10 : : HOPE

2.8K 242 6
                                        

Gimana kalau sebenarnya orang itu enggak mau ninggalin kamu, tapi takdir yang malah mengharuskan mereka pisah?

~ A Thousand Hearts for Veny

...

Seperti jumlah keajaiban di dunia, maka di sekolah juga memiliki 7 keajaiban yang tak kalah menariknya, berhasil membuat para siswa membulatkan mata, tersenyum lebar, bahkan loncat-loncat kegirangan bak layaknya betemu dengan list calon suami masa depan.

Dan bel istirahat berhasil menduduki peringkat ketiga selain libur panjang dan free class.

Namun tampaknya hal ini tidak berlaku untuk Venita Lusiana.

Cewek yang tengah duduk di koridor kelas itu berdecak, kedua alisnya menyatu seraya memperhatikan pot-pot bunga di depannya dengan tekun.

Rambut setengah bahunya ia ikat dengan asal, lalu mengerucutkan bibir seraya mengetuk-ngetuk buku tulis yang berada di pangkuannya dengan pena.

Sejujurnya ia sedang mengikuti kebiasaan Rengga sekarang.

Heran, dengan modal menyendiri di koridor kelas dan menerawang, cowok itu masih saja berhasil menyerap segala jenis pelajaran. Sedangkan dirinya?

Ayolah! Duduk menerawang seperti ini bukan mendatangkan inspirasi untuk membuat 5 puisi itu, melainkan malah membuatnya ngantuk setengah mati!

Belum lagi lapar. Haduh.

"Sebentar lagi potnya bakal pecah kalau lo tatap kayak gitu."

Suara berat ini...

Sontak, Veni menoleh ke arah kiri, namun secepat mungkin ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah pot-pot itu, seandainya Rengga tadi mengiyakan permintaannya, pasti dirinya tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini.

"Geser," suruh Rengga, mau tak mau dengan berat hati Veni menggeser posisi duduknya sekitar sepuluh senti mungkin?

Rengga menoleh ke arah Veni, cewek itu tidak sedikit pun berbicara dengannya. "Lo ngapain duduk di sini?"

"Cari ilham."

Rengga mengernyit. "Cari anak bude kantin kok di sini," gumam Rengga, menggeleng pelan, seraya membuka nasi bungkus di tangannya.

"Enggak lucu kamu Ga."

"Memang enggak," jawab Rengga, lalu menyodorkan tiga lembar kertas di saku OSIS-nya serta sebungkus nasi lagi kepada Veni. "Nih makan, biar Ibun enggak cemas lihat badan lo, kurus."

Kedua alis tebal Veni nyaris menyatu, meraih nasi dari tangan Rengga lalu membolak balik lembaran kertas yang baru saja diberikan. "Ini kertas apa?"

"Tugas lo," jawab Rengga, seraya mengunyah nasinya dengan cepat lalu menelan nasinya dengan susah payah. "Lo buat 2 puisi lagi, sisanya udah gue bantu buat."

Mendadak Veni tersenyum cerah, kedua matanya mengerjap membaca lembaran-lembaran itu dengan cermat, bukan hanya ada rasa senang, sepertinya rasa takjub juga tengah menghantuinya sekarang.

"Ini serius kamu yang buat Ga?"

Dengan tenang Rengga mengangguk. Membuka sebotol air mineral lalu meneguknya.

Pukk!!

Sontak gepalan tangan Veni mendarat mulus di perut kanan Rengga, cowok yang baru saja mengusaikan makan siangnya itu langsung meringis, menoleh ke arah mata cokelat pekat itu dengan tajam.

Beruntunglah air yang baru ia minum tidak menyembur ke wajah cewek itu.

Veni menyengir lalu menggamit leher Rengga dengan akrabnya. "Thanks my bro, sesekali baik kayak gini kek. Jangan dingin-dingin terus."

"Sifat gue memang kayak gini."

Veni menggeleng, tersenyum. "Enggak, kamu kayak gini karena kamu takut. Kamu menghindari satu hal, padahal hal itu wajar buat semua orang, dan bahkan semua orang pasti pernah merasakan hal yang sama."

"Gue udah puas ditinggal banyak orang, dan gue enggak mau disia-siakan dengan alasan yang sama," tekan Rengga.

Veni bergumam, kedua alisnya terangkat ke atas begitu juga bibir bawahnya, bergumam. "Gimana kalau sebenarnya orang itu enggak mau ninggalin kamu, tapi takdir yang malah mengharuskan mereka pisah?"

Rengga menggeleng pelan, menunduk, secepat mungkin cowok itu memasukkan sampah makanannya ke dalam kantong plastik hitam lalu bangkit dari duduknya.

"Intinya gue belum siap buat ditinggal lagi."

Veni mengerjap, memerhatikan Rengga yang telah berdiri memunggungi dirinya, lalu berjalan menjauhi koridor kelas.

Rengga, terkesan dingin namun begitu hangat di dalamnya, terasa begitu kuat namun rapuh di balik hatinya, dan memang pintar namun sulit menata kembali hati dan perasaannya.

Veni mengembus napas panjang, memperhatikan tulisan bertinta hitam itu dengan tulus. Perlahan Veni mengusap kertas itu lalu tersenyum samar, sorot mata yang tadinya tampak ceria kini memandang tulisan itu dengan nanar.

Percayalah, seandainya bisa, ia ingin bersama cowok itu jauh lebih dekat.

...

Thanks for reading. I hope you enjoy it! ^^

Publish : 29.01.18

Next : 03.02.18

A Thousand Hearts for Veny [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang