39: The Party

584 94 30
                                        

Safiya melipat payung yang ia bawa dan menaruhnya di sebuah vas tinggi besar di sebelah pintu masuk. Gadis itu mengusap coat panjangnya yang agak kebasahan, lalu melangkah masuk ke gedung tersebut. Sepatu yang ia kenakan meninggalkan genangan air berwarna coklat di setiap langkah yang ia lalui. 

Keadaan gedung tempat Vinka bekerja masih sangat sepi. Maklum, pagi ini hujan turun dengan cukup deras. Hanya beberapa orang yang naik kendaraan pribadi serta yang membawa payung saja yang telah tiba di kantor. Sisanya mungkin masih berdiam diri di kafe atau halte terdekat-- menunggu hujan reda. 

Safiya datang setelah Valerie meminta tolong kepadanya untuk memberikan sebuah tas berisi oleh-oleh dari Paris untuk Vinka. Valerie mengeluh merasakan kepalanya yang pusing tadi pagi, dan mengakibatkan wanita itu harus berangkat ke rumah sakit jauh lebih siang dari biasanya. 

"Selamat pagi," kata Safiya kepada seorang wanita yang duduk di meja resepsionis. "Vinka ada di atas?" 

"Mohon tunggu sebentar, kami akan--" 

Kalimat sang resepsionis terhenti ketika seorang gadis dari arah kanan memanggil nama Safiya dengan nyaring. 

"Eh, Allura." 

Allura berlari layaknya anak kecil mendekati Safiya. Gadis itu tak sungkan untuk memeluk Safiya, mengalihkan niat Safiya untuk berbicara kepada resepsionis. 

"Kok udah di sini aja pagi-pagi?" kata Safiya, setelah Allura melepas pelukannya. 

Allura terlihat mengulum senyumnya dengan malu-malu. "Gue habis ketemu sama Ian, dong." 

"Oh.." Safiya menurunkan nada bicaranya, seraya berusaha mengontrol ekspresinya. "Gercep banget, pagi buta udah ke kantornya aja." 

"I told you before kan," ujar Allura. "When I said I want to go back to him, I'm not even kidding." 

Safiya mengangkat kedua alisnya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak begitu cepat, kepalanya memunculkan bayangan Valerie di sana. 

"Hari ini Ian ulang tahun," kata Allura. "Dan gue mau bawa temen-temen gue nanti malem untuk ngerayain ulang tahun dia. Sekalian, mhm, you know lah, Fi." 

"Apa?" 

Allura tersenyum semangat. "A confess lah, of course!" 


A confess. Perempuan itu akan menyatakan perasaannya yang tak kunjung berakhir kepada Adrian malam ini, tepat di hari ulang tahun lelaki tersebut. 

Lihatlah betapa gadis itu bersikeras untuk kembali mendapatkan hati Adrian, sosok yang kini tengah dilanda kebingungan akibat dua gadis yang hadir di kehidupannya.

Valerie. Allura. 

Adrian terlalu menyayangi kedua gadis tersebut, sampai ia tidak bisa menemukan perbedaan konteks kasih sayang yang ia rasakan terhadap Valerie dan Allura. 

"...serius?" sahut Safiya, kaku. "Duh, gue kok baru tau ya, Adrian ulang tahun, hehehe." 

"Lo boleh dateng kok ntar kalo mau! Tempatnya juga di mall deket sini," pekik Allura. "Yang dateng sih temen-temen deketnya aja, tapi kan lo juga temen dia jadi, don't worry lah." 

"Allura?" 

Baik Safiya maupun Allura sama-sama menoleh ke sumber suara. Adrian masih menuruni separuh anak tangga. 

"Hey," Allura tersenyum dan Adrian berdiri di sampingnya. Matanya menatap lurus ke arah eksistensi Safiya.

"Hai Ad," suara Safiya memelan, namun telapak tangannya mencekal lengan paper bag yang ia bawa. "Lo.. ulang tahun?"

trauma | sinbTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang