"Kalo lo mau sembuh, berhenti mencari lebih banyak rasa sakit. Sekarang lo harus belajar menerima dan menghilangkan rasa dendam di hati lo." — Naiffa Claretta
*****
"Ini tempat makannya nggak kamu bawa sekalian?" tanya Merina disela-sela masaknya. "Lama-lama bisa abis loh. Masa Mama harus beli terus," katanya lagi.
"Ya aku lupa bawain Ma. Lagian kenapa sih uangnya gak ditransfer aja?" tanya Arthur yang sedang duduk di meja makan.
Beberapa hari ini Merina memang sering mengirim makanan ke Arthur melalui Ojek online. Tentu tanpa sepengetahuan Bara. Arthur sudah menceritakan hubungannya dengan Bram—papanya, sedang tidak baik. Ditambah lagi sekarang Arthur tinggal di kost, membuat Merina semakin tidak tega.
"Kalo Mama transfer kamu nggak bakal ke rumah buat nengokin Mama," ujar Merina.
"Lagian kalo Bara tau yang ada aku disalahin lagi. Dia gak suka aku disini," jawab Arthur mengingat hubungannya dengan Bara sangat tidak baik.
"Nggak semua hal adik mu perlu tau," ujar Merina.
"Yaudah mana sini uangnya Ma."
"Iya sebentar Mama ambilin. Uang segitu banyak buat apa sih?" tanya Merina sambil mematikan kompornya.
"Tapi habis ini janji ya, kamu makan dulu sama Mama," kata Merina lagi.
Belum sempat Merina melangkah pergi, suara seseorang dari pintu garasi rumah membuatnya berhenti. Wanita itu mematung saat mengetahui anak bungsunya baru saja pulang.
"Ada siapa Ma?" ucap Bara datang dari arah samping sambil melepas sepatunya.
Bara yang menyadari kehadiran Arthur menjadi tersulut emosi. Cowok itu langsung membanting tasnya ke bawah. Lalu menghampiri Arthur yang masih duduk di meja makan.
"Kan udah gue bilang lo gak usah dateng kesini lagi!" ujar Bara tidak suka.
"Bara ini rumah abangmu juga," tegur Merina.
"Mama gak inget apa yang dia lakuin ke Mama dulu? Sampe masuk rumah sakit!" seru Bara.
"Mama masuk rumah sakit itu karena gue," kata Arthur berdiri. "Keluarga kita hancur juga karena gue. Puas lo?" ujar Arthur berhadapan dengan Bara sekarang.
Bara sudah mengepalkan kedua tangannya sejak tadi. Amarahnya membuncah saat Arthur berani datang ke rumahnya. Tangan kiri Bara langsung mencengkeram kerah baju Arthur, sementara tangan satunya siap untuk melayangkan tinjuan.
Namun, belum sempat Bara menghajar cowok itu, Merina lebih dulu menahannya.
"Bara udah! Ingat Bara dia itu abangmu!" tegur Merina lagi, takut jika kedua anaknya terus-terusan berkelahi.
"Gue ini Kakak lo Bara," ujar Arthur tersenyum sarkas.
"Gue gak pernah anggap lo sebagai Kakak!" sentak Bara lalu mendorong Arthur ke belakang.
"Mama gak tau apa yang udah dia lakuin ke Naiffa?" tanya Bara. "Dia yang nyekap Naiffa buat nyari gara-gara sama Bara!" katanya lagi membuat Merina terdiam.
"Kenapa lo? Mau pukul gue? Pukul nih ayo pukul gue," ujar Arthur menepuk-nepuk wajahnya.
Merina sekarang berdiri di antara Arthur dan Bara. Wanita itu menatap Arthur tidak percaya.
"Arthur, adikmu gak mungkin bohong," ujar Merina dari nadanya terdengar kecewa. "Mama nggak pernah ngajarin seperti itu ke kamu."
"Pergi," suruh Merina namun Arthur masih diam. "Pergi dari sini!" tegas Merina.
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA [COMPLETED]
Ficção Adolescente(SEGERA TERBIT) Albara Farren Zico, murid laki-laki dengan segudang masalah di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal Bara? Si troublemaker SMA Garuda yang adem dipandang mata. Tidak suka aturan, sukanya bolos, galak dan barbar seperti namanya. Tolon...
![BARA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/165023707-64-k906735.jpg)