50 : : Sorry

1.4K 161 24
                                        

Kau boleh pergi, tapi asalkan kau tahu bagaimana cara untuk kembali

~A Thousand Hearts for Veny

...

Seumur hidup Alvin tak bisa menepis pikiran ini, berusaha apapun ia memandang masalah, sesakit apapun ketika ia melihat dan merasakan namun tak bisa menemukan celah kesalahan.

Ya, tak ada orangtua yang bersalah.

Alvin terdiam, kedua mata bundar itu tidak mengedip memerhatikan ketiga anggota keluarga di depannya.

Veny, gadis itu tengah berbicara bersama kedua orangtuanya, suara gadis itu tampak tercekat, berusaha mungkin untuk tidak terlihat rapuh di hadapan orangtua itu.

"Maaf..." ucap Veny parau, cewek itu mengenggam tangan Papa dan Mama lalu menunduk. "Maaf Veny berpikiran yang aneh tentang Papa sama Mama. Maaf kalau Veny pernah marah sama kalian, maaf..."

Veny terisak, berusaha mungkin ia memegang erat tangan kedua orang itu, tampak bergetar. "Maaf kalau Veny terlalu sering menyalahkan Papa sama Mama. Jujur, dalam hati kecil, Veny selalu memberontak."

Gadis itu menoleh ke arah Papa, pria itu masih saja melihat anaknya dengan tegas, namun tak dapat dipungkiri pula pria itu tampak menelan rasa sedihnya. "Veny tak terima saat Papa bentak Veny, Veny ingin marah tapi ingin rasanya menyerah ketika Papa mengatakan Veny lemah. Disaat itu Veny merasa bingung, Veny harus berubah seperti apa?"

"Semua yang Veny lakukan seolah salah," ucap Veny, gadis itu tersenyum samar, berusaha mengelap kedua sudut mata dengan lengannya.

"Kala itu Veny merasa kehilangan segalanya. Seperti ramai tapi terasa sepi, dan hidup tapi seperti mati."

"Dulu cuma Mama sama Papa tempat Veny cerita, tempat Veny mencurahkan seluruh masalah, tempat Veny tertawa sekaligus menangis. Veny ketika itu merasa dihempas begitu kuat dan dibiarkan secara tiba-tiba. Maaf..."

Perempuan paruh baya yabg berada di samping itu mengangkat kedua alis memerhatikan Veny dengan sayu. Bersiap-siap ingin memeluk anaknya, namun niat itu dihentikan begitu melihat isyarat mata dari suaminya. Seolah-olah mengatakan jangan.

"Tapi..." Veny tertawa, nihil berusaha apapun cewek itu menahan air matanya, na'as tetap terjatuh juga melewati kedua pipinya, jatuh begitu cepat. "Veny sadar, Papa sama Mama lakukan itu karena Papa sama Mama sayang Veny."

"Papa sama Mama secara tidak langsung menyuruh Veny belajar untuk menyelesaikan masalah, untuk hidup secara mandiri, untuk menghadapi gelap dan terangnya dunia," jawab Veny.

Masih tidak ada reaksi dari Papa dan Veny memakluminya sekarang. Tak apa, Veny tidak akan merasa sakit lagi melihat sikap dingin yang dilontarkan kedua orang itu. "Tanpa kalian melakukan itu, mungkin Veny akan terus bergantung, akan terus menjadi orang penakut yang sulit membuat keputusan, menjadi orang yang susah dalam bertahan hidup."

Hidung gadis itu tampak memerah begitu juga wajahnya, menahan rasa haru sekaligus sedih benar-benar sulit di saat seperti ini. Sama seperti susah dan bingung dirinya untuk mengucapkan maaf atau berterimakasih.

Namun tampaknya rasa terimakasih itu lebih mendominasi dibandingkan rasa maaf.

Kedua sudut bibir Veny terangkat, memerhatikan kedua orang itu dengan lembut. "Pa, Ma, Veny terimakasih sebesar-besarnya sama Papa Mama,  makasih sudah mengajarkan Veny, makasih sudah memerhatikan Veny, dan makasih sudah menjaga Veny. Veny..."

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang