38 : : Usaha

1.5K 168 39
                                        

Adakalanya, ketika kau dilepaskan oleh sebuah cinta, kau harus mencoba menggapainya lagi, lagi, dan lagi. Setelah kamu lelah, barulah belajar untuk mengikhlaskannya.

~A Thousand Hearts For Veny

...

Gila! Ingin rasanya Veny menjadi gila sekarang!

Veny mengucir rambut panjangnya lalu berjalan masuk ke rumah sakit. Pasien dan beberapa keluarga tampak memenuhi koridor sana, ada yang sekedar keluar dari ruangan hanya untuk menghirup udara segar, serta mengusir rasa bosan ketika terkurung di ruangan putih sana.

Jika ditanya apakah rencananya untuk menghindar dari orang-orang terdekatnya berhasil? Maka dengan senang hati Veny akan menjawab tidak.

Sama sekali tidak berhasil.

Gara-gara Rengga, cowok itu tak henti-henti mengikutinya, mengajaknya untuk ngobrol meskipun sudah berulangkali ia jawab dengan nada datar dan sesingkat-sesingkatnya.

Sungguh, Rengga menakutkan. Padahal dirinya hampir saja berhasil mengosongkan siapapun yang pernah berada di hatinya, mencoba untuk tidak terlalu dekat, dan tidak menjadi orang yang spesial.

___

"Veny!!"

Veny yang baru saja menaiki sepedanya sontak menoleh ke belakang. Jam mata kuliahnya hari ini sudah usai, dan Rengga malah memperlambat jam pulangnya. Oh ayolah, ia harus ke rumah sakit sekarang!

Rengga berlari mendekat lalu membungkukkan badan sejenak, menarik napasnya terengah-engah. "Lo bisa turun sebentar? Sebentar aja."

"Hmm?" Veny mengernyit, turun dari sepeda.

Rengga menegakkan tubuh, cowok itu menyeka keringat di dahinya, berusaha mungkin tersenyum. "Ven, jangan menjauh lagi. Ketika lo merasa sakit, lo sulit untuk menyembuhkan rasanya sendiri, lo butuh orang lain, setidaknya lo bisa cerita sama orang itu."

"Aku bisa sendiri," jawab Veny.

"Bisa?" tanya Rengga, dari nada suaranya tampak setengah tidak percaya. Bahkan dilihat dari buktinya saja cewek itu malah terlihat sebaliknya. "Sekarang gue tanya, apa yang lo rasakan sekarang?"

"Tenang," jawab Veny, tersenyum puas mendongak, memerhatikan Rengga. "Dengan sendiri aku bisa menjadi diriku apa adanya, dengan sendiri dan tidak dekat dengan orang membuatku merasa sedikit nyaman, tanpa ada perasaan takut kehilangan."

Takut kehilangan? Ingin rasanya Rengga tertawa, apa yang dirasakan Veny sekarang tak jauh beda dengan apa yang dirasakannya dulu, takut kehilangan, berusaha untuk terlihat biasa saja, lalu mencoba menjauh dari orang-orang, dan hasilnya?

Ya, anggapannya salah. Bukan semakin membaik, malah dengan sikap bodohnya itu membuat dirinya nyaris gila, bahkan pernah ingin mengakhiri semuanya, dan untunglah, Ibun masih sabar menolong dan membantunya.

Yah, meskipun dirinya terpaksa bergantung dengan antidepresan itu.

"Bukan takut kehilangan, lo yang sekarang sebenarnya takut kesepian," jawab Rengga, menekankan. Dan benar, di dalam ekspresi datar itu Rengga dapat merasakan cewek itu sedikit terlonjak mendengarnya.

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang