"Ku yakin cinta tak pernah mendarat pada tempat yang salah."
~A Thousand Hearts for Veny
...
Tak ada yang pernah tahu seperti apa kelanjutan hidup seseorang mulai dari satu hari ke depan, satu jam ke depan, bahkan satu milidetik ke depan. Entah itu baik atau buruk, Alvin tak pernah tahu.
Cowok yang masih saja berada di dalam penginapan itu, memejamkan kedua matanya erat, tubuhnya masih saja terbaring di atas ranjang, tanpa menghiraukan bunyi alarm yang berdering bising di sampingnya.
Pukul sembilan pagi, seharusnya ia sudah bersiap-siap untuk pergi kuliah hari ini. Memang di Oxford para mahasiswa tidak diwajibkan untuk datang ke tempat perkuliahan, tidak ada absensi, dan lebih menekankan pada sistem self studying. Tapi bagi Alvin, tetap saja, seperti apa pun bentuk perkuliahannya ia harus datang, setidaknya harus ada seperempat ilmu yang terselip di dalam otaknya.
Kedua mata bundar itu semakin terpejam erat, tubuhnya yang tadinya terlentang di atas tempat tidur kini mulai ia miringkan menghadap dinding, meringkuk, sesekali suara ringisan terdengar dari mulutnya.
"Ck!" Alvin berdecak, sesekali mengutuki dalam hati. Sial, perutnya terasa begitu sakit sekarang, padahal ia sudah makan dengan benar semalam. Memang bukan nasi, tapi bukannya roti juga mengandung karbohidrat? Dapat mengenyangkan juga bukan?
Lagipula badannya benar-benar tidak terasa enak hari ini, seperti menggigil, dan seakan-akan ada benda yang begitu berat menimpa kepalanya, membuatnya sulit bergerak, dan malas melakukan apa-apa.
Do you hear me? I'm talking to you.
Across the water across the deep blue ocean.
Under the open sky, oh my, baby I'm trying.
Alvin menggeliat sejenak, tanpa membuka matanya ia meraih benda persegi panjang di atas bantalnya, lagu lucky - jason mraz tengah mengalun dan tampaknya ia sudah tahu siapa yang telah menelponnya pagi ini.
Kedua mata bundar itu terbuka setengah, memperhatikan empat huruf yang terukir indah di dalam sana. Veny. Cewek itu tengah menelponnya. Secepat mungkin Alvin meringis, menggerakkan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang, berharap semoga suara napasnya yang terengah tidak terdengar dari seberang sana.
Alvin menelan ludah, menyandarkan punggungnya ke arah dinding, lalu menggeser tombol berwarna hijau.
"Pagi Nat!" sapa dari seberang dengan senang.
Alvin tersenyum tipis, seraya mencengkram perutnya dengan erat. "Pagi Ven," jawab Alvin berusaha mungkin menyamarkan suaranya agar tidak terdengar seperti suara ringisan.
"Nat, aku udah ada di kampus, kebetulan hari ini aku selesainya sekitar jam 12, kamu juga kan? Nanti pulang mungkin kita bisa ketemuan, aku juga ada bawa bekal untuk kamu."
"Iya Ven," gumam Alvin.
"Nat?"
Kedua alis Alvin terangkat, tanpa ada satu pun suara yang keluar dari bibirnya, meskipun ia tahu orang di seberang sana tidak akan melihat ekspresinya sekarang.
Veny menggumam. "Kamu enggak apa? Kok kamu jawabnya singkat?"
"Gue..." Tak tahan dengan rasa berat yang menghantam di bagian kepalanya, secepat mungkin Alvin meletakkan handphone-nya lalu kembali merebahkan diri di atas ranjang, meringkuk, menarik ujung-ujung rambutnya dengan erat.
"Nathan? Are you okay?"
Ingin rasanya ia menjawab bahwa ia sedang tidak baik-baik saja sekarang, ingin sekali ia meminta bantuan kepada gadis itu untuk berada di sampingnya sejenak, sebentar saja hanya untuk menemani dirinya. Namun di sisi lain, saat ia mendengar nada suara senang tadi...
Entahlah, rasanya tidak tega merusak kesenangan gadis itu.
"Iya, gue mau siap-siap ke kampus. Nanti jam 12 kita ketemu dimana?"
"Nanti aku tunggu di depan kelas kamu, oke?" tanya dari seberang dengan girang. Alvin yakin, cewek itu tengah tersenyum seraya menyipitkan kedua matanya, membuat wajah yang begitu ayu itu tampak imut.
