Batas yang ia buat terlalu kuat hingga ku tak dapat memeluknya. Langkahnya terlalu condong dan cepat hingga tak dapat kususul untuk berjalan seiringan dengannya.
~ A Thousand Hearts for Veny
...
Selain kasih sayang, pengakuan untuk menjadi diri sendiri merupakan hal yang paling diinginkan oleh setiap manusia. Berada di suatu lingkungan tanpa ada tatapan aneh, serta tanpa nada memojokkan seolah-olah merasa diri paling baik dan sempurna.
Veny menurunkan penahan sepedanya lalu berjalan menyusuri koridor universitas, dinaikinya tangga dengan cepat mencoba menghindari dari kejaran lelaki di belakangnya.
Alvinando Manathan. Laki-laki itu tengah berjalan cepat, berusaha mengejar, sesekali memanggil namanya.
Katakanlah seorang Venysha Pramaditya egois sekarang, tidak peduli dengan apa yang dilakukan pria itu untuknya, dan terlihat kekanak-kanakan.
Tadi pagi di rumah, Alvin menawarkannya untuk pergi bersama-sama, seperti biasa untuk menenangkan pikiran dengan mengitari kota ini, seraya membeli makanan kecil untuk pengganjal perut.
Tapi permintaan itu benar-benar ia tolak hari ini. Sesuai tekadnya, ia harus kuat, ia tidak boleh merepotkan orang lain, dan jika bisa ia ingin melakukan segala halnya sendiri, tanpa perlu bantuan orang lain.
Ya... selagi bisa sendiri, kenapa harus ada orang lain? Bukankah nanti pada akhirnya manusia akan hidup sendirian? Tanpa teman bukan?
Menyadari pikiran gilanya, Veny membenarkan sandangan ransel kecilnya, sesekali menoleh belakang. Tak ada lagi Alvin, entah cowok itu mulai memperlambat jalannya atau ada hambatan ketika mengerjarnya. Entahlah Veny tak tahu.
"Pagi."
Sontak Veny menghentikan langkah, mendongak, memperhatikan pemilik sepatu cokelat yang baru saja menghalangi langkahnya.
Rengga. Kedua alis cowok itu terangkat, heran. "Pagi Ven," ulang Rengga sekali lagi.
Veny mengerjap lalu mengangguk pelan. "Pagi."
Suara Alvin lagi-lagi terdengar, Veny menoleh, baru saja ingin kabur dan masuk ke dalam kelas, niat itu ia urungkan begitu langkah Alvin terhenti, tidak lagi mengejar dan memanggilnya. Cowok itu tengah menoleh ke arah lain kepada seseorang yang baru saja menghampirinya.
Cewek, wajah itu tak asing lagi bagi Veny, berwajah bulat, dengan postur tubuh yang sedikit berisi dibandingkan Veny, dan dengan rambut pirang yang senantiasa dikuncir kuda. Ya, ia mengenalnya, teman satu kerja Alvin. Cewek itu tampak tersenyum berbicara dengan senang kepada Alvin, dan Alvin? Seperti biasa, cowok itu selalu baik kepada setiap orang.
Ya, terlalu baik.
Rengga yang baru saja memperhatikan Alvin dari kejauhan mengaluhkan pandangannya, memperhatikan Veny, kedua mata cewek itu tampak tajam, menahan kesal ke arah Alvin. Tampak cemburu mungkin?
"Ven? Lo ada masalah sama Alvin?"
Veny menggeleng. "Aku bisa selesaikan masalah aku sendiri," ucap Veny lalu melangkah masuk ke dalam kelas.
Rengga menoleh belakang, memerhatikan punggung kecil itu dengan heran. Oke, ini memang bukan hari pertama ia melihat Veny seperti ini, tapi baru kali inilah ia merasakan perubahan sikap yang drastis dari cewek itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficción General[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)