38: Anger

520 103 49
                                        

Valerie meremat jas prakteknya kuat-kuat. Kedua telapak tangannya ia letakkan di atas kedua pahanya, sementara matanya menatap lurus ke arah sebuah lilin yang menyala di tengah-tengah meja. 

Sebuah helaan nafas terdengar dari Adrian yang duduk tepat di seberangnya. 

"Itu rekan kerja yang kamu bilang waktu itu?" Valerie mengangkat wajahnya, lalu mematri sebuah senyum di wajah cantiknya. 

Sebuah senyum yang malah membuat Adrian ingin memaki dirinya sendiri. 

"Or perhaps... your ex girlfriend..?" 

Jantung Adrian hampir mencelos. Terlihat bagaimana ekspresi wajahnya berubah-- matanya sedikit lebih membulat, dan kedua bibirnya secara refleks membuka, menciptakan celah kecil di sana. 

Valerie tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Bener kata kamu, Ad. Dia cantik, banget." 

"Kayaknya, Safiya juga kenal sama dia," lanjut Valerie. "Namanya Allura, kan? Aku nanti minta dikenalin deh ke dia." 

Adrian tertegun oleh bagaimana gadisnya berbicara seolah tidak ada gejolak apapun di dadanya. Adrian telah meninggalkannya sendirian begitu saja di Prancis, membuat Valerie gugup setengah mati karna tidak menjawab teleponnya, dan kini, melibatkan Valerie dengan hubungan rumit antara dirinya dan Allura. 

"Valerie.. kenapa kamu nggak marah sama aku?" 

Valerie tersenyum tipis. 

"Kadang, orang butuh waktu untuk akhirnya tau apa yang terjadi," kata Valerie pelan. "Mungkin, kamu mau kasih Allura waktu. I understand. Aku gak papa, kok." 

Tidak jika hal-hal tidak berjalan sesuai dengan yang ia pikirkan. 

"Valerie, nanti malem kamu gak lembur, kan?" Adrian meraih salah satu tangan Valerie, lalu mengelus permukaannya dengan jempolnya. Valerie menggeleng pelan. 

"Aku ke rumah kamu," kata Adrian lembut. "I bought some new dvds. Soda yang waktu itu masih ada, kan?"

"Mhm!" Valerie mengangguk. "Jangan masuk sebelum ketuk pintu, siapa tau aku baru selesai mandi." 

Adrian terkekeh, lalu menggenggam tangan Valerie dengan sungguh-sungguh. Sementara apa yang Valerie lakukan hanyalah tersenyum sambil menatap manik hitam gelap Adrian. 

"Ad, kamu tau," Valerie berbisik pelan. "All we need to do in this relationship is talk. Like this." 

**

Keadaan tidak membaik setelah Adrian berkunjung ke kediaman Valerie dan menonton dvd bersama. 

Semuanya sama saja. Tidak ada yang berubah. Adrian bahkan seakan melangkah lebih menjauh dari Valerie, dan Allura sudah sukses menggapai lengannya. 

Adrian pulang larut di suatu malam setelah menghabiskan waktu bersama Allura di pusat kota. Betapa terkejutnya lelaki tersebut saat mendapati pintu rumahnya lebih dulu terbuka sebelum ia mengeluarkan kunci. 

Adnan muncul dari balik pintu, lengkap dengan gaun tidur yang ia kenakan.

"Adnan?" kata Adrian. "Kok udah pulang?" 

"Kok udah pulang? Sejak kapan sekolah aku belum bel pulang jam 11 malem?" 

Adnan membiarkan Adrian masuk, lalu gadis kelas 3 SMA itu kembali menutup dan mengunci pintu. Sementara sang kakak berjalan menuju sofa sambil membuka jas kerjanya. 

"Lembur, Kak?" tanya Adnan. 

"Hmm? Nggak juga," sahut Adrian. "Kakak abis main ke downtown."

"Serius?" Adnan mendadak berlari, lalu berjalan di sebelah kakaknya. "Ih, asik banget. Mana oleh-oleh! Liptint mana liptint? Masker!" 

Sebuah toyoran melayang ke kepala Adnan.

"Centil kamu. Baru juga mau kuliah," cibir Adrian. 

"Hehehe,"

Adnan dan Adrian sama-sama terduduk di sofa, dengan televisi yang menyetel sebuah seri netflix. Kebiasaan rutin Adnan ketika menunggu Adrian pulang. 

"Sama Kak Vale, Kak?" 

Adrian yang tengah meneguk air putih, kemudian melirik Adnan. Lelaki itu menggeleng, lalu menaruh gelasnya di atas meja. 

"Lah, terus sama siapa?" Adnan mengerutkan keningnya. "Ngga mungkin kan bareng Kak Kevin. Apalagi sendiri. Atau sama Kak Vinka--" 

"Sama Allura, Adnan." 

Adnan mendadak terdiam di tempat, sementara Adrian menghela nafas dan melonggarkan dasinya. 

"Kak Al- balik ke sini?" Adrian mengangguk. 

"Terus Kak Vale?" 

Alih-alih menjawab, Adrian malah kembali berdiri dan berjalan menuju dapur sambil membawa gelas yang barusan ia taruh di atas meja. Adnan ikut berdiri dan mengekor di belakangnya.

"Kakak!" 

"Valerie lagi sibuk, Adnan," sahut Adrian malas. 

"Tapi Kakak malah jalan sama cewek lain, which means, Kakak gak ngehormatin Kak Vale sebagai pacar Kakak." 

Kalimat yang dilontarkan Adnan membuat Adrian dengan kasar menaruh gelas di atas konter dapur. Adnan menebak bagian bawahnya pecah-- konter dapur mereka semua terbuat dari granit. 

"Aku bener, kan?" kata Adnan penuh keberanian. Well-- naluri gadis itu secara natural membela Valerie. 

"Pantesan Kakak bela-belain pulang mendadak kesini dan ninggalin Kak Vale sendirian di Paris. Ternyata Kak Al pulang? Perempuan yang dulu udah mutusin Kakak secara paksa--" 

"Adnan, kamu bisa diem, gak?" 

"Make me, Kak," kata Adnan. "I'm clueless."

Adrian menghela nafas kasar, meraup mukanya, lalu berbalik menghadap adiknya yang kedua telapak tangannya kini telah terkepal. 

"Sebenci apapun kamu sama Allura, Adnan, you can't deny the fact that dia pernah jadi siapa-siapanya Kakak. Kamu gak boleh kayak gitu," 

"Dia pernah jadi siapa-siapanya Kakak di masa lalu artinya, Kakak bisa lupain Kak Vale seenaknya?" 

Rahang Adrian menegas. "Kamu ngomong gitu sambil mikir gak sih?" 

"Kakak yang mikir!" Adnan setengah berteriak kepada Adrian-- gadis itu seolah-olah tidak lagi peduli tentang status yang merentang di antara mereka berdua. Adrian adalah kakak kandungnya, namun Adnan merasa perlu marah jika kakaknya sudah bertingkah kelewat bodoh. 

"Kakak enak banget ya, jalan-jalan di pusat kota sama cewek lain, sedangkan pacar Kakak di sisi lain lagi gelisah sekaligus sedih karna Kakak gak kasih kabar satupun," Adnan berteriak marah. "Kak Valerie ngiranya Kakak itu sibuk di kantor sampai-sampai dia gak mau nelpon Kakak, dia malah nelpon aku dan nanya apa Kakak udah sampe rumah atau belum, udah makan atau belum. Kakak mikir sampe sana gak?" 

Adrian tertegun. 

"You healed her, Kak. Kak Valerie sendiri yang bilang dia jauh lebih bahagia dan seakan-akan lagi ngejalanin kehidupan yang berbeda dari kehidupan dia yang sebelumnya karena Kakak," Adnan menghela nafas. "Tapi kalo akhirnya Kakak malah bikin dia sakit lagi, terluka lagi, no. She doesn't deserve you," 

"Tolong jangan brengsek gini, Kak," kata Adnan, sambil berlalu meninggalkan Adrian di dapur. 

**


:"( sedi aku ngetiknya

trauma | sinbTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang