37 : : To Be a Lonely

1.5K 163 29
                                        

Terkadang aku ingin menangis dengan deras lalu tertawa tanpa beban.

~A Thousand Hearts for Veny

....

Alvinando Manathan. Cowok belasan tahun itu tersenyum tipis seraya memandangi langit jingga di atas sana. Sebelah tangannya memegang sekop pengembur tanaman begitu juga dengan Veny yang berada di sampingnya. 

Hari kelulusan sekolah berusai begitu cepat, dan kini? Veny. Ya, besok gadis itu akan pergi meninggalkan tanah kelahirannya dan melanjutkan pendidikan ke kota Oxford sana. Alvin menoleh ke arah Veny, menatapi bola mata cokelat pekat gadis itu dengan lembut. 

Sungguh ingin rasanya Alvin tertawa pelan begitu mengetahui gadis itu ingin memastikan perasaannya."Gue tahu cara gue emang kejam. Gue enggak peduli bukan berarti gue benar-benar enggak peduli Ven, tapi itu cara gue buat peduli sama lo. Gue belajar, gue berusaha naikkan nilai-nilai gue buat ngedapatin beasiswa ke universitas yang sama kayak lo."

Veny menurunkan penahan sepeda, dibenarkannya sandangan tas di punggungnya seraya berjalan menyusuri koridor universitas dengan pelan. Kota Oxford tampak begitu indah dengan langit yang tampak berwarna keperakkan, tidak begitu panas.

Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat tipis seraya membayang ketika hari terakhirnya bersama Alvin di Indonesia, disaat dirinya baru beberapa hari usai Ujian Nasional dan Papa memutuskannya untuk pergi ke kota ini.

Sungguh waktu itu terasa berat, ada banyak ketakutan yang menimpa pada dirinya, mulai dari tidak dapat menyesuaikan lingkungan, hingga beradaptasi dengan orang-orang sekelilingnya. Namun, mendadak saja ketakutan itu hilang begitu Alvin mengucapkan kata penyemangat untuknya.

Lalu yah... Veny mengakuinya ini bukan pertama kalinya Veny merasa Alvin tidak mempedulikannya. Dulu Alvin pernah bersikap tidak peduli padanya karena cowok itu ingin menyusulnya ke tempat ini. Tapi sekarang?

Oke. Mungkin bagi siapapun akan mengira dirinya lah yang terlalu kekanak-kanakan, mematahkan komitmen yang telah Alvin buat bersamanya. Tapi dibalik sikapnya yang sekarang, memutuskan hubungan, dan berusaha menjauh dari orang-orang bukan karena tanpa sebab kan?

Dirinya tidak cocok bersama Alvin. Sungguh berbeda jauh, jika Alvin terus-terusan bersamanya mungkin pasti ada rasa tidak nyaman.

Alvin terlalu sibuk, semua orang sibuk. Jika mereka ada waktu luang pun, biasanya Veny akan mendapat nada-nada sumbang yang seolah memojokkannya, menolak dirinya untuk bersikap apa adanya.

Sedangkan dirinya? Ia, dengan tidak sadar diri, dan tidak memahami keadaan orang sekitar seolah-olah juga ingin meminta diperhatikan.

Ingin rasanya Veny tertawa datar. She feel stupid now.

Jujur saja, ia juga tidak ingin seperti ini. Tapi jika kembali lagi seperti dulu rasanya...

Sungguh sulit sekali.

"Ven!"

Sontak, Veny menghentikan langkah, tanpa menoleh belakang, cewek itu menebak-nebak siapa lagi orang yang berani mendekatinya.

____

Alvin menahan napas, berusaha mungkin menaikkan kedua sudut bibirnya. Komitmen. Belum pernah dirinya membuat hal seperti itu bersama seseorang. Jika diingat-ingat, dirinya pantang membuat janji dengan orang lain apalagi bila janji itu sangat sulit ditepati. Namun entahlah terasa begitu berbeda bila bersama Veny. "Gue bakal nunggu, gue bakal jaga perasaan gue sampai lo udah nemuin perasaan yang lain."

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang