11 : : Promise and Smile

2.5K 228 10
                                        

Seandainya kau tahu, ketakutanmu adalah ketakutanku.

~A Thousand Hearts for Veny

...

Hal yang paling menenangkan bak layaknya surga dunia adalah...

Rumah.

Baik Rengga, maupun Veni mengakuinya sekarang, tak ada tempat yang paling indah dan menenangkan selain rumah, mungkin panti lebih tepatnya. Di sana ia bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang tulus tanpa pandang bulu.

Meskipun Veni anak kandung Ibu panti, namun perempuan paruh baya itu tetap memperlakukan semuanya sama. Tak ada yang lebih unggul dan tak ada yang lebih spesial, karena yang ia tahu manusialah yang dihadapi sekarang.

Punya sisi baik dan gelap, memiliki kekuatan begitu juga kelemahan masing-masing. Jadi tak ada gunanya membanding-bandingkan, toh yang penting penciptanya hanya satu. Yaitu Tuhan.

"Ga..."

Rengga yang beberapa langkah lagi sudah menuju panti langsung menoleh ke belakang, suara begitu kecil dan lirih. Sontak saja kedua matanya membulat memerhatikan Veni yang tengah berjongkok di ambang pagar.

Cewek itu meringis, menggigit bibir bawah, seraya mencengkram perutnya erat. Secepat mungkin Rengga berlari menghampiri Veni, mengguncang tubuh cewek itu dengan pelan. Entah dirinya yang salah lihat atau bukan, baginya wajah Veni mendadak pucat sekarang, bulir-bulir keringat dingin keluar dari dahi cewek itu, dan...

Rengga meraih sebelah tangan Veni, lalu menggenggam jari-jari lentik itu dengan erat, terasa dingin.

"Ven? Veni," panggil Rengga seraya mengguncang tubuh itu dengan pelan.  

"Ga..." panggil Veni, meringis, memejamkan mata dengan erat. "Sakit."

Kedua alis tebal Rengga terangkat, memerhatikan Veni dengan lembut. "Bisa berdiri Ven?"

"Nanti," jawab Veni pelan, suara nyaring nan kencang itu entah pergi kemana sekarang. Rasanya cewek itu menahan napas selama sepuluh menit tadi, bukan karena Rengga berada di sampingnya, tapi keram di perutnya muncul secara mendadak dan tak kunjung usai. "Keram."

Tak ingin berlarut-larut melihat penderitaan Veni di depannya, secepat mungkin Rengga membenarkan sandangan tas, mengalungkan sebelah tangan Veni ke lehernya, lalu mengangkat tubuh cewek itu masuk ke dalam rumah.

Seandainya saja Veni tengah dalam keadaan normal sekarang, mungkin cewek itu akan mengerjap tidak percaya, melihat apa saja yang baru saja Rengga lakukan. 

Dan sepertinya apa yang dipikirkan Rengga beberapa menit lalu benar.

Anak-anak yang tadinya tengah berkumpul di ruang tengah untuk makan siang sontak menghentikan kegiatannya, memerhatikan kedua kakaknya di ambang pintu.

"Veni!!" panggil Ibun, perempuan yang tadinya tengah meletakkan nasi ke piring anak-anak itu langsung bangkit, tergesa-gesa.

"Rengga letakkan Veni ke sofa dulu bun," ucap Rengga, sebelum perempuan paruh baya itu melontarkan berbagai macam pertanyaan padanya.

Sofa merah tua yang tak jauh dari anak-anak itu makan, secepat mungkin Rengga mendaratkan tubuh Veni pelan-pelan ke sana.

"Bun..." keluh Veni, masih memejamkan mata, seraya meringkuk, kesakitan.

Dengan rasa cemas yang menyelimuti, perempuan paruh baya itu, meluruskan kaki Veni. "Jangan diringkuk,"

Dengan setengah hati, Veni meluruskan kaki, dengan bantuan pastinya. Perempuan paruh baya itu memperhatikan Rengga, dari samping tampak Rengga tengah menerawang memperhatikan gadis di depannya.

Entah apa yang dipikirkan anak itu, sungguh tak ada seorang pun yang tahu.

"Rengga, bisa tolong Ibun sebentar?" tanya Ibun, menepuk sebelah pundak Rengga.

Rengga yang tadi tengah asyik berada di alam pikirannya langsung tersentak. "Ya bun?

"Tolong ambilkan bantal di kamar Ibun, minyak kayu putih juga, sama air hangat."

Rengga mengangguk bangkit dari duduknya. Entahlah matanya terus memandangi gadis itu, jujur saja rasa cemas terus menghantuinya, padahal saat seperti ini harusnya ia biasa saja bukan?

Hanya sakit perut. Bukan sesuatu yang perlu ia khawatikan.

Tapi, kenapa? Kenapa ia mulai merasa cemas sekarang?

Diam-diam kedua tangan Rengga tergepal, menggertak giginya geram. Dalam hati tak henti-hentinya ia mengutuki dalam hati.

Mana mungkin kan dirinya mulai terikat dengan Veni?

___

Published : 03.02.18

Next Chapter : 08.02.18

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang