14 : : Komitmen Sepihak

2.2K 214 4
                                        

Terkadang tak semua orang dapat menyetujui komitmen yang telah dibuat, apalagi dibuat oleh seseorang tanpa persetujuan pihak kedua, dan kini Rengga tengah berada dipihak kedua itu.

Cowok bertubuh tegap dengan sebatang sapu di tangannya, mengerjap. Hari sabtu adalah hari bersih-bersih, seluruh anak di dalam panti tengah bergotong royong mulai dari membersihkan dalam ruangan hingga lingkungan luar.

Tak jauh darinya, pintu yang dihamparkan tirai biru itu terbuka, Rengga tau pasti siapa pemilik kamar itu, Veni?

Ya, Veni.

Rengga mengembus napas panjang, jika ditanya bagaimana sikap Veni kepadanya sekarang, maka Rengga akan menjawab parah. Parah karena Veni benar-benar menjauhinya, cewek itu menjalankan komitmen yang dibuatnya dengan sungguh-sungguh.

"Ven," panggil Rengga, berharap cewek itu menoleh menatapnya sejenak. Namun seperti biasa, empat bulan belakangan ini sikap Veni benar-benar berubah, tidak mempedulikannya dan menganggap seorang Varengga Vernanda hanya angin sekilas.

Tak tahan dengan sikap Veni, Rengga meraih tangan jenjang itu begitu Veni melewati jalannya. "Ven, dengar gue tiga menit."

Tanpa menoleh ke arah Rengga, Veni berusaha melepaskan tangan kanannya dari cengkraman Rengga, dan tentu saja nihil. Kondisi cewek itu jauh berbeda dari yang dulu bukan?

Kedua alis tebal Rengga terangkat, berjalan beberapa langkah berhadapan dengan Veni. Bukan hanya suasana batin Veni yang berubah, tapi kondisi fisik cewek itu juga ikut-ikutan berubah.

Rambut hitam yang dulu panjang setengah bahu kini dipotong pendek setengah leher tampak begitu tipis, belum lagi berat badan yang menurun drastis, dan tak lupa pula cewek itu kini harus rajin-rajin memakai pelindung seperti jaket, topi dan masker, jaga-jaga mengingat betapa rentannya tubuh kecil itu.

"Jangan menjauh, enggak peduli seberapa terlukanya gue, gue mohon lo jangan jauhi gue," ucap Rengga sungguh-sungguh mengangkat kedua alisnya memperhatikan Veni dengan lembut. Tak ada suara yang keluar sedikit pun dari cewek itu.

"Gue pengen jadi orang yang berguna buat lo, gue pengen ketawa bareng lo. Mungkin sekarang gue nyaman, gue memang sedih jika lo pergi nanti, tapi gue bakal berusaha ikhlasin lo, gue bakal belajar untuk melepaskan kepergian seseorang."

"Udah?" tanya Veni datar.

Rengga mengangguk.

Berusaha menahan mual selama beberapa menit tadi, secepat mungkin Veny membekap mulut dengan sebelah tangannya berusaha melepaskan tangan kanannya dari cengkraman Rengga.

Rengga melepaskan cengkraman, secepat mungkin tubuh kecil itu berjalan menuju kamar mandi untuk memuntahkan segala isi perutnya.

Kedua mata Rengga terpejam sejenak lalu berjalan mengekori Veni, sekedar memastikan keadaan cewek itu di sana. Dari depan pintu kamar mandi, terdengar suara pancuran keran air yang begitu kuat namun tak dipungkiri pula ia mendengar suara ciri khas orang muntah.

Entah berapa menit yang Rengga butuhkan untuk berdiri di depan kamar mandi. Rengga yakin, mungkin dari dalam sana tubuh Veni sudah melemah belum lagi ditambah dengan menahan rasa sakitnya, tapi percayalah dirinya di luar sini juga merasakan hal yang sama, apalagi mendengar suara isakan di dalam sana.

Terdengar samar, namun terasa menyakitkan.

Rengga menggedor pintu itu dengan kuat. "Ven, keluar Ven!"

Tak ada jawaban dari dalam.

Rengga memejamkan mata, lalu mengetuk pintu itu jauh lebih kuat lagi. "Ven?"

Suara keran terhenti seketika, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Veni yang tengah berdiri di depan sana, sepertinya wajah bundar cewek itu baru saja dibasuh dengan air, namun sayangnya mata cokelat sayu itu tak bisa berpura-pura kuat. Veni benar-benar rapuh dan demi apapun ia mulai terbiasa melihat pandangan sayu itu.

"Rengga," panggil Veni pelan, layaknya sebuah gumaman.

Kedua alis Rengga terangkat. "Ya?"

"Aku mau nyapu juga," ucap Veny pelan seraya menggenggam batang sapu di tangan Rengga.

Rengga menggeleng kuat. "Lo istirahat Ven, gue antarin ya?"

"Jangan perlakukan aku kayak orang sakit," suruh Veni pelan, namun terdengar datar. Rengga menggeleng tegas, tak peduli sedatar apapun suara Veni ia takkan membiarkan Veni beraktivitas sekarang.

Bukan dirinya tak tahu, Veni yang sekarang hanya memaksakan diri, terlihat baik-baik saja namun tidak pada kenyataannya. Bahkan cewek itu telah vakum dari seluruh kegiatan yang menyangkut dengan sekolah.

"Aku mohon..." lirih Veni.

Kini Rengga benar-benar tak mengerti, mendengar lirihan itu refleks saja tangannya menyodorkan sapu. Memohon, melirih dan menangis, sudah dipastikan butuh kekuatan yang cukup besar bagi Veni untuk meruntuhkan egonya.

Dengan wajah tak berona itu, Veni tersenyum tipis, masih enggan menatap wajah Rengga.

"Makasih."

Belum sempat Rengga menjawab. Sontak saja tubuh kecil itu tumbang di dalam dekapannya, kedua mata indah tertutup, dengan tubuh terasa dingin, dan denyut nadi yang melemah.

...

Published 21.02.18

Thanks for reading, i hope you enjoy it. ^^

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang