Bara dan teman-temannya sedang berjalan di lorong sekolah. Ada Fio juga yang berjalan di samping cowok itu. Bibirnya menyunggingkan senyum seolah dia adalah perempuan paling bahagia di sekolah. Suasana pagi kelabu yang semula tenang menjadi riuh karenanya. Banyak tatapan dan bisikan-bisikan aneh dari beberapa anak yang melihatnya.
Naiffa, matanya terus memperhatikan mereka dari jauh.
"Sumpah Fa Bara emang keren yah tapi berengseknya kelewatan!" dumel Evva.
"Dia dengerin omongan gue gak sih waktu itu? Gedeg gue liatnya!" ucap Evva. Ada kilatan marah dimatanya. "Apa perlu gue siram air lagi biar kebuka matanya?!"
"Jangan diem aja, samperin lah Fa!" ucap Amara mengompori. "Cakar-cakar tuh mukanya kalau perlu!"
"Buat apa?" ujar Naiffa. "Gue gak mau ngotorin tangan sendiri buat ngeladenin cewek kaya dia."
Amara dan Evva termangu mendengarnya. Keduanya menatap Naiffa takjub. "Ini yang gue suka dari lo Fa. Kalo marah seremnya mulai keliatan. Adiknya Kak Malvino banget nih," ujar Evva terkekeh.
"Siapa yang marah?" kata Naiffa lagi. "Gue cuma mau ikutin alur yang mereka buat," ucap Naiffa sangat tenang.
Dahi Amara mengerut bingung. "Maksud lo?"
"Harusnya dari awal gue gak kepancing. Mereka main sandiwara di depan gue. Sekarang gue mau liat sampe mana Fio tahan sama Bara," ujar Naiffa.
"Gue jadi inget omongan Dimas waktu itu. Kalo Bara udah benci sama seseorang, dia gak bakal mau berurusan apalagi sampe berhubungan sama orang itu," sambung Naiffa lagi memperhatikan Bara dan Fio.
Mungkin kemarin Naiffa hanya bisa diam melihat mereka. Tapi sekarang Naiffa akan mengikuti permainan ini kalau itu yang Fio inginkan. Naiffa hanya ingin melihat sampai mana Fio bertahan dengan Bara, yang terlihat berpura-pura didepannya.
"Aneh juga sih liatnya, seorang Albara Farren Zico yang gue kenal tiba-tiba mau balikan sama Fio. Padahal Bara bencinya Nauzubillah sama tuh cewek!" ucap Evva menggebu-gebu.
"Iya bener Va. Sejak mereka berdua balikan Bara jadi sering murung, iya gak sih? Kaya gak ada rasa bahagia sedikit pun," sahut Amara.
"Terus lo gak cemburu Fa?" tanya Evva membuat Naiffa menoleh.
"Tujuan Fio itu biar gue cemburu sama dia. Kalo gue kepancing, Fio bakal ngerasa menang dari gue," kata Naiffa.
"Eh, eh mereka mau kesini,"bisik Amara memperhatikan mereka yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ciwi-ciwi lagi ngomongin apaan nih?" tanya Rian datang. "Hai Ra, cantik banget sih pacar aku," lanjutnya menggoda Amara. Membuat Amara tersipu malu.
"Eh ada Neng Iffa. Kalian bertiga ngapain di sini? Nungguin Oji yah?" timpal Oji sangat percaya diri.
Naiffa tersenyum ramah. "Enggak Ji. Lagi pengin aja di sini."
"Duh Fa, jangan sering senyum dong. Bahaya tau. Nanti banyak yang klepek-klepek sama lo," ujar Oji. "Termasuk ini nih, yang ada di belakang gue," ujar Oji lagi sambil menunjuk Bara dengan dagunya.
"Apaan sih Ji! Gak usah bawa-bawa pacar gue deh," sahut Fio sewot. Cewek itu terus mendekati Bara. Meskipun Bara tampak cuek di sebelahnya.
"Widihhh pacar," ujar Rian. "Yakin nih Bara mau jadi pacar lo?" tanya Rian dengan nada mengejek.
"Gue sama Bara udah balikan kalo lo semua lupa!" ucap Fio kesal.
"Pura-pura lupa aja deh biar seru," ujar Evva sengaja.
"Iya nih amnesia gue. Lo siapa gue siapa kita semua siapa," sahut Oji lalu tertawa tidak jelas. Terlalu receh memang.
"Jangan kaya gitu kasian dia," ucap Dimas mencoba menengahi.
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA [COMPLETED]
Dla nastolatków(SEGERA TERBIT) Albara Farren Zico, murid laki-laki dengan segudang masalah di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal Bara? Si troublemaker SMA Garuda yang adem dipandang mata. Tidak suka aturan, sukanya bolos, galak dan barbar seperti namanya. Tolon...
![BARA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/165023707-64-k906735.jpg)