43 : : Rapuh

1.5K 142 42
                                        

Kuat itu ketika kamu mampu menghargai diri sendiri dan orang lain.

~A Thousand Hearts for Veny

...

"Nat, aku enggak bisa merasakan apa-apa. Apa ini yang namanya kuat?"

Alvin. Cowok bermata bundar itu, mengembus napas panjang, menurunkan penahan sepedanya lalu menuju ke dalam garasi.

Kuat? Veny kuat?

Perlahan, Alvin membalikkan badan, menyamakan langkahnya di samping Veny lalu memasuki rumah bertingkat dua itu.

Tidak merasakan apa-apa bukan termasuk kuat. Ketika seseorang mulai mengalami mati rasa, disitulah letak kerapuhan yang sesungguhnya, mungkin tidak secara fisik namun secara mental cewek itu rapuh, sangat rapuh.

Mungkin bisa dikatakan, inilah salah satu puncak dari seluruh rasa sakit cewek itu.

"Ven..." panggil Alvin, sesampainya di depan pintu kamar, lantai dua.

Kamar Veny yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar Alvin, menoleh ke arah samping. Sorot mata itu tampak begitu kosong, begitu juga wajahnya, tanpa ekspresi.

Berusaha mungkin Alvin mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum menenangkan.

"Goodnight Ven," ucap Alvin lembut.

"Too Nat," balas Veny, tanpa ekspresi.

Pintu tertutup. Alvin masuk ke dalam kamar, gelap, hanya mengandalkan ventilasi yang memancarkan cahaya malam memlaui celah-celahnya. Perlahan, senyum yang tadi terukir di bibirnya mulau memudar, dilepasnya cengkraman tangannya dari kenop pintu, lalu membiarkan tubuhnya merosot terduduk lemas di depan sana. 

Salah, dugaan Alvin sepenuhnya salah.

Dulu, beberapa tahun, ketika ia masih SMA, dirinya sungguh ingin cepat-cepat tumbuh dewasa. Dengan bertumbuh menjadi dewasa dirinya tidak perlu merepotkan orang lain, dengan dewasa dirinya dapat mengembangkan segala kemampuannya, dan dengan dewasa pula ia berharap dapat melindungi seseorang yang ia sayang.

Namun faktanya? 

Alvin meringis, membenamkan wajah di antara kedua lutut. Sungguh, saat-saat seperti inilah ingin sekali dirinya mengutuki diri. Mulai dari dahulu hingga sekarang Veny bisa melindunginya, menjaga hatinya, bahkan dengan mengingat cewek itu Alvin bisa mengontrol diri, untuk belajar bersikap lebih baik lagi.

Tapi apa yang dapat ia balas untuk cewek itu sekarang? Tak ada bukan? 

Alvin menggeram, memejamkan mata, sebelah tangannya tergepal seraya memukul lantai keramik dengan geram, berhasil membuat buku-buku jari itu memerah. Tak ada yang bisa ia berikan untuk Veny, ketakutan yang sedari kemarin ingin ia hindari akhirnya terwujud di saat-saat seperti ini.

Ia tak bisa menjaga Veny, ia tak bisa melindungi hati perempuan itu. Bahkan ketika cewek itu berada di puncak rapuhnya, ia tidak dapat berada di samping cewek itu, memberikan penyemangat, dan menuntun gadis itu ke jalan yang seharusnya. Menjadi Veny yang dulu, bukan  kacau seperti ini. 

Alvin menghirup oksigen sedalamnya seraya mengusap-usap wajahnya dengan kasar, di dongakkannya kepala mencoba memerhatikan langit-langit kamar. 

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang