Naiffa masih menidurkan kepalanya di atas meja. Suasana kelasnya cukup sepi, karena ada beberapa yang pergi ke kantin dan ada beberapa yang duduk-duduk di luar. Saat ini Naiffa memang membutuhkan ketenangan.
Suara kursi ditarik dari samping tidak membuat Naiffa terganggu. Dia tidak memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Yang dia perlukan sekarang adalah menenangkan diri. Agar tidak menangis. Entahlah, sejak semalam dia menjadi cewek cengeng dan mudah badmood karena keputusan Malvino yang sepihak.
"Kenapa gak ke kantin?" ucap seorang cowok. Naiffa hafal betul suara ini. Siapa lagi kalau bukan Bara.
"Kata Evva lo belum makan sejak tadi pagi? Kenapa? Ntar lo sakit," lanjutnya Bara. Cowok itu memberi jeda agar Naiffa menjawab. Namun gadis itu tetap saja diam di posisinya.
Bara menghela napasnya. Lalu kembali bersuara.
"Gue bingung mau bawain apa buat lo. Jadi gue beli ini. Sekarang lo makan, sebelum bel bunyi!" Bara meletakan kantung plastik itu di samping Naiffa. Meskipun gadis itu masih menenggelamkan wajahnya.
Bara berdecak sebal. Naiffa masih saja mengabaikannya.
"Makan Fa buruan. Ntar lo sakit!" ketus Bara.
"Nanti gue makan lo pergi aja," ujar Naiffa lirih. Bahkan hanya terdengar seperti gumaman ditelinga Bara.
Bara mengerutkan keningnya. Melihat Naiffa seperti ini membuatnya teringat pada anak-anak yang sedang mengambek. Tinggal tunggu saja saat Naiffa akan menangis. Cowok itu tersenyum jahil.
"Lo mau nangis ya? Dih cengeng, kaya bocah lo ngambekan," ujar Bara sengaja. Biasanya saat dia meledek, Naiffa akan langsung berbicara panjang lebar kepadanya.
Benar saja, gadis itu langsung mengangkat kepalanya. Menatap Bara dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.
"Jangan ledekin gue. Gue jadi mau nangis beneran," ujar Naiffa. Suaranya terdengar seperti menahan tangis.
Bara menjadi bingung. Matanya masih menatap Naiffa intens. Padahal dia hanya bercanda. Dan Naiffa menganggap ini serius? Cowok itu menggaruk tengkuknya kikuk, bingung harus melakukan apa.
"Lo kenapa sih?" tanya Bara, sudah sejak tadi dia ingin bertanya.
Mendengar itu membuat Naiffa kembali ingin menangis. Matanya bahkan memerah karena menahan air matanya.
"Bang Malvin suruh gue buat jauhin lo," kata Naiffa dengan suara purau.
Bara mengerti sekarang, jadi ini masalahnya. Pantas saja Naiffa menjadi uring-uringan seperti ini. "Udah cepet makan," ujar Bara mendorong kantong plastik itu ke depan Naiffa.
"Lo bukan anak bayi yang harus disuapin! Kalo lo sakit siapa yang bantu gue selesein masalah ini?" celetuk Bara lagi. Membuat Naiffa mengerucutkan bibirnya. Menatap kesal ke arah Bara. Lalu mulai memakan cheese burger itu.
Bara tersenyum tipis. Walaupun Naiffa makan dengan wajah yang masih cemberut. Tapi, setidaknya gadis itu menuruti perintahnya.
"Lo tau dari mana gue suka cheese burger?" Naiffa mulai bertanya.
"Nebak aja," jawab Bara, Naiffa mengangguk samar. Lalu kembali menyantap makanannya.
"Malvino marah banget ya sama lo?" Kali ini Bara yang bertanya.
Tadinya, Naiffa ingin menjawab pertanyaan Bara. Tapi tertunda, karena matanya menangkap sosok Malvino masuk ke dalam kelasnya. Apalagi, pandangan mereka bertemu. Malvino menatapnya tidak suka saat melihat Bara bersamanya.
Pikiran Naiffa mulai kemana-mana. Pasti Malvino semakin marah kepadanya. Pasti Malvino berpikir dia selalu mendekati dan memikirkan Bara. Kali ini pasti Malvino tidak akan mudah memaafkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA [COMPLETED]
Teen Fiction(SEGERA TERBIT) Albara Farren Zico, murid laki-laki dengan segudang masalah di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal Bara? Si troublemaker SMA Garuda yang adem dipandang mata. Tidak suka aturan, sukanya bolos, galak dan barbar seperti namanya. Tolon...
![BARA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/165023707-64-k906735.jpg)