Jangan membuat wanitamu sakit hati, jangan kau ucapkan kata-kata yang dapat membuatnya menangis. Karena, tanpa kau sadari, di ujung sana, banyak orang yang ingin membuatnya bahagia, menghargai keberadaannya, dan menghapus setiap penderitaannya.
~A Thousand Hearts for Veny
...
Perkuliahan berlangsung setengah jam yang lalu, dari bangku paling belakang, Rengga menegakkan tubuh mencoba memerhatikan mahasiswi di dalam kelas ini satu persatu. Nihil, dari berapa puluh orang di dalam sini, tak satu pun ia menemukan bentuk punggung Veny. Yang Rengga ingat, ketika belajar, cewek itu duduk dengan tegak, rambutnya yang dikucir tampak bergerak kiri-kanan mengikuti irama tangan ketika cewek itu menulis.
Perlahan, Rengga menggeleng pelan, seraya tersenyum sinis. Oh ayolah, bagaimana mungkin ia begitu ingat hal-hal kecil tentang Veny? Meskipun Veny sahabatnya, jarang-jarang ia bisa mengingat ciri khas gerak tubuh seseorang dengan mudah, paling-paling ia hanya bisa mengingat suara dan sorot pandang mata.
Apa mungkin cewek itu tidak menghadiri jam kampus hari ini?
Perlahan Rengga mengiyakan. Seperti beberapa hari sebelumnya, ia juga tidak melihat Veny maupun Alvin di kampus ini. Bertemu Alvin juga tadi pagi, saat ia menunaikan janjinya untuk mengantarkan cowok itu ke resto aunty Jane.
Sedangkan Veny?
Rengga menopang kepala dengan sebelah tangan, mencoba fokus mendengar pembicaraan dosen di depannya. Apa mungkin cewek itu sedang dalam masalah? Apa mungkin suasana hati perempuan itu baik-baik saja ketika menemani seorang Papa di rumah sakit? Entahlah, yang Rengga tahu hanyalah Veny begitu lembut, cewek itu terlalu halus baik dari ucapan, tatapan, maupun hatinya.
Sungguh, Rengga tak bisa berbohong lagi, dalam hati kecilnya ia mulai tertarik dengan perempuan itu. Ia memerhatikan Veny bukan sebagai seorang Venita Lusiana lagi, meskipun rasa cintanya memang masih teruntuk gadis yang sudah pergi jauh meninggalkannya itu.
"I'm late."
Suara tas terbentur dengan meja kayu terdengar pelan, buku-buku diletak dan dibuka dengan terburu-buru, tak lupa pula terdapat suara ciri khas napas terengah-engah. Rengga menoleh ke kanan, memerhatikan seseorang di sampingnya. Veny. Cewek itu datang ke kampus sekarang!
Rengga mengerjap, perlahan kedua alis tebalnya mengernyit heran. Wajah Veny tampak berbeda, jika dulu cewek itu tampak begitu santai dan ceria maka kini sebaliknya. Kedua mata cewek itu tampak begitu lelah dan bengkak bagian kantungnya. Entah Rengga yang salah mengartikan atau bukan, yang pasti cewek itu tampak susah fokus dengan apa yang di sekitarnya.
"Ven..."
Veny menoleh, kedua sudut bibir cewek itu terangkat seraya menyipitkan kedua matanya senang.
Rengga menggumam, lalu berbisik. "Lo udah ketinggalan tiga mata kuliah, lo mau pinjam catatan gue?"
Veny mengangguk kuat. "Iya, nanti aku pinjam ya Ga."
"Oke," jawab Rengga. Canggung seketika, Rengga melirik Veny, kini cewek itu mulai menunduk memerhatikan kertas kosong di hadapannya, kedua mata coklat itu terus menerawang seolah-olah menanti ada tulisan yang muncul di sana.
Rengga mengembus napas panjang, mencondongkan tubuh, sekali lagi berbisik ke telinga cewek itu.
"Gue mau kasih tahu, tak ada hal baik yang lo dapatkan dari memendam rasa sakit."
💗💗💗
Usai sudah perkuliahan. Veny menunduk, mencengkram kedua lututnya dengan erat. Roda sepeda terus saja berputar kencang, melintasi jalanan kota Oxford. Angin senja berhembus kencang berhasil membuatnya kulitnya terasa kedinginan. Jika ditanya ia sedang berboncengan bersama siapa, maka Veny akan menjawab Rengga.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Fiksi Umum[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)