Valerie masih memegangi sebelah lengan Adrian. Bibirnya mengerucut membentuk lengkungan kecil yang tampak menggemaskan di mata Adrian.
"Aku maunya sekarang, Ad," Valerie ngerengek. "Nanti kalo malem-malem aku ngantuk, nggak bisa lama-lama."
Adrian memperhatikan sekitar. Jalanan Kota Paris yang tidak terlalu ramai.
"Udah, nikmatin aja. Lagipula kan cuman keliling-keliling aja, gak akan kerasa kok,"
Adrian merangkul tubuh mungil Valerie dan membawa gadis tersebut menikmati suasana Paris di siang hari. Jalanan yang mereka lewati tidak lebih dari sekedar jalanan biasa yang diapit oleh pertokoan. Ada wangi-wangian roti khas Eropa serta berbagai macam toko aksesoris.
"Val, sini deh," Adrian menarik pinggang Valerie sampai gadis tersebut menoleh ke arah sebuah toko yang berdiri gagah di balik tiang lampu. "Masuk, yuk?"
"Pffft," Valerie menahan tawanya. "Mau ngapain sih? Mau kawin, Ad?"
"Iya," Adrian mencubit hidung Valerie. "Kita kawin ya, Valerie. Besok."
"Apaan, sih!"
Jadilah sepasang kekasih tersebut masuk ke sebuah toko butik dan perhiasan yang mewah. Di dalamnya memang cukup sepi, karna toko tersebut hanya biasa dikunjungi oleh calon pengantin saja.
Valerie memanjakan matanya dengan display gaun-gaun cantik nan mewah bahkan pada saat awal ia menginjakkan kaki di dalam butik.
Gadis itu tidak menemukan butik semewah ini di negaranya, jadi, kalaupun dia tidak akan menikah cepat, tapi kapan lagi Valerie bisa melihat-lihat gaun pesta dan gaun pernikahan semewah ini?
Lalu, sebuah tangan menggenggam bahu Valerie dan membalikkan tubuh gadis tersebut. Adrian muncul dengan senyum manisnya, dan tangan-tangannya tidak dibiarkan diam-- keduanya ia selipkan tepat di balik rambut-rambut Valerie.
Dan Valerie menatap manik Adrian seperti tidak ada hari esok, sementara lelaki tersebut mengaitkan pengait kalung di belakang leher Valerie.
"Makasih," kata Valerie.
"Tadi aku liat-liat di displaynya, ternyata mereka ngejual kalung baru dari kalung-kalung sebelumnya," jelas Adrian. "Liontinnya macem-macem. Aku ambil satu yang liontinnya matahari buat kamu."
"Kenapa matahari?"
Adrian mengulum senyumnya, lalu mengeratkan lengannya di pinggang Valerie. "Because you're worth for everything like the sun does, Valerie."
"Waktu itu kamu pernah bilang, your world shines brighter when I am around," lanjut Adrian.
"Valerie, jangan marah terus..."
Adrian hampir saja menyerah tepat di hadapan Valerie karna kelakuan gadis tersebut. Bagaimana tidak? Selama mereka menyetel sebuah film di televisi, Valerie sama sekali tidak berkutik, bahkan tertawa sekalipun. Padahal Adrian sengaja menyetel sebuah seri komedi agar gadisnya bisa tertawa.
"Nggak marah."
"Kamu marah karna aku lembur terus di kantor?" Adrian menolehkan kepalanya, menghadap Valerie yang masih dengan ketus memeluk sebuah bantal di pelukannya. "Kan aku udah izin?"
"Engga marah," kata Valerie, masih kukuh dengan pendiriannya. "Ngeyel banget? Kamu mau lembur setahun di tempat kerja juga bukan urusan aku."
Adrian mengernyit. "Kok gitu, sih?"
"Udah selesai, kan, filmnya?" Valerie memperhatikan televisi yang menayangkan credits film dengan latar hitam, lalu menoleh ke Adrian. "Udah. Sekarang kamu pulang aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
trauma | sinb
Storie breviSemua orang punya trauma, atau seenggaknya-- pernah punya trauma. Tapi kenapa, trauma punyanya Valerie harus trauma sama kebahagiaan? coralpetals, 2018. Highest rank on shortstory : # 64 ~ 180626
