49 : : Right

1.5K 165 13
                                        

Yakin, percaya, dan saling berbagi. Salah satu wujud dari cinta sejati.

~A Thousand Hearts for Veny

...

Cinta merupakan satu hal menyenangkan sekaligus nenyakitkan, merupakan satu hal yang mrmbahagiakan namun dapat juga menjadi kesedihan. Namun sekarang tergantung bagaimana cara seseorang untuk memertahankan cintanya. Apakah terus melihat sisi kelam itu tanpa berusaha dan menepis hal yang membuat bahagia, ataukah berusaha mencari satu titik terang berada di dalam kegelapan.

Veny tersenyum, gadis dengan jaket biru langit yang menyelimuti tubuh itu mendongak, memerhatikan langit malam yang membentangi Indonesia. Tampak begitu bercahaya, dipenuhi kerlap-kerlip bintang dan membuat siapapun yang melihat pasti akan merindukan suasananya.

"Nat..." panggil Veny.

Alvin yang baru saja duduk di bangku taman belakang rumah kini menoleh, cowok itu meletakkan setoples keripik pedas ke sampingnya. "Mau Ven?" tawar Alvin.

Veny mengangguk memasukkan beberapa keripik itu ke dalam mulut, lalu mengunyahnya, seraya tersenyum senang memerhatikan Alvin. "Aku sudah ketemu tujuan hidup aku. Sekarang yah... aku merasa baik dibandingkan kemarin. Aku benar-benar merasa hidup kembali."

Alvin menoleh, cowok itu tampak mengerjapkan mata tidak percaya lalu tersenyum senang, mengacak puncak kepala Veny. "Thank's Ven."

"Makasih juga Nat," ucap Veny, cewek itu mengedarkan pandangan ke atas langit kembali, memejamkan mata, seraya mengayunkan kedua kakinya. "Aku berterimakasih sama Papa, Mama, kamu, Rengga."

"Kalau bukan Papa sama Mama bersikap seprti itu, mungkin aku akan tetap betada di zona nyamanku, aku akan tetap menyalahkan diri, dan orang lain yang seolah-olah bersikap tidak adil kepadaku. Aku berterimakasih kepada Rengga, karena dia menyuruhku untuk mencari tujuan hidupku sebanyak-banyaknya di balik diriku yang bermasalah. Lalu kamu..."

Veny menoleh ke arah Alvin. Tersenyum lembut. "Makasih mau simpan mimpi-mimpi aku Nat. Makasih mau simpan bintang kertas itu."

Kedua sudut bibir Alvin terangkat, cowok bermata bundar itu seraya menerawang, mendaratkan tubuh di sofa ruang tamu. Ia masih ingat apa yang diucapkan Veny tadi malam, benar-benar menyenangkan rasanya ketika melihat gadisnya itu hidup kembali, gadis itu mulai berbicara panjang padanya kembali, dan yang terpenting adalah...

Gadis itu menerima komitmennya kembali.

"Alvin..."

Alvin menoleh, memerhatikan Mama yang baru saja duduk di sampingnya, wajah perempuan itu tampak sendu, sesekali memerhatikan Alvin dan memegang sebelah pundak anaknya itu.

"Kamu udah mau ke Oxford lagi?" tanya Mama, tampak setengah tidak merelekan kepergian anaknya itu sekali lagi.

"Ma..." panggil Alvin lembut. "Alvin kuliah dulu di sana. Alvin juga masih ada kerjaan, enggak bisa Alvin tinggal lma-lama."

Alvin menghirup napas swdalam-dalamnya, mengusap lembut kedua pipi Mama. "Alvin usahakan bisa lulus cepat, biar Alvin bisa pulang terus bisa kumpul bareng Papa, Mama, Alvan, di Indonesia ya?"

Perempuan itu mengangguk, lalu menyengir, tersenyum malu. "Lamar Veny Vin, kasihan anak gadis kalau digantungin terus," bisik Mama begitu tampak Veny turun dari lantai dua, kebetulan selama tinggal di rumah ini, Veny berada di kamarnya, dan Alvin? Ya, tidur dimana saja, bisa di kamar Alvan, ruang tengah, ruang tamu, asalkan bisa memejamkan mata dan terasa tenang.

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang