23 : : Come

2.2K 225 5
                                        

Setiap orang sadar jika waktu terus berputar, tapi tak semua orang dapat menikmati waktu di setiap putarannya.

~A Thousand Hearts for Veny

...

Semua orang mungkin menyadari betapa cepatnya waktu berputar, hari terus berganti dengan mudahnya, dan hal-hal yang dilalui pun terkadang menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Namun na'asnya hanya seberapa orang yang bisa menikmati sebagian waktunya, hingga tak meninggalkan penyesalan-penyesalan lainnya.

Seandainya saja seorang Venysha tahu, mulai dari hari ini, mulai detik ini tak ada lagi yang sama. Berubah, begitu sangat. 

Dari ruang makan keluarga Pramaditya itu tampak Alvin telah bersiap-siap dengan kemeja abu-abu lengan pendeknya, disandangnya tas, seraya melahap sepiring nasi di depannya. Percayalah, menemukan nasi rasanya seperti surga dunia tersendiri bagi Alvin, perutnya seolah-olah terasa normal kembali setelah memakan-makanan ini.  

Alvin meneguk air mineral, seraya mengangkat bola matanya, memerhatikan jam dinding bergantung di atas pintu dapur. Sudah menunjukkan pukul delapan dan Veny belum saja turun. 

"Veny!!" 

Alvin tersentak. Bukan Mama Veny yang memanggil nama anaknya itu, kalau Mama Veny Alvin yakin nada lembut sudah dipastikan ada dibalutan suara itu. Tapi Papa Veny, pria itu memanggil Veny dengan bentakkan, membuat anak mana pun yang mendengar pasti akan terlonjak dibuatnya.

Alvin menunduk, memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Jujur saja ia tak menyangka, suara bentakkan ini mengingatkan Papa akan dirinya dulu. Begitu menyedihkan.

Suara derap langkah dari lantai dua terdengar buru-buru. Cewek dengan rambut setengah punggungnya itu, membenarkan sandangan ransel lalu berlari menuju ruang makan.

"Maaf, Veny terlambat turun," ucap Veny menarik napas terengah laku menggeser kursi makannya di samping Alvin.

Diam-diam Alvin melirik Veny, wajah cewek itu tampak sedikit menegang, bahkan cewek itu tampaknya butuh memegang sendok dan garpunya jauh lebih erat agar tidak terlihat getarannya.

"Kamu niat kuliah tidak! Dari kemarin bangun kesiangan terus! Apa kerjaan kamu!"

Hening seketika, Alvin menelan ludah, sedangkan Veny? Cewek itu menunduk, seraya mengunyah nasinya susah payah. Menahan ketakutannya.

"Papa biayai kuliah kamu susah payah! Jangan main-main! Jangan bolos!"

Veny mengangguk pelan. "I-iya Pa."

"Pa... udah," ucap Mama Veny, perempuan itu melirik anaknya sejenak lalu ke arah Alvin.

"Belain terus anak kamu, biar manja," Pria itu bangkit dari kursi, membenarkan ikatan dasi dari lehernya, lalu menyambar kunci mobilnya dengan kesal. "Selesai makan langsung ke dalam mobil, Papa tunggu luar."

Veny mengangguk pelan, diam-diam mengusap sebelah mata dengan punggung tangannya.

Tak ada suara dari anaknya, pria itu menoleh belakang, masih dengan wajah kesalnya. "Veny! Jawab Papa!"

Berusaha mungkin Veny menoleh, kedua sudut bibirnya terangkat seraya menyipitkan kedua matanya senang, berharap saja semoga pria itu tidak tampak air yang tengah menggenang di sana. Jika melihat...

Entahlah mungkin akan menjadi lebih parah lagi.

Veny mengangguk senang. "Iya Pa."

Tak tahan melihat reaksi gadis di sebelahnya, Alvin membuka suara, sekali lagi membuat pria itu menoleh. "Om, biar Veny berangkat sama Nathan, kebetulan hari ini jadwal kita sama."

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang