Setiap orang pasti memiliki kenangan penting dalam dirinya, tapi ada pula sebagian orang yang ingin mengubur kenangan penting itu secara dalam-dalam.
~A Thousand Heart for Veny
...
Matahari mulai terbenam, angin senja berembus kencang membuat dedaunan kering jatuh melayang ke arah jalanan. Alvin melangkahkan kakinya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantel seraya memerhatikan bangunan-bangunan tinggi di kota Oxford.
Sudah Alvin duga. Rengga benar-benar menyebalkan!
Menyebalkan dari keran air di penginapannya, menyebalkan dari hal-hal yang membuatnya kelaparan, dan menyebalkan dari segalanya. Bagaimana tidak, ini sudah jam lima, Veny sudah harus pulang ke rumah, dan gara-gara cowok bernama Rengga itu ia tidak bisa mengobrol bersama Veny dengan bebas.
Veny yang tadinya berjalan di belakang Alvin mulai berlari kecil, menyamakan langkah kakinya dengan cowok itu. "Nat."
Tak ada jawaban, Alvin masih saja sibuk memerhatikan bangunan yang menjulang ke arah langit. Veny mengangkat bibir bawahnya, memandang lurus ke arah jalanan. Ia yakin Alvin tengah tidak enak hati kepadanya, bisa jadi pada dirinya atau mungkin...
Rengga?
"Nat, aku manggil kamu," ucap Veny lagi.
Kedua mata Alvin terpejam sejenak, lalu mengembus napas panjang, memerhatikan Veny.
Veny mengangkat kedua alis. "Kamu marah?"
Sontak saja Alvin tersenyum lembut lalu menggeleng. "Enggak ada alasan kenapa gue harus marah. Lagipula gue yang sekarang memang enggak bisa marah kan?"
Veny menyengir, benar, Alvin memang tak bisa marah. Cowok itu seakan-akan menghilangkan seluruh emosi kemarahannya, entah bagaimana caranya, Veny pun tidak tahu. Meskipun ia sebenarnya juga penasaran bagaimana wajah seorang Alvinando Manathan jika sedang marah.
Alvin mengangkat bibir bawahnya lalu mendongak, memerhatikan langit yang berwarna kemerah-merahan. Sangat indah apalagi ditambah dengan musim gugur yang tengah melanda di kota ini sekarang.
"Gue enggak bisa bayangin gimana cara orang yang ngejalanin LDR, beda langit, beda tempat, beda waktu. Kita yang tinggal disatu kota aja sesulit ini, lo dengan kesibukan lo dan gue dengan kesibukan gue. Apa selamanya setiap orang bakal kayak gini?" tanya Alvin, seakan-akan cowok tengah berbicara pada dirinya sendiri, dengan melipatkan kedua tangannya di belakang kepala.
Veny mengernyit. "Kayak gini gimana?"
Alvin mengangkat kedua bahu, pasrah. "Sibuk."
Veny mengangguk, mencengkram lengan mantel Alvin. "Setiap orang bakal sibuk Vin, cuma tergantung bagaimana cara kamu memanfaatkan waktu. Nikmatin setiap detik yang berlalu, karena satu detik yang sudah kamu lewati, enggak akan bisa kamu putar lagi."
"Ya," gumam Alvin, melangkahkan kakinya dengan pelan. Bagaimana cara dirinya memanfaatkan waktu? Ya, baiklah ia memang bisa mengatur waktu untuk tugas-tugas perkuliahannya, tapi untuk Veny? Jarang. Untuk bertemu seperti ini saja rasanya hanya sesekali.
"Nat, aku pulang dulu."
Langkah Alvin terhenti seketika, sebelah sudut bibirnya terangkat, lalu mengangguk terpaksa. Bus berwarna merah berhenti di tepi jalan. Dari halte, tampak beberapa orang yang baru pulang dari kerja dan mahasiswa berbaris rapi masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu.
Alvin mengerjap, memerhatikan punggung kecil Veny yang mulai berjalan menjauhinya, langkah gadis itu terhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang, melambaikan tangannya ke arah Alvin.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficção Geral[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)