Seandainya bisa, kuingin melindungimu hingga luar batas tenagaku.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Mereka bilang, hidup itu mudah jika kamu tahu bagaimana cara memgaturnya. Segala hal yang mrmbuatmu sakut lebih baik ditinggalkan dan apa yang membuatmu senang pertahankan.
Ya, mungkin ketika masa sekolah seorang Alvinando Manathan akan berpikir seperti itu. Namun disaat-saat ini... entahlah, baginya sia-sia saja jika hal yang telah membuat sakit ditinggalkan.
Lebih bagus lagi mungkin seperti ini. Hidup itu mudah jika kamu tahu bagaimana cara mengikhlaskannya. Segala hal yang membuatmu sakit lebih baik dijadikan pelajaran, dan segala hal yang membuatmu senang silahkan pertahankan.
Karena kenangan di satu masa, di satu waktu bahkan milidetik pun takkan dapat diubah.
Alvin melangkah pelan, sesekali menoleh memerhatikan Veny di sampingnya. Suasana hati cewek itu tampak tak tentu arah, terkadang bisa bahagia dan terkadang pula bisa menjadi sebaliknya.
"Ven..."
Veny yang berjalan menyusuri koridor kampus itu menoleh ke samping. Cowok berwajah bundar itu tersenyum lembut, lalu merangkul pundak Veny.
"Semangat!" ucap Alvin menggepal sebelah tangannya lalu terangkat dengan semangat.
Veny mengerjap sejenak, perlahan kedua sudut bibir itu terangkat ke atas lalu mengangguk kuat.
"Ven!"
Langkah Veny terhenti seketika, lalu menoleh ke belakang, yang jelas bukan Alvin yang memanggilnya. Terdengar begitu jauh dan suara itu mulai tidak terasa lagi bagi seorang Veny.
Begitu juga Alvin, cowok itu berhenti seketika lalu menoleh ke belakang mengernyit. Dari kejauhan tampak cowok dengan potongan rambut gondrong dan kemeja kotak-kotak berlari mendekatinya, tampak tergesa-gesa dengan raut wajah yang senang.
Refleks kedua mata Alvin menyipit tajam, memerhatikan Veny sejenak lalu menggenggam tangan jenjang cewek itu dengan erat.
Veny yang tingginya hanya sebahu Alvin kontan mengangkat kepala, memerhatikan ekspresi cowok di sampingnya. Masih sama seperti kemarinnya ketika merasakan sinyal-sinyal Rengga mulai mendekat.
"Nathan..." tegur Veny.
"Gue enggak cemburu Ven," ucap Alvib datar, mempererat genggamannya. "Gue jaga-jaga mana tau dia tiba-tiba narik lo."
Veny menggeleng pelan, lalu tersenyum begitu cowok berambut gondrong itu sudah berada di depannya.
Begitu juga dengan Rengga, cowok itu memerhatikan Veny sejenak, lalu melihat tangan jenjang Veny yang digenggam oleh Alvin dengan begitu erat. Sangat erat.
Rengga tersenyum puas, lalu mengangkat sebelah alis. Entah kenapa melihat tingkah yang kekanak-kanakan Alvin itu malah semakin membuatnya ingin menggangu cowok itu "Ven, hati lo masih ada yang kosong enggak? Gue mau masuk."
"Penuh," jawab Alvin langsung.
"Gue boleh jadi yang kedua enggak Ven?"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficción General[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)