Cinta yang dewasa : aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.
Cinta yang kekanakkan : aku membutuhkanmu karena ku mencintaimu.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Tebak, apa yang paling menyenangkan, menyedihkan, sekaligus membingungkan bagi Alvin dan Veny sekarang?
Maka jawabannya adalah wisuda!
Kedua anak itu tersenyum puas seraya memandangi langit biru cerah di atasnya, tampak begitu indah apalagi ditambah dengan gumpalan awan putih.
Di Oxford? Alvin menggeleng memasuki rumah bertingkat dua begitu juga Veny. Tidak, sekarang dirinya sudah benar-benar pulang ke Indonesia setelah hampir tiga tahun fokus dengan studinya di sana.
Menyenangkan karena telah berhasil mengusaikan segala jenis pelajaran di sana, menyedihkan karena suatu saat nanti pasti akan rindu kenangannya, dan bingung, setiap orang pasti akan bingung dan ragu apakah ilmu yang ia dapat bisa menyejahterakan dan berguna bagi orang lain ataukah tidak.
Meskipun Alvin harusnya tidak ragu, karena Papa Veny memberikan satu kepercayaan padanya untuk mengambil alih salah satu perusahaannya.
Tapi tetap saja rasanya masih bimbang. Itu wajarkan?
Tok tok tok...
Ketukan pintu terdengar kencang, Alvin yang tadi duduk di ruang keluarga seraya menyesap teh lemon hangat buatan Mama kini mulai bangkit, berjalan terburu-buru menuju pintu depan.
Mendadak kedua sudut bibir Alvin terangkat. Benar dugaannya, Veny. Gadis itu mengunjunginya, bukan hanya gadis itu tapi juga dengan keluarganya.
Ya, setelah sekian lama melakukan perawatan di rumah sakit Oxford, akhirnya Papa Veny diperbolehkan pulang ke indonesia, mungkin pria itu sudah tampak beristirahat dengan kerjaan dan fokus dengan keluarga, setiap saat bahkan acara entah itu kelulusan, seolah-olah dilaksanakan secara kekeluargaan dan terasa begitu hangat.
Dirinya berhasil membuat kedua anggota keluarga baik dari keluarga Pramaditya maupun keluarga Manathan terasa nyaman.
"Hai Nat," sapa Veny. Gadis itu tersenyum sejenak seraya memegang kursi roda dengan Papa Veny di sana.
Alvin mempersilahkan orang itu masuk. Namun entahlah, pria paruh baya di depan Alvin ini tampaknya hanya ingin di luar, bukannya enggan atau tidak suka dengan rumah Alvin, melainkan ada sesuatu yang ingin pria itu bicarakan.
Mungkin pembicaraan serius tentang dirinya dan Veny.
Alvin mendaratkan tubuh di kursi plastik halaman rumah begitu juga pria itu yang masih duduk di kursi roda, memilih di sampig Alvin. Tubuh pria itu tampak begitu menyusut, wajah itu tampak pucat dan jika dibandingkan semangat yang dulu maka sepertinya dapat dikatakan cukup jauh.
"Sekali lagi selamat atas kelulusan kamu dan pekerjaan kamu," ucap pria itu membuka pembicaraan. Awalnya berniat untuk basa basi tapi yang namanya sudah terlanjur kaku dari bawaan, mungkin lebih enak jika bicara langsung pada point nya.
"Iya. Makasih Om," jawab Alvin. Sungguh, jika ditanya apa yang ia rasakan sekarang maka Alvin akan menjawab gelisah. Masalahnya ada hal yang ia inginkan, dan jujur saja Alvin sudah begitu siap.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficção Geral[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)