"Oke," jawab Alvin pelan, lalu membiarkan orang di seberang sana memutuskan percakapan.
Percakapan terputus, Alvin membuka mata, menerawang, memerhatikan keramik putih di penginapannya. Mungkin ada baiknya bila ia mengambil beberapa menit untuk beristirahat sejenak, memastikan tubuhnya sudah sedikit terasa segar, lalu menemui gadis itu.
💗💗💗
Cinta itu menyakitkan, tapi kesakitan itu yang akan mendewasakannya
Cinta itu suatu keindahan, suatu karunia Tuhan yang ia berikan kepada umatnya
Sekarang tergantung bagaimana caramu memandangnya.
Di ruang kelas berasitektur klasik itu Veny tersenyum tipis. Pandangannya yang tadi tertuju ke arah depan kini mulai menunduk, menuliskan satu sajak yang mendadak saja terlintas di dalam pikirannya.
Bukannya ia tak menyimak materi yang baru diberikan oleh dosen di depan sana, ia menyimak, materi itu baru saja usai beberapa menit yang lalu dan tak ada salahnya bila ia mengistirahatkan pikiran sejenak dengan menuangkan berbagai macam kalimat di dalam buku tulisnya.
"Hmm... tulisan lo bagus, kata-katanya juga."
Sontak, Veny menoleh ke arah kanan, seorang cowok tengah berdiri di samping mejanya. Wajah tirus itu menyunggingkan sebuah senyuman lalu mengangkat kedua alis dengan penasaran.
"Kamu Rengga yang kemarin kan?"
Entah Veny yang salah lihat atau bukan, yang pasti senyum itu tampak sedikit memudar, menatap kedua mata cokelat Veny sekilas dengan nanar.
Rengga tak mengangguk atau pun menggeleng. "Bukan kemarin Ven, lo sering ketemu gue, gue bukan orang asing yang hadir di hidup lo."
Veny mengernyit. Bukan orang asing? Baiklah Veny mengakuinya, secara fisik mungkin bagi Veny, Rengga masih begitu asing. Tapi dari suara berat cowok itu... seperti pernah ia dengar, dua tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu? atau ketika ia kecil?
Mustahil. Veny menggeleng pelan. Dari kecil, ia jarang berada di lingkungan luar, hanya mengurung diri, dan bermain dalam istana putih yang bernama rumah.
Capek dengan rasa penasarannya, secepat mungkin Veny mengemas buku-buku bacaan di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas dengan asal.
"Jangan lari dari gue," ucap Rengga, postur tubuhnya yang tinggi itu mau tak mau harus senantiasa menundukkan kepala begitu memperhatikan Veny yang hanya sebahunya, lagi-lagi entahlah ada perasaan aneh yang terselip pada cowok berwajah tirus itu.
Veny mendongak, menggertak gigi, menyipitkan kedua matanya dengan tajam. "Mau kamu apa?"
"Kenalan dengan lo," jawab Rengga, memerhatikan Veny dengan tegas. Namun tak lama saja ekspresi wajah itu menghangat kembali, kedua sudut bibir terangkat ke atas dengan pandangan lembutnya. "Kita mulai semuanya dari awal."
"Kita udah kenalan semalam, aku, Nathan, kamu," jawab Veny.
Rengga mengangguk pelan, tangannya yang tadi terulur untuk berjabat dengan Veny kini mulai turun, menandakan bahwa ia tak perlu memaksa dan membangkitkan kembali emosi cewek itu.
"Kita temanan kan?" tanya Rengga, mulai membuka jalan untuk tidak menghalangi Veny. Sesuai dengan dugaannya, cewek berambut setengah bahu itu langsung berjalan cepat-cepat seolah-olah menjauhi dirinya, keluar dari ruangan kelas.
Rengga berlari kecil, berjalan di belakang Veny. "Kalau lo diam berarti lebih dari sekedar teman, kalau lo jawab, berarti tandanya iya."
Tanpa memperhatikan pemilik suara berat itu, Veny mengangguk terpaksa. "Iya."
💗💗💗
KAMU SEDANG MEMBACA
A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]
Fiksi Umum[SEQUEL A Thousand Stars for Nathan] "Hati memang satu, tapi ruangnya ada 1000. Dan aku harap, kamu bisa nempati 1000 ruang itu." -Veny- ___ Ini tentang Nathan dan Veny, ini tentang dua orang saling terikat dalam hubungan yang berbeda. Bukan pacaran...
![A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/118491836-64-k852339.jpg)