka akan tetap sahabat dan saling bertegur sapa.

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang