Terkadang janji hanyalah janji. Makna yang terikat tapi tak selamanya dapat ditepati.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Alvin menelan ludah, bulir keringat mengalir dari dahinya begitu juga kakinya sedari tadi melangkah dengan cepat.
Perlahan Alvin mencengkram sandangan tasnya dengan erat seraya memandangi jalan koridor rumah sakit dengan cemas.
Veny. Hanya cewek itu yang ia pikirkan sekarang.
Mengingat Veny datang tadi ke kafe secara tiba-tiba sungguh membuat Alvin. Senang, setidaknya dengan cara cewek itu datang dan mengantarkan bekal padanya, berarti ada kemungkinan cewek itu bersikap kembali normal padanya.
Ya, seperti itu awalnya Alvin kira. Tapi siapa disangka hasilnya malah menjadi rumit seperti ini, beruntung tadi di tempat kerja dirinya masih cukup profesional. Berusaha mungkin ia menutupi rasa cemasnya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Jika tidak, entahlah...
Mungkin ia kehilangan dua hal sekaligus, Veny dan pekerjaannya.
Langkah Alvin terhenti seketika, berdiri di depan pintu berwarna putih diketuknya pintu itu sejenak, barulah memutar kenopnya.
T-tunggu! Kehilangan Veny? Napas Alvin tertahan seketika, membulatkan mata begitu menyadari pikirannya. Diketuknya pintu ruangan lalu melangkah masuk ke dalam sana. Bodoh, kenapa dirinya bisa berpikir seperti itu?
Sikap Veny memang berubah, cewek itu memang tampak menjauhinya, tapi bukan berarti cewek itu akan pergi darinya kan?
Jangan berpikir yang aneh-aneh. Terlebih lagi cewek itu mematahkan komitmennya.
Jangan sampai.
"Alvin pulang," ucap Alvin, cowok itu meletakkan tas ke atas sofa lau memerhatikan suasana ruangan. Kondisi pria yang tertidur pulas itu masih sama, sama sekali tidak menunjukkan kemajuan.
Kedua sudut bibir Alvin terangkat. Mendekat ke arah Mama Veny, seraya melihat berkas-berkas di hadapan perempuan itu. "Tante, makasih bekalnya tadi."
Perempuan yang tengah duduk itu menoleh ke arah kanan lalu mengangguk, tersenyum. "Iya sama-sama. Udah diminumkan vitaminnya?"
Vitamin? Ingin rasanya Alvin tertawa datar, ayolah ia benci menenggak butir-butiran itu. Tapi yah... jika disuruh seperti ini, maka mau tidak mau pasti Alvin meminumnya.
Alvin mengangguk. "Tante lihat Veny? Nathan mau ngobrol sebentar."
"Veny?" Perempuan itu mengernyit, memerhatikan Alvin dengan cemas. Mungkin dari penampilan luarnya, perempuan ini seolah-seolah tidak peduli akan kehadiran Veny, tapi disisi lain perempuan ini sebenarnya memerhatikan anaknya, mencemaskan kondisi anaknya yang agak kacau itu.
"Nathan ada masalah sama Veny?" tanya perempuan itu.
Alvin menahan napas lalu mengangguk pelan. Ingin rasanya berbohong, tapi percuma saja rasanya, perempuan itu pasti jauh lebih menanggapi situasi di sekelilingnya. "Sedikit, tapi tante tenang aja, Nathan sama Veny bisa selesaikan secepatnya."
Kedua alis perempuan itu terangkat, menerawang sejenak lalu mengangguk pelan. "Veny sedikit berubah sekarang, seperti terlihat..."
Perempuan itu mengembus napas panjang, menunduk, sorot mata sendu terlintas dari wajahnya.
"Nathan bisa atasi," jawab Alvin menenangkan perempuan itu,lalu tersenyum lembut. "Tante fokus pada kesehatan tante sama om. Sisanya serahin ke Nathan aja"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
General Fiction[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)