Naiffa berdecak pelan seraya menyisipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia menyesal karena lupa membawa ikat rambut. Ternyata mempunyai rambut panjang tak seindah kenyataannya. Ribet. Sudah gitu poninya menusuk-nusuk mata pula. Menganggu orang yang sedang membaca novel saja.
"Lama-lama gue—"
Naiffa terkesiap ketika seseorang menarik rambutnya dari belakang secara tiba-tiba. Oh, ralat. Lebih tepatnya menyatukan rambut Naiffa lalu mengikatnya dengan gerakan perlahan.
"Gini, kan, enak liatnya."
Suara itu! Sontak Naiffa menoleh dan mendapati Bara yang sekarang berdiri di belakangnya sambil tersenyum puas memperhatikan hasil karyanya karena mengikat rambut Naiffa dengan benar.
"Lo ngikutin gue ya?" tuduh Naiffa tanpa basa-basi.
"Ssuttt ... lo ngerti aturan nggak sih?" tanya Bara sedikit berbisik. "Di perpustakaan nggak boleh berisik."
"Iya, tapi lo ngapain ada di sini?"
"Ini perpus sekolah bukan punya nenek moyang lo."
Naiffa mendengus pelan. Sadar tidak sadar, tangannya terulur untuk memegang rambutnya yang sudah terikat dengan ... tunggu. Scrunchie? Dari mana cowok itu bisa mendapatkan ikat rambut khas perempuan seperti ini?
"Mikir jorok lo, ya?"
Mendengar itu langsung membuat Naiffa mendelik tajam pada Bara. "Gue nggak punya pikiran kaya gitu. Emang lo. Otaknya ngeres!" ketus Naiffa.
"Kalian berdua bisa diam nggak? Ini di perpustakaan. Bukan pasar." Suara penuh peringatan itu membuat mereka langsung menoleh ke sumber suara. Di sana, Bu Darin sedang berdiri memperhatikan mereka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Iya, Bu .... maafin temen saya. Masih baru soalnya," ucap Bara yang entah sejak kapan suka bermanis-manis.
"Ya sudah. Ibu mau lanjut cari sesuatu dulu. Urgent!"
"Lagi cari apa, Bu? butuh bantuan nggak?" tanya Bara.
"Memangnya kamu mau bantuin Ibu? Di suruh beres-beres buku aja kamu malah kabur," sindir Bu Darin membuat Naiffa menahan tawanya.
"Ibu baperan. Ini saya serius loh, Bu, mau bantuin," tutur Bara.
"Ya sudah kalo gitu. Bantu Ibu cari ik—" Bu Darin menghentikan perkataannya karena suara bel masuk yang sudah berbunyi nyaring.
"Udah masuk, sebaiknya kalian kembali ke kelas aja," lanjut Bu Darin pada Bara dan Naiffa.
"Nggak papa, Bu. Setelah ini saya jamkos kok," kata Bara santai.
"Kalo gitu saya ke kelas dulu ya, Bu. Permisi," pamit Naiffa berdiri dari tempat duduknya. Baru beberapa langkah berjalan, suara Bu Darin berhasil menghentikan langkahnya.
"Itu! Itu yang sedang Ibu cari dari tadi," ucap Bu Darin langsung berjalan menghampiri Naiffa.
"Tunggu sebentar."
Naiffa mengerutkan keningnya. "Iya, Bu? kenapa ya?"
Naiffa semakin bingung ketika Bu Darin berjalan memutari badannya. Kedua mata Bu Darin seperti memperhatikan sesuatu yang ada pada diri Naiffa. Tapi apa? Perempuan itu hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
"Warna rose gold dan motif bunga-bunga," gumam Bu Darin. "Kamu dapat ikat rambut itu dari mana? kenapa seperti ikat rambut saya yang hilang?"
Naiffa menegang seketika. Apa ia tidak salah mendengar? Jadi ikat rambut yang sedang ia pakai ini milik Bu Darin? Dan, orang yang memberikan ini kepadanya adalah Bara. Jadi...
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA [COMPLETED]
Teen Fiction(SEGERA TERBIT) Albara Farren Zico, murid laki-laki dengan segudang masalah di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal Bara? Si troublemaker SMA Garuda yang adem dipandang mata. Tidak suka aturan, sukanya bolos, galak dan barbar seperti namanya. Tolon...
![BARA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/165023707-64-k906735.jpg)