Hingga pada akhirnya ia dihadapkan dengan dua pilihan. Mencintai atau dicintai, memutuskan atau diputuskan, dan terakhir mempertahankan atau melepaskan.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Dalam hidup kita dihadapkan dengan begitu banyak pertimbangan, dan seseorang dituntut untuk menetapkan sebuah pilihan. Dimana ketika hidup berwarna abu-abu kita harus pandai memilahnya, harus menjadikannya hitam atau putih meskipun setiap apa yang kita pilih mengandung konsekuensi.
That's life, you must choice, if you not, you will be die.
Alvin mengembus napas panjang, cowok berwajah bundar itu tampak kelelahan sesekali menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya lalu berjalan keluar kafe.
Seperti biasa, dirinya keluar dari kafe setelah matahari menunjukkan rona kejinggaannya. Entahlah kelelahannya seperti terbayarkan di saat seperti ini.
Setelah lelah menghadapi ratusan sifat pelanggan, dirinya seolah-olah merasa tenang ketika memerhatikan pemandangan di kota ini. Sudahlah... langitnya memang begitu indah, belum lagi angin sore yang berhembus kencang, dan menghirup udara segar tanpa polusi sedikitpun.
"Alvin..."
Alvin yang baru saja mengeluarkan sepedanya dari parkiran sontak menoleh ke belakang, memerhatikan sumber suara yang baru saja memanggilnya.
Hanna. Cewek berambut pirang itu keluar dari kafe lalu berjalan mendekati Alvin. Untuk kesekian kali, cewek itu menyodorkan bonus makanan kepada Alvin. "Ini roti sama kopi."
"Thank's," ucap Alvin meraih kantong putih yang disodorkan Hanna. Jika biasanya cewek itu membalas dengan anggukan dan senyuman, maka sekarang sebaliknya. Tidak! Bukan marah, hanya saja cewek itu tampak bingung dengan ekspresi teman satu kerjanya itu beberapa minggu ini.
Yah... meskipun Alvin selalu berusaha tampak baik-baik saja, tapi ia sebagai orang terdekat dapat merasakan apa yang tengah dirasakan pria itu.
Secara fisik mungkin Alvin terlihat sehat. Namun di dalamnya? Entahlah, Hanna tidak bisa menebak, mungkin ada banyak pertanyaan dibenak cowok itu dan na'asnya pula harus menjawab satu-persatu pertanyaan itu secara sendiri.
"Alvin..." panggil Hanna, memegang sebelah pundak alvin. Raut bingung tak dapat dihindarkan lagi dari wajahnya.
Alvin yang tadinya menerawang sejenak, langsung tersentak. Cowok itu tersenyum mengangkat kedua alisnya. "Ya?"
"Do you have problem?" tanya Hanna. Berhasil membuat Alvin mengernyit. Cewek berambut pirang itu mengangguk, meyakinkan. "Ya, kamu seperti sedang ada masalah. Kalau enggak keberatan, kamu bisa cerita sama saya."
Cerita? Alvin menggumam sejenak, menimbang-nimbang. Sungguh, entah sejak kapan dirinya mulai malas bercerita jika sedang berada dalam masalah. Daripada menceritakan masalah itu lebih baik ia memendamnya, selain tidak menambah pikiran orang-orang mungkin masalah itu akan selesai dengan sen...
Kedua mata Alvin membulat terang, seolah-olah nenemukan satu jawaban yang berhasil melepaskan satu benang kusut yang di dalam otaknya. Mungkin dirinya yang sekarang berada di posisi seperti Veny.
Cewek itu terlalu sering memendam masalahnya. Mungkin dengan alasan tidak ingin merepotkan orang-orang, dan mungkin cewek itu juga berpikir bahwa dengan cara memendam masalah, maka masalah itu akan hilang sendirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Ficción General[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)