"Shhh..."
Pintu kamar mandi terbuka, kaki kanan tampak melangkah keluar begitu juga kaki kiri dari sana. Tubuh yang biasa tegap itu kini berjalan membungkuk akibat rasa yang senantiasa menusuk-nusuk bagian perutnya. Belum lagi kulit yang begitu pucat dan terdapat bintik-bintik kecil merah di beberapa bagian.
Sekali lagi Alvin meringis, berusaha meraih hp di atas ranjang, lalu berjalan tertatih menuju pintu penginapan.
Nihil, tenaganya yang dari tadi terkuras dari awal, kini semakin terkuras akibat cairan merah segar yang baru saja ia muntahkan. Belum lagi berjalan sampai pintu penginapan ini rasanya...
Brugg!
Tubuh Alvin ambruk seketika, sebelah tangan yang tadinya memegang handle pintu penginapan kini mulai melepaskan genggamannya, meringkuk di atas keramik putih seraya mencengkram lengan jaket biru tua yang melekat di tubuhnya dengan erat.
Dalam hati Alvin mengutuki. Bodoh! Ayolah! Sebentar saja ia ingin tubuhnya membaik, ia berjanji jika tubuhnya membaik maka ia mencari obat-obatan dan beristirahat kembali ke penginapan.
Namun sekali lagi, harapan memang tak selamanya dapat terwujudkan. Berusaha apa pun ia mengutuki diri, tampaknya tidak berbuah hasil yang ada malah sebaliknya.
Kedua mata yang setengah tertutup itu berusaha mengerjap memperhatikan sekeliling ruangan. Tampak berputar, warna-warna di sekeliling seolah-olah bercampur dan tampak kabur. Pandangan ini...
Tak ingin sekarat dalam seorang diri, berusaha mungkin Alvin meraih handphone yang tergeletak beberapa senti di depannya.
Berhasil, kunci terbuka, secepat mungkin ia menekan salah satu nomor di sana dengan lama. Telpon terhubung, sungguh jika ditanya siapa yang ia hubungin maka Alvin akan menjawab tidak tahu. Yang pasti satu kata yang ingin ia ucapkan sekarang hanyalah...
"Help."
💗💗💗
"Rengga! Mana kuncinya Ga!"
Rengga yang baru saja usai meminta kunci cadangan penginapan Alvin langsung berjalan cepat menyusuri koridor penginapan. Dimasukkannya kunci dengan cepat lalu membuka pintu itu dengan kuat.
Rengga tahu apa yang tengah dirasakan Veny sekarang, cewek itu tengah dilanda panik dan sulit berpikir jernih. Bahkan tadi ketika mendengar telpon terakhir dari Alvin, Veny langsung memutuskan berlari menghampiri cowok ini, padahal jarak universitas dengan penginapan dapat terbilang lumayan jauh.
Aneh, pintu tak dapat terbuka lebar. Rengga mengernyit, tanpa basa basi, Veny menerobos Rengga, lalu memasukkan kepala di sela-sela pintu. Ruangan dalam tampak kosong. Tempat tidur tampak begitu berantakkan.
Sontak tubuh Veny membeku seketika begitu memperhatikan seseorang yang tergeletak lemaas di belakang pintu.
Nathan.
Secepat mungkin Veny menyelipkan tubuh, berusaha masuk ke dalam ruangan begitu juga Rengga. Dengan sigap Rengga mengangkat tubuh Alvin lalu meletakkan cowok itu ke atas tempat tidur.
Sementara Veny? Cewek itu tengah menghubungi ambulans. Tak mungkinkan ia dan Veny membawa Alvin ke rumah sakit dengan sepeda?
"Nat! Nathan!" panggil Veny. Nihil, Alvin masih saja berada di bawah alam sadarnya.
"Ven."
Veny menoleh, memerhatikan Rengga, wajah cowok itu tampak membeku, seakan-akan tidak mempercayai penglihatannya.
Kedua alis Veny terangkat, memperhatikan jari telunjuk Rengga yang menunjuk bercak-bercak merah di kaos putih Alvin. Darah?
Hening sejenak, Veny menggeleng pelan. Berusaha menepis segala hal buruk yang mendadak saja melintas di otaknya. Alvin pasti baik-baik saja, berusaha mungkin ia meyakini hal itu, seandainya memang bukan seperti itu kenyataannya, setidaknya biarkan kalimat itu membuat dirinya membaik.
Rengga menghembus bapas panjang, mengusap-usap wajahnya dengan kasar, lalu menarik pangkal rambutnya dengan erat.
"I hope he's all right,"
💗💗💗
Halo... karena partnya pendek banget aku bakal lanjut update tanggal 30.03.18
Oh ya, sekilas info tentang A Thousand Stars for Nathan.
Percaya enggak sih, kalau ATSFN versi wp sebenarnya ada 350-an halaman? 😂
Aku enggak percaya, tapi emang itu faktanya. Dan sekarang disuruh pangkas sama penerbit jadi sekitar 200-250 halaman 😅
Buat yang mau meluk Alpan, Alpin, dkk. Ayo nabung mulai sekarang 😆😆
Jangan lupa, rekomen ke teman kamu juga yaaaa 😚😚
Makasih
Salam,
Rezt-
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Fiksi Umum[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)