6 : : Memories, Broken Heart and I Miss You

3.6K 302 9
                                        

Kalimat indah sekaligus menyakitkan : I miss you.

~A Thousand Hearts for Veny

...

Rumah. Satu-satunya hal terindah bagi seseorang yang ingin menghabiskan waktunya, tanpa terpengaruh dari orang-orang luar, bergelut dengan pikiran, dan bermain dengan perasaan, hingga ekspresi yang disembunyikan dari luar pun dapat terungkapkan. 

Ceklek!

Pintu kamar terbuka, ruangan yang tadinya tampak remang-remang kini mulai terlihat terang, tirai disibakkan oleh si pemilik ruangan, jendela dibuka agar dapat menenangkan pikiran, dan satu langkah terakhir...

Rengga. Cowok berambut gondrong itu meletakkan tasnya ke lantai keramik putih, tanpa bersih-bersih terlebih dahulu ia sandarkan tubuhnya ke sisi ranjang.

Perlahan, ia mengembus napas panjang, pandangan yang tadinya terlihat ceria kini mulai meredup, kedua sudut bibir yang tadinya terangkat ke atas, perlahan mulai terkulum. 

Patah hati, rindu, dan cinta.

Tiga rasa yang kini menyerangnya saat bersamaan, tiga rasa yang berbeda namun berhasil membuat dirinya sekarang tidak tahu harus berekspresi seperti apa, tersenyumkah? Sedihkah? atau mungkin marah?

Percayalah, disaat-saat seperti ini, baik tubuh maupun perasaannya seperti mati rasa. Ingin senyum kesenangan rasanya tak mampu, ingin menghabiskan waktu dengan rasa sedih? Tidak, dirinya juga tidak bisa dikategorikan tengah merasa sedih.

"Ck!" Rengga berdecak, cowok itu mengusap-usap wajahnya dengan kasar, lalu menyandarkan kepalanya ke sisi tempat tidur, seraya memerhatikan hamparan langit biru teduh yang melapisi kota Oxford dari jendela kamar.

Veny mengangkat jari-jari sebelah kirinya, di antara kelima jari itu tampak satu cincin perak melikar manis di sana, terukir huruf V, dari Alvin untuk Veny."Aku sama dia udah buat komitmen, dalam setahun belakangan ini, baru kali ini aku melakukan kesalahan terbesar  ke Nathan, belum pernah aku lihat dia secemburu itu sama seseorang."

Cincin? Komitmen? Cemburu?

Ingin saja rasanya Rengga berteriak sekarang, Veny tak tahu betapa hancur dirinya saat ini. Jika saja sekarang ia menutup logika dan lebih mengandalkan perasaan, maka ia yakin dirinya pasti tidak akan mungkin bisa bertahan sejauh ini. 

Terlalu banyak kasih sayang yang ia dapatkan lalu ditinggal dengan sia-sia. Terlalu banyak harapan yang ia makan namun pada akhirnya harus ia telan pahit-pahit di dalam relung gelap yang bernama kenyataan. 

Dan Veny salah satu orangnya. 

Rengga menggertak geram, meraih bantal di atas ranjang lalu melemparnya jauh-jauh ke sudut dinding, menatap sekelilingnya dengan nanar.

Tak ingin menghancurkan dirinya sendiri, secepat mungkin ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya, menarik dan mengembus napas berulang kali. 

Panas terik menerpa SMP Pelita Bangsa, sekolah tampak sepi seperti dua tiga hari sebelumnya, bukan karena libur, murid di sekolah memang cukup ramai saat ini, tapi untuk beberapa hari ini hanya difokuskan kepada murid tingkat akhir saja. Untuk menghadapi berbagai jenis macam ujian, mulai dari try out 1 hingga 3, ujian tengah semester, dan belum lagi ujian hidup yang harus diterima para siswa siswi itu.

Dari depan gerbang sekolah, Rengga menatap jam tangannya dengan pasrah. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, seluruh siswa siswi tampaknya sudah pulang ke rumah, dan mungkin hanya dirinya masih saja berdiri tegak di sini, bersama bayangan, serta seragam putih birunya yang basah dibanjiri keringat.

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